Hari ini saya mengulang satu topik yang (jujur) terasa seperti deja vu: pentingnya berterima kasih.
Tahun lalu saya sudah membahas ini di awal tahun. Dan tahun ini saya mengulang lagi—dengan kasus yang mirip. Yang bikin saya kepikiran bukan semata-mata karena ada orang yang tidak bilang “terima kasih”, tapi karena saya mendapati kenyataan yang agak mengganggu: kok pelajaran yang sama perlu diulang di waktu yang sama, hanya beda tahunnya?
Saya selalu percaya ada tiga kalimat dasar yang jadi “fondasi hidup sosial”:
- Terima kasih
- Maaf
- Tolong
Keliatannya basic. Tapi dampaknya besar. Dan justru karena terasa basic, kita sering menganggapnya tidak penting—padahal di situlah banyak relasi retak secara pelan-pelan.
Tapi biar adil, saya coba berempati: kenapa sih orang kesulitan mengucapkan terima kasih? Apa yang terjadi di kepala seseorang sampai “terima kasih” nggak keluar secara natural?
Saya menemukan tiga kemungkinan.
1) Karena menurutnya “belum pantas” untuk dikasih terima kasih (threshold-nya beda)
Setiap orang punya standar—garis batas—tentang apa yang layak diapresiasi.
Ada orang yang merasa:
- “itu kan memang tugasmu,” jadi ngapain bilang terima kasih?
- “itu kan transaksi,” saya sudah bayar, jadi selesai.
- “itu hal kecil,” belum layak dipuji.
Contoh paling umum: jual-beli.
Ada orang merasa, “kalau saya sudah bayar, ya saya nggak perlu bilang terima kasih.” Di kepalanya, pembayaran = penutup interaksi.
Padahal, sisi lain dari itu: “terima kasih” bukan selalu soal nilai ekonominya, tapi soal pengakuan bahwa orang lain sudah memberikan layanan, waktu, atau perhatian.
Tapi ya, saya bisa memahami: kadang orang tidak bilang terima kasih bukan karena jahat, tapi karena standar kepantasannya belum terlewati.
2) Karena mau bilang, tapi kebanyakan mikir “gimana ya?”
Ini tipe orang yang sebenarnya ingin mengapresiasi, tapi kepalanya penuh:
- “Kalau saya bilang sekarang, telat nggak ya?”
- “Kalau saya bilang, orangnya malah aneh nggak ya?”
- “Kok kayaknya cringe ya?”
- “Orangnya senang nggak ya diapresiasi?”
Akhirnya niat baik itu kalah sama overthinking.
Padahal kenyataannya sederhana:
jarang ada orang marah karena diucapkan terima kasih. Bahkan kalau telat pun, biasanya tetap diterima.
Dan kalau di dalam diri kita terasa “kok ada yang salah ya kalau saya diam,” itu sebenarnya sudah alarm bahwa kita perlu bilang.
Terima kasih itu bukan ujian public speaking. Itu reaksi manusiawi.
3) Karena cara “mengapresiasi” tiap orang beda
Ada orang yang tidak mengekspresikan terima kasih lewat kata-kata, tapi lewat tindakan:
- dia membalas dengan effort,
- dia memperbaiki kerja,
- dia membantu balik,
- dia menunjukkan loyalitas.
Kalau pakai analogi populer, mungkin ini semacam “bahasa apresiasi”: ada yang verbal, ada yang tindakan.
Masalahnya, kadang pihak yang sudah membantu itu butuh penutup yang sederhana: pengakuan. Dan pengakuan paling cepat ya kata “terima kasih.”
Jadi bisa saja dua orang sama-sama baik, tapi saling gagal memahami bentuk apresiasi yang diharapkan.
Penutup: apapun alasannya, “terima kasih” tetap bahasa dasar
Saya tetap percaya: apapun alasan di baliknya, “terima kasih” itu adalah basic language dalam interaksi sosial.
Karena terima kasih adalah respons.
Ada hal baik yang kita terima, ada kontribusi orang lain yang menimpa hidup kita, lalu kita membalas dengan pengakuan kecil: “saya lihat, saya sadar, saya menghargai.”
Yang bikin saya kepikiran hari ini bukan hanya soal ada orang yang lupa berterima kasih. Tapi juga refleksi buat saya sendiri:
Kalau hal yang sama muncul di awal tahun, di tahun berbeda,
jangan-jangan cara saya mengajarkannya juga belum nyampe.
Mungkin saya perlu cara yang lebih sederhana. Atau lebih konsisten. Atau lebih “nyambung” ke kehidupan mereka.
Semoga tulisan ini jadi pengingat yang lembut:
kalau ada orang yang memudahkan hidup kita hari ini—sekecil apa pun—cobalah bilang:
Terima kasih.
Karena kadang tiga kata itu bisa jadi pembeda antara kerja bareng yang biasa saja… dan relasi yang saling menjaga.