Hari ini saya mencoba mempelajari masukan-masukan yang diberikan oleh karyawan.
Di perusahaan, kami memang punya satu sesi khusus di mana karyawan boleh memberikan masukan dan saran.
Bisa tentang bisnis.
Bisa tentang budaya.
Bisa tentang apa pun yang menurut mereka perlu diperbaiki.
Alasan saya sebenarnya sederhana.
Kalau seseorang punya kepentingan terhadap sesuatu, harusnya dia juga punya ruang untuk menyuarakan kepentingannya.
Masalahnya, ternyata membangun kebiasaan seperti ini tidak semudah membuat satu form lalu berharap semua orang tiba-tiba rajin memberi masukan.
Tetap perlu diedukasi.
Perlu dibiasakan.
Perlu dibuat menjadi ritual.
Karena memberi feedback, mengkritisi sesuatu, lalu menawarkan perbaikan ternyata juga sebuah kebiasaan yang harus dilatih.
Dari proses hari ini, ada tiga hal yang saya pelajari.
1. Ownership datang dari keterlibatan
Kalau kita ingin seseorang punya rasa memiliki terhadap sesuatu, menurut saya salah satu cara paling kuat adalah memberi dia akses untuk memperbaikinya.
Tidak cukup hanya mengatakan:
“Ini perusahaan kita.”
“Ini tanggung jawab kita bersama.”
“Semua harus punya ownership.”
Kalau setelah itu orang tidak punya ruang untuk memengaruhi apa pun, rasa memiliki itu sulit tumbuh.
Menurut saya ownership justru muncul ketika seseorang terlibat.
Dia bisa melihat sesuatu yang kurang.
Bisa bilang ada yang tidak tepat.
Bisa mengusulkan alternatif.
Bahkan bisa ikut mendorong perubahan.
Dari sana dia tidak cuma menjadi orang yang menerima kondisi perusahaan.
Dia ikut membentuknya.
Dan menurut saya itu jauh lebih kuat daripada sekadar meminta orang untuk peduli.
2. Hal sulit perlu insentif
Masalahnya, memberi masukan tidak selalu terasa mudah.
Orang harus berpikir.
Harus memperhatikan.
Harus berani menyampaikan sesuatu yang mungkin berbeda.
Harus meluangkan waktu.
Makanya saya merasa hal seperti ini juga perlu diberikan insentif.
Kami bahkan memberikan bentuk apresiasi yang sederhana.
Misalnya makan siang gratis untuk orang yang memberi masukan.
Kalau ternyata sarannya dicoba, dijalankan, lalu membawa hasil yang signifikan, tentu apresiasinya bisa lebih besar lagi.
Bukan karena semua hal harus dibayar.
Tapi menurut saya insentif bisa menjadi trigger untuk membentuk kebiasaan yang kita anggap penting.
Kita menunjukkan bahwa pemikiran seseorang punya nilai.
Bahwa memberi masukan bukan aktivitas tambahan yang tidak dianggap.
Ada penghargaan terhadap waktu dan pikiran yang mereka keluarkan.
3. Feedback harus punya ujung
Saya juga berpikir salah satu alasan orang berhenti memberi saran adalah karena pengalaman sebelumnya.
Sudah pernah bicara.
Tidak ada respons.
Sudah pernah memberi masukan.
Tidak tahu kelanjutannya.
Sudah isi form.
Lalu hilang begitu saja.
Kalau berulang seperti itu, wajar kalau akhirnya orang berpikir:
“Ngapain kasih saran lagi?”
Makanya saya punya kebiasaan setelah semua masukan terkumpul, saya baca satu-satu.
Saya lihat apa yang sebenarnya mereka sampaikan.
Saya kasih komentar.
Kalau bagus, saya dorong untuk dicoba.
Kalau butuh fasilitas, kita lihat apa yang bisa disediakan.
Kalau memang tidak bisa dilakukan, setidaknya orang tahu kenapa.
Menurut saya ini penting.
Karena feedback tanpa respons hanya berubah menjadi kotak saran yang semakin lama semakin sepi.
Orang perlu tahu bahwa suaranya benar-benar masuk ke proses.
Jangan cuma minta peduli
Saya akhirnya melihat bahwa budaya memberi masukan bukan sekadar soal membuka kanal.
Kita tidak bisa cuma bilang:
“Silakan kasih feedback.”
Lalu berhenti di sana.
Kalau ingin membangun ownership, orang perlu dilibatkan.
Kalau kebiasaannya belum terbentuk, mungkin perlu diberi trigger.
Dan kalau orang sudah mau bicara, suaranya juga harus benar-benar ditanggapi.
Saya berharap ritual seperti ini bisa membuat perubahan tidak selalu harus datang dari atas.
Tidak selalu menunggu masalah membesar.
Tidak selalu menunggu kondisi memaksa kita untuk berubah.
Tapi orang-orang di dalam perusahaan sendiri terbiasa melihat apa yang kurang, mengusulkan sesuatu, lalu ikut mendorong perbaikannya.
Karena pada akhirnya rasa memiliki tidak tumbuh hanya karena kita menyebut sesuatu sebagai “milik bersama”.
Ownership tumbuh ketika orang benar-benar diberi ruang untuk ikut memperbaiki apa yang mereka miliki.