Hari ke-31 artinya satu bulan penuh strike. Alhamdulillah.
Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman belajar dan mengajar—tepatnya saya jadi murid dari dua guru yang berbeda, dan bedanya terasa banget. Dari situ saya jadi makin yakin:
Nggak semua orang yang pintar bisa jadi pengajar yang baik.
Bukan karena mereka nggak niat. Tapi karena mengajar itu skill yang berbeda dari sekadar bisa.
Ada tiga pelajaran yang saya tangkap.
1) Orang yang “langsung bisa” kadang sulit berempati
Ada tipe orang yang memang cepat nangkep. Banyak hal terasa mudah buat mereka. Mereka tidak mengalami “jalan terjal” yang dialami muridnya.
Akhirnya saat mengajar, mereka bisa frustrasi:
- “ini kan gampang”
- “kenapa sih nggak paham?”
- “harusnya tinggal gini…”
Padahal muridnya sedang berjuang di bagian yang bagi si guru sudah otomatis. Di titik ini, kadang orang yang pernah susah justru lebih mudah jadi guru yang baik—karena dia punya memori tentang bagaimana rasanya tidak paham.
2) Mengajar butuh skillset khusus
Menjadi guru/instruktur/pelatih itu bukan cuma “transfer ilmu”.
Itu butuh kemampuan:
- membaca kondisi murid (kendalanya di mana),
- memilih satu poin paling penting untuk didorong,
- menyesuaikan ritme,
- mengukur progres bukan dari standar pribadi, tapi dari perkembangan murid.
Guru yang bagus itu bukan yang “mengajar banyak”, tapi yang “mengajar tepat”.
Karena murid itu nggak seragam. Ada yang butuh praktek, ada yang butuh contoh, ada yang butuh diulang, ada yang butuh ditenangkan dulu.
3) Ukuran keberhasilan belajar bukan pengalaman si guru, tapi kebutuhan si murid
Ada jebakan halus: guru menilai murid dari kacamata dirinya sendiri.
Orang yang tidak pernah kesulitan matematika, misalnya, kadang bingung melihat ada orang yang kesulitan di konsep dasar. Bukan karena dia jahat, tapi karena dia tidak punya referensi pengalaman itu.
Akhirnya, yang dipakai jadi tolok ukur adalah:
- “saya dulu bisa”
bukan: - “dia butuh apa supaya bisa”
Dan itu yang bikin proses mengajar jadi tidak nyambung.
Penutup
Hari ini saya belajar ulang: pintar itu bukan otomatis bisa mengajar.
Mengajar itu profesi—atau setidaknya kemampuan—yang butuh:
- empati,
- membaca murid,
- menyesuaikan pendekatan,
- kesabaran,
- dan pengalaman mendampingi manusia bertumbuh.
Semoga saya bisa jadi murid yang lebih terbuka, dan kalau suatu saat mengajar orang lain, saya bisa lebih fokus pada orang di depan saya, bukan hanya pada standar saya.