Ben Robani Blog

Hari 35: Jangan Underestimate People

Halo, Radikal 35.

Hari ini saya masih liburan sama keluarga. Jalan-jalan ke mall. Dan entah kenapa, kalau saya masuk mall, otak saya suka otomatis mikir: “kalau punya usaha, sebenarnya kita lagi lihat apa sih?”

Hari ini yang kepikiran adalah sales counter di toko-toko mewah.

Saya lihat toko branded itu cenderung sepi. Ada yang benar-benar kosong, ada yang cuma 1–2 orang. Tapi yang menarik bukan sepinya. Yang menarik itu cara menyambut orang.

Kadang kita masuk toko, dibiarkan. Nggak ada yang nyapa, nggak ada yang bantu. Kadang kebalikannya: kita diikutin mulu, padahal kita cuma mau lihat-lihat dulu. Dua-duanya bikin nggak enak.

Dari situ saya catat tiga hal.


1) Jangan underestimate people

Counter sepi itu bukan alasan buat nge-judge orang yang datang.

Kadang sales counter (atau siapa pun yang jaga) punya refleks: lihat orang sekilas, langsung “oh ini nggak mungkin beli.” Jadinya penjelasannya setengah hati, nggak dikasih respect, atau malah dibiarin aja.

Menurut saya itu salah.

Karena siapa tahu:

Intinya, tugas kita bukan menebak dompet orang. Tugas kita ya menjalankan tugas: menyambut dengan baik, jelas, dan tetap manusia.


2) Jadikan orang yang datang sebagai media latihan komunikasi

Yang kedua: orang yang datang itu kesempatan untuk belajar komunikasi.

Kadang sales sudah punya template di kepala: produk ini A, produk itu B. Tapi kalau nggak pernah dites, akhirnya blank juga. Begitu ada yang nanya, malah gagap. Atau jawabnya ngawang.

Saya kebayang ini kayak jualan online: live bisa sepi. Tapi begitu ada yang nanya, tugasnya ya menjelaskan. Kalau orang nanya malah di-ignore karena “kayaknya nggak jadi beli”, kita kehilangan dua hal sekaligus:

Counter yang sepi itu justru harusnya jadi tempat mengasah: cara nyapa, cara ngasih opsi, cara ngerti orang cari apa, cara ngejawab tanpa maksa.


3) Jangan ukur kerja counter cuma dari closing hari itu

Yang terakhir, saya mikir: saya nggak tahu skema di sales counter itu gimana—gajinya, targetnya, komisinya, dan lain-lain.

Tapi kalau kerja mereka semata-mata diukur dari “berapa yang closing di sini hari ini”, saya paham kenapa beberapa sales jadi buru-buru nge-judge dan buru-buru nge-push.

Padahal sales counter itu sering jadi bagian dari rantai panjang brand:
orang lihat, pegang, coba, ukur, bandingin, foto, mikir, pulang, baru beli nanti—bisa besok, bisa minggu depan, bisa di toko lain, bisa online.

Kalau yang diukur cuma “hari ini harus closing”, yang terjadi justru:

Di titik ini saya merasa kuncinya adalah cari pertengahan: jangan cuek, tapi juga jangan nempel.

Nyapa, tawarin bantuan, lalu kasih ruang.
Nanti cek lagi dengan cara yang enak.


Penutup

Hari ini saya belajar lagi: di toko mahal pun yang paling kerasa itu bukan dulu produknya—tapi sikapnya.

Dan kalau saya bawa pulang satu kalimat hari ini:
jangan underestimate people.

So, walaupun liburan, ya tetep dapet bahan tulisan.
Sampai jumpa besok.

Exit mobile version