Ben Robani Blog

Hari 300: Sampai Hari 300

Yeah, alhamdulillah.

Apa yang saya lakukan setiap hari akhirnya sampai juga di hari ke-300.

Waktu mulai, saya sebenarnya tidak pernah membayangkan series ini akan berjalan sepanjang ini.

Tidak ada stok tulisan untuk 30 hari.

Tidak ada satu malam khusus untuk membuat banyak konten lalu tinggal dijadwalkan.

Justru dari awal aturannya sederhana:

setiap hari, tulis sesuatu dari apa yang benar-benar terjadi hari itu.

Hari itu ada apa?

Saya belajar apa?

Apa yang membuat saya kepikiran?

Lalu ditulis.

Makanya ada hari yang gampang sekali.

Ada meeting menarik.

Ada kejadian tertentu.

Ada sesuatu yang langsung terasa punya tiga learning.

Tapi ada juga hari yang rasanya tidak terjadi apa-apa.

Hari biasa.

Tidak ada momen besar.

Dan justru di situ saya harus benar-benar mencari: hari ini sebenarnya saya belajar apa?

Sekarang ternyata sudah sampai 300 hari.

Buat saya pribadi, ini bukan cuma soal jumlah kontennya.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari mencoba terus mengerjakannya.

1. Konsisten bukan berarti sempurna

Kalau ditanya apakah 300 hari ini berjalan sempurna setiap hari?

Tidak juga.

Karena semuanya saya kerjakan di luar jam kerja.

Ada hari ketika capek.

Ada saat ketiduran.

Ada ketika sedang perjalanan.

Ada beberapa momen di tengah tahun yang bahkan sempat hilang cukup lama.

Belakangan sudah lebih baik.

Kalau pun miss, biasanya hanya dua atau tiga hari.

Bukan karena sudah tidak ingin melanjutkan.

Kadang memang tidak ada kesempatan untuk mengerjakannya.

Dari sana saya justru belajar bahwa konsistensi tidak harus diterjemahkan sebagai tidak pernah gagal satu hari pun.

Kalau memang tidak bisa, ya tidak apa-apa.

Yang penting jangan karena satu hari terlewat lalu semuanya dianggap selesai.

Besok lanjut lagi.

Kalau harus mengejar, ya kejar.

Kalau perlu sedikit toleransi terhadap diri sendiri, ya lakukan.

Karena mungkin konsistensi bukan soal punya streak yang sempurna.

Tapi soal terus kembali.

2. Sudah mulai, jadi sayang berhenti

Saya juga tidak bisa memungkiri ada faktor lain.

Rasa nanggung.

Rasa sayang.

Eman-eman.

Ketika baru mulai, berhenti mungkin terasa gampang.

Tapi ketika sudah sampai 100 hari, rasanya:

“Wah, sudah sejauh ini.”

Ketika sampai 200:

“Sebentar lagi 300.”

Lalu angka berikutnya mulai terlihat dekat.

Ada dorongan sederhana untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai.

Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa memulai itu penting.

Karena setiap progress kecil yang terkumpul akhirnya menciptakan alasan baru untuk terus berjalan.

Kita tidak lagi cuma mengandalkan motivasi awal.

Ada perjalanan di belakang yang membuat kita merasa sayang kalau semuanya berhenti begitu saja.

Jadi kadang caranya memang bukan memastikan dari awal kita punya motivasi untuk berjalan 300 hari.

Mulai satu hari dulu.

Lalu hari kedua.

Lalu terus tambah satu lagi.

Sampai suatu hari menoleh ke belakang dan ternyata sudah sejauh ini.

3. Pilih tujuan yang bisa dikontrol

Hal terakhir mungkin justru yang paling membantu saya bertahan.

Tujuan dari series ini sejak awal bukan viral.

Bukan mendapatkan sekian followers.

Bukan mengejar engagement tertentu.

Kalau tujuannya itu, mungkin saya sudah kecewa jauh sebelum hari ke-300.

Karena respons orang lain tidak sepenuhnya bisa saya kontrol.

Kita bisa menulis sesuatu yang menurut kita bagus, lalu tidak ada yang peduli.

Bisa juga membuat sesuatu sederhana, ternyata justru lebih banyak yang membaca.

Sulit ditebak.

Makanya tujuan saya lebih sederhana:

saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa konsisten.

Saya ingin melatih disiplin untuk menemukan pembelajaran dari hari yang saya jalani.

Itu sesuatu yang jauh lebih bisa saya kontrol.

Saya bisa menentukan apakah hari ini menulis atau tidak.

Saya bisa memilih untuk kembali setelah sempat terlewat.

Saya bisa terus melatih cara berpikir dan cara menuangkan pengalaman.

Dan kalau tujuan utamanya masih sesuatu yang berada di tangan sendiri, rasanya jauh lebih mudah untuk terus berjalan.

Sebelum meminta orang lain

Hari ke-300 ini rasanya ingin saya dedikasikan juga untuk tim saya.

Karena sebagai pemimpin, saya sering meminta orang lain untuk berubah.

Untuk belajar.

Untuk lebih disiplin.

Untuk berkembang.

Untuk memperbaiki diri.

Tapi rasanya tidak fair kalau semua itu hanya menjadi tuntutan kepada orang lain.

Saya juga harus berada di barisan yang sama.

Kalau saya meminta orang konsisten, saya juga harus belajar konsisten.

Kalau saya meminta orang tumbuh, saya juga harus terus mencari ruang untuk tumbuh.

Kalau saya berharap mereka menjadi lebih baik daripada kemarin, saya pun seharusnya punya standar yang sama terhadap diri sendiri.

Mungkin series 300 hari ini kecil.

Tidak mengubah dunia.

Tidak selalu menghasilkan tulisan yang hebat.

Ada yang bagus.

Ada yang biasa.

Ada juga yang mungkin ketika dibaca lagi nanti saya sendiri akan bertanya kenapa pernah menulis itu.

Tapi setidaknya ada 300 hari di mana saya terus mencoba melihat sesuatu, memikirkannya, lalu menuliskannya.

Dan ternyata sesuatu yang awalnya terasa panjang bisa selesai juga ketika dikerjakan satu hari demi satu hari.

Alhamdulillah, sampai hari 300.

Besok ya 301.

Karena sebelum meminta orang lain untuk terus bertumbuh, semoga saya juga tetap menjadi salah satu orang pertama yang mau menjalaninya.

Exit mobile version