Ben Robani Blog

Hari 33: Hidup Nggak Selalu A atau B

So, hari ini kita mulai review dari Senin, mulai bulan baru. Kalau di-recap, hari ini tuh tipikal Senin: sedikit meeting, sedikit review, sedikit ngerjain kerjaan.

Tapi ada satu cerita gede yang nyangkut di kepala hari ini: kadang-kadang sesuatu itu kita anggap sebagai pilihan A atau B. Padahal sebenarnya masih bisa dicari titik tengahnya: A dengan sedikit B, atau B dengan sedikit A. Kadang malah bukan titik tengah—malah ketemu pilihan C.

Ini bukan soal “mempertemukan” dua kubu biar kelihatan damai. Lebih ke soal mengakomodasi realita: karena banyak keputusan itu isinya bukan hitam-putih. Dan hari ini aku kepikiran ada tiga hal yang sering bikin kita kejebak di A vs B.


1) Kita sulit memilih karena pro-kontra nya nggak ngasih pemenang yang dominan

Ada momen di mana kita sudah coba timbang-timbang, tapi hasilnya nggak mengarahkan ke “oh jelas A” atau “oh jelas B”.

Karena masing-masing punya elemen yang bagus, dan elemen yang… bikin ragu. Dan yang bikin susah, kadang elemen itu sifatnya saling melengkapi tapi juga saling diperlawankan. Jadinya kita macet.

Di kondisi kayak gini, yang lebih tepat kadang bukan “memilih salah satu”, tapi mengambil bagian baik-baiknya dari dua pilihan itu. Bukan karena kita nggak tegas, tapi karena memang nggak ada satu faktor dominan yang bisa kita unggulkan 100%.

Jadi bukan A atau B. Tapi: A, dengan sedikit B yang kita sadar dibutuhkan.
Atau B, dengan sedikit A biar nggak timpang.

Yang lucu, kadang kita merasa “kok jadi kayak kompromi”. Padahal yang terjadi sebenarnya: kita lagi berusaha bikin keputusan itu tetap bisa jalan di dunia nyata, bukan cuma menang di debat.


2) Kita sering ketipu sama judul, cover, atau namanya—bukan esensinya

Kadang problemnya bukan “milih A atau B”. Problemnya adalah kita cuma keburu ngunci pikiran karena label.

Karena cara menyampaikan, karena pengetahuan lama, karena referensi yang setengah, kita jadi merasa harus memilih: “ini atau itu”.

Padahal begitu dicek esensinya, ternyata ini bukan dua kubu yang saling meniadakan. Ini dua hal yang beda. Dan dua-duanya bisa benar di konteks masing-masing.

Jadi yang perlu dilakukan bukan langsung milih, tapi bongkar dulu esensinya:

Kadang ternyata kita cuma kejebak di “judulnya”, sementara isinya nggak sesederhana itu.


3) A atau B sering muncul setelah lepas dari konteks

Ini yang menurutku paling sering bikin keputusan terasa buntu: pilihan A atau B itu ditanyakan ke kita setelah lepas dari konteksnya.

Kita baru diajak “milih” ketika prosesnya sudah jalan, atau ketika masalahnya sudah keburu kebentuk. Dan waktu konteksnya digali, baru kelihatan: pantes aja kita nggak bisa milih, karena framing dari awalnya memang udah bikin dua pilihan itu sama-sama terasa nggak tepat.

Di situ biasanya muncul kebutuhan untuk cari pilihan C: solusi baru yang bisa mengakomodasi banyak hal.

Tapi kadang realitanya pahit: sudah terlanjur. Karena keputusan awal sudah dibuat tanpa kita dilibatkan, lalu di ujung baru kita diminta milih A atau B. Jadinya bukan lagi soal “mana yang terbaik”, tapi “gimana caranya ini tetap bisa diteruskan tanpa kebakaran”.

Senin tuh memang sering kayak gitu: baru mulai bulan, tapi sudah ditanya dua pilihan. Padahal kita masih pengen tanya balik: konteksnya apa dulu?


Penutup

Hari ini aku belajar lagi: banyak pilihan yang kelihatan A atau B itu sebenarnya bukan soal memilih salah satu. Kadang justru soal:

  1. mengambil bagian baik dari dua sisi karena nggak ada yang dominan,
  2. berhenti ketipu label dan cek esensi,
  3. dan minta konteks dulu sebelum dipaksa memilih.

So, kalau hari ini aku nggak langsung bisa jawab A atau B, bukan berarti aku menghindar. Bisa jadi aku lagi nyari cara supaya keputusan itu nggak cuma menang di kertas, tapi juga masuk akal di lapangan.

Sampai jumpa besok.

Exit mobile version