Hari ini Jumat, minggu terakhir, dan saya melakukan satu aktivitas yang (harusnya) jadi rutinitas: review planning.
Kami melihat lagi rencana yang ditulis di awal bulan, lalu mengukur: yang jalan apa, yang ketunda apa, yang gagal apa, dan kenapa.
Dari proses itu, saya dapat tiga pelajaran sederhana tentang planning—terutama buat orang-orang yang hidupnya sering “ketabrak hal baru”.
1) Planning sering gagal karena kita lupa menghitung “disruption”
Sering kali kita menyusun rencana seperti hidup itu stabil dan bisa diprediksi.
Kita menulis ABC…
tapi realitanya bulan itu habis untuk DEF-JK-LMN—hal-hal baru, urgent, dan mendadak.
Bukan berarti planning-nya tidak penting. Justru berarti planning-nya kurang jujur.
Pelajaran saya: saat membuat rencana, kita harus sadar ada dua jenis pekerjaan:
- yang bisa kita kontrol (planned work),
- yang pasti mengganggu (reactive work / request / ad-hoc).
Kalau kita nggak “memasukkan ruang” untuk gangguan, rencana itu dari awal sudah fiksi.
Dan justru review bulan Januari membantu: kita bisa lihat pola gangguannya datang dari mana saja, lalu bulan berikutnya kita lebih siap dan lebih realistis.
2) Rencana yang kepanjangan itu bukan produktif—itu “optimisme tanpa sumber daya”
Ada metode planning yang sering membuat orang merasa baik di awal:
tulis banyak-banyak dulu, kerjakan belakangan.
Masalahnya, ini sering absurd.
Karena rencana itu akhirnya seperti list “keren banget”…
tapi tidak nyambung sama kenyataan sumber daya: waktu, energi, kapasitas tim.
Rencana yang bagus bukan yang terlihat penuh.
Rencana yang bagus adalah yang jalan.
Jadi buat saya, prinsipnya:
Tulis rencana sesuai kemampuan, bukan sesuai ambisi.
Kalau dari awal kita tahu tidak mungkin semua jalan bareng, berarti kita sudah menuliskan kegagalan dalam bentuk bullet points.
3) Tidak semua role cocok dengan planning bulanan—ada yang hidupnya reaktif
Ini pelajaran yang paling penting dari evaluasi Januari:
kita harus paham sifat pekerjaan kita dominan di mana.
Ada orang (atau role) yang pekerjaannya:
- banyak menerima request,
- banyak respond ad-hoc,
- banyak “menunggu bola” dari pihak lain.
Buat tipe kerja seperti ini, planning bulanan kadang terasa “nggak kena”.
Bukan karena orangnya buruk, tapi karena model kerjanya memang reaktif.
Solusinya bisa beda:
- bukan membuat plan bulanan yang detail,
- tapi memantau kapasitas harian: hari ini muat berapa, dan apa yang harus dikunci dulu.
Kadang yang paling realistis adalah sistem harian yang rapih, bukan rencana besar yang terus-menerus gagal karena realita kerjaannya memang dinamis.
Penutup
Hari ini saya belajar lagi: planning itu bukan soal bikin daftar panjang, tapi soal membuat rencana yang:
- sadar akan gangguan yang pasti datang,
- sesuai kapasitas, bukan sekadar ambisi,
- cocok dengan jenis kerja—proaktif atau reaktif.
Rencana yang benar itu bukan yang membuat kita merasa “hebat” di awal bulan.
Tapi yang membuat kita bisa berkata di akhir bulan:
“ini jalan, ini ketunda, ini direvisi—dan saya tahu kenapanya.”
Sampai jumpa besok.