Ben Robani Blog

Hari 34: Mall Masih Eksis

So, ini hari ke-34. Hari ini saya ngambil cuti. Saya masih liburan sama keluarga, jalan-jalan ke mall.Dan seperti biasa, kegiatan sederhana kayak di mall pun bikin kepala saya mikir: kalau orang punya usaha, dia lihat mall itu bukan cuma tempat belanja—tapi tempat ngeliat cara market bekerja.Ada tiga hal yang saya pelajari dari apa yang saya lihat dan rasakan hari ini.

1) Setelah gempuran online, mall masih rame.

Berarti market-nya ketemu.Kita udah hidup di era semua orang bisa belanja online. Tinggal scroll, checkout, besok sampai.Tapi hari ini saya lihat sendiri: mall itu masih eksis, masih rame pengunjungnya. Bahkan bukan di hari libur. Bahkan di jam-jam yang harusnya jam kerja.Buat saya ini bukti sederhana: kalau sesuatu dipasarkan dengan benar, dia akan ketemu market-nya.Dan ada alasan kenapa mall masih menang untuk beberapa kebutuhan manusia:orang pengen “keluar rumah” sekalian hiburan,pengen bersosialisasi,pengen lihat langsung, pegang langsung, nyoba langsung,pengen jalan sambil lihat kiri kanan,dan kalau cocok… pengen langsung dibawa pulang hari itu juga.Hal-hal kayak gini susah digantikan online. Jadi ya masuk akal kalau mall masih rame. Bukan karena orang nggak bisa online—tapi karena ada kebutuhan yang online nggak bisa kasih dengan rasa yang sama.

2) Mall makin bagus, sewa makin mahal, barang ikut makin mahal.

Segmentasinya kelihatan banget.Yang kedua: mall ini semakin bagus kualitasnya, semakin mahal sewanya.Saya muter-muter dari satu store ke store yang lain, dan ya… barang yang dijual mahal banget. Kadang rasanya jual satu-dua barang aja udah nutup gaji karyawan sebulan.Ada store yang sepi, ada yang ramai. Tapi saya yakin satu hal: di mall seperti ini, kalau brand bisa buka store, berarti mereka memang sudah punya:positioning,brand yang kuat,dan target market yang jelas.Dan saya jadi keinget: mall itu memang segmented banget. Orang ke mall itu bukan cuma “mau belanja”, tapi mereka sudah siap dengan harga-harga di dalamnya: makan mahal, main anak mahal, apalagi belanja.Bukan menilai orangnya ya—cuma kelihatan banget bahwa bisnis di mall itu mainnya bukan volume murah, tapi brand + margin + experience.

3) Viral itu nyata. Bahkan untuk yang offline.

Yang terakhir: saya lihat sendiri gimana viral itu bekerja.Dari banyaknya makanan, ada spot-spot yang ramai banget karena konten. Orang bisa ngantri beneran. Dan di sisi lain, ada brand yang dulu pernah viral—bulan lalu, tahun lalu—sekarang jadi biasa aja.Padahal dulunya juga seramai itu.Yang paling menarik: viral + akses digital itu bikin orang mau nyari sampai ke ujung. Ada tenant di pojok, lantai atas, lokasi “yang kalau berharap lewat doang ya susah”—tapi tetap dicari orang.Jadi pelajarannya jelas: sekalipun offline, kita tetap butuh “yang online” buat bantu orang nemu kita. Orang nggak nunggu lewat. Orang sekarang search.

Penutup

Walaupun hari ini cuti dan liburan, saya tetap pengen produktif dalam berkarya—minimal dengan mencatat pelajaran dari hal yang saya alami.Hari ini saya belajar lagi:mall masih rame bukan karena online gagal, tapi karena manusia punya kebutuhan yang lebih kompleks dari “beli barang”.So, itu aja recap hari ini. Sampai jumpa besok.

Exit mobile version