Ben Robani Blog

Hari 25: Buku 3 – Surrounded by Idiots — Empat Warna, Empat Cara Ngobrol

Hari Minggu, ritualnya lanjut lagi: satu minggu, satu buku—lalu saya bikin catatan supaya minggu-minggu berikutnya saya nggak cuma bilang, “kemarin baca buku bagus,” tapi lupa isinya.

Minggu ini saya selesai baca Surrounded by Idiots karya Thomas Erikson. Judulnya jelas clickbait dan agak nyolot—dan justru itu yang bikin saya pengin baca. Soalnya ya… kadang kita memang merasa “kok orang-orang di sekitar saya aneh-aneh ya?” (dan yang lebih jujur: kadang orang lain juga mungkin ngerasa hal yang sama tentang kita).

Yang menarik, buku ini punya gaya penulisan yang beda dari buku-buku yang biasa saya baca. Rasanya bukan “pembukaan panjang” lalu “landasan riset” yang bikin kepala panas duluan. Ini lebih seperti: langsung muntahan fakta + contoh + pengamatan, dan itu bikin bacanya cepat.

Saya rangkum jadi tiga takeaway utama.


1) Konsep “manusia itu berwarna” bikin realita jadi lebih kebaca

Buku ini membagi tipe perilaku manusia ke dalam empat warna:

Sepanjang baca, saya sering berhenti sebentar karena refleks mikir:
“oh ini si A banget,” atau “ini tim saya yang itu banget,” atau… “waduh ini saya juga kadang begitu.”

Buat saya, kekuatan konsep “warna” ini bukan karena dia 100% presisi—tapi karena dia memberi peta sederhana untuk memahami ragam perilaku, supaya kita nggak setiap saat kaget: “kok orangnya gitu sih?”


2) Buku ini nggak berhenti di “label”, tapi ngajarin cara “dealing”

Ini bagian yang paling terasa manfaatnya.

Banyak teori kepribadian berhenti di diagnosa: ini orangnya begini.
Tapi Erikson masuk ke step berikutnya: terus gimana cara ngomongnya?

Buku ini membahas cara mengenali ciri-ciri (bahkan sampai gesture, cara bicara, cara menulis), lalu masuk ke praktik:

Dan ini mengingatkan saya pada satu hal yang dulu saya percaya: “perlakukan semua orang sama.”
Ternyata di praktiknya, memperlakukan semua orang sama bisa jadi bentuk ketidakpekaan, karena kebutuhan komunikasi tiap orang beda.

Yang saya tangkap dari buku ini:
adil itu bukan selalu sama rata. Adil itu pas.


3) Ini bukan ajakan membeda-bedakan secara buruk—tapi pengingat bahwa orang memang beda

Saya suka karena buku ini mengarah ke perspektif yang menurut saya sehat:

Bukan buat jadi alat menghakimi (“ah kamu merah makanya nyebelin”), tapi buat jadi alat memahami (“oh kamu merah, pantes kamu butuh straight-to-the-point”).

Dan buat saya pribadi, buku ini jadi “balik arah” ke ketertarikan lama saya: isu manusia, perilaku, sosial, dinamika tim. Karena saya memimpin organisasi dengan puluhan orang, dan faktanya: kita nggak kerja dengan manusia yang seragam.

Kalau kita ngotot menyamakan semua orang, yang terjadi biasanya dua:

Buku ini menguatkan hal sederhana:
orang beda—dan itu normal.
Tugas kita bukan menghapus bedanya, tapi menemukan cara komunikasi yang membuat beda itu tetap bisa kerja bareng.


Penutup: judulnya kasar, tapi isinya bikin kita lebih waras

Apakah buku ini sempurna? Nggak perlu juga diperlakukan sebagai kitab. Tapi buat saya, ini buku yang “usable”—gampang dipakai untuk refleksi harian, terutama untuk komunikasi di tim, relasi, dan kerja bareng orang yang gaya bicaranya beda jauh.

Dan yang paling lucu: setelah selesai baca, saya jadi kepikiran…
mungkin bukan kita “dikelilingi idiot”, tapi kita belum punya peta untuk membaca orang lain.

Minggu depan lanjut buku berikutnya.

Exit mobile version