Hari ini di sesi internal saya membahas sesuatu yang sebenarnya cukup dekat dengan cara saya memimpin selama ini: jangan cuma melakukan yang baik, tapi juga yang benar.
Saya termasuk orang yang cukup sering memilih pendekatan kebaikan. Kalau ada beberapa pilihan, saya cenderung memilih yang paling enak diterima orang, paling minim konflik, dan kalau bisa semua orang pulang dengan perasaan baik-baik saja.
Pendekatan seperti itu tentu tidak salah.
Masalahnya, semakin ke sini saya sadar bahwa baik saja ternyata tidak cukup.
Kadang sesuatu yang kelihatannya baik justru membiarkan kesalahan terulang. Kadang niat menjaga perasaan membuat standar jadi kabur. Kadang karena kita ingin semua orang nyaman, orang yang sudah melakukan hal dengan benar malah merasa tidak diperlakukan adil.
Di situlah saya belajar bahwa kebaikan dan kebenaran sebenarnya tidak boleh dipisahkan.
1. Tetap Pilih yang Baik
Saya masih percaya bahwa sebisa mungkin kita harus memilih jalan yang baik.
Berbuat baik membuat hati jauh lebih tenang. Ketika harus mengambil keputusan sulit, setidaknya kita tahu bahwa keputusan tersebut tidak lahir dari niat menyakiti, mempermalukan, atau sekadar menunjukkan kekuasaan.
Ini penting, terutama ketika kita punya posisi yang memberi pengaruh kepada orang lain.
Karena sebenarnya sangat mudah menggunakan alasan “saya benar” untuk kemudian bersikap kasar.
Padahal sesuatu yang benar tidak otomatis membenarkan semua cara.
Bagi saya, kebaikan tetap harus menjadi dasar. Kita bisa menegur tanpa merendahkan. Bisa memberi konsekuensi tanpa mempermalukan. Bisa mengatakan tidak tanpa harus membuat orang kehilangan harga dirinya.
Kalau ada dua cara yang sama-sama benar, saya akan tetap memilih yang lebih baik.
2. Kebaikan Bisa Menjadi Pembiaran
Masalah mulai muncul ketika kita mengartikan baik sebagai membuat semua orang senang.
Kita tidak menegur karena takut dianggap galak. Kita tidak memberi konsekuensi karena takut orang tersinggung. Kita membiarkan pelanggaran kecil karena berpikir, “Ya sudah, sekali ini saja.”
Padahal satu kali yang terus dibiarkan lama-lama berubah menjadi kebiasaan.
Lebih rumit lagi, orang lain ikut melihat.
Orang yang menaati aturan mulai bertanya kenapa mereka repot-repot patuh kalau yang tidak patuh juga tidak mendapatkan apa-apa. Orang yang melakukan sesuatu dengan benar bisa merasa dirinya justru bodoh karena sistem memperlakukan semuanya sama.
Di titik itu, kebaikan yang tidak ditemani kebenaran malah menghasilkan ketidakadilan.
Saya sendiri cukup sering jatuh ke jebakan ini.
Kadang karena ingin menjaga hubungan. Kadang karena tidak ingin suasana menjadi buruk. Kadang mungkin juga karena pendekatan yang populer jauh lebih nyaman dilakukan dibanding harus mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar orang.
Tetapi membiarkan kesalahan bukan selalu bentuk kebaikan.
Kadang itu hanya bentuk penundaan masalah.
3. Benar dan Baik Harus Bersama
Karena itu saya sekarang semakin percaya bahwa baik dan benar bukan dua pilihan.
Keduanya harus berjalan bersama.
Kebaikan seharusnya menjadi cara kita menjalankan kebenaran. Kebenaran seharusnya menjadi dasar supaya kebaikan kita tidak berubah menjadi sekadar menyenangkan orang.
Tentu saja tidak semua orang akan menyukai sesuatu yang benar.
Orang yang melakukan kesalahan mungkin tidak suka ditegur. Orang yang terkena konsekuensi mungkin merasa keputusan kita tidak menyenangkan. Itu bagian yang sulit.
Tetapi kalau sesuatu yang salah terus kita perlakukan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, pesannya menjadi berbahaya.
Yang salah bisa mengira dirinya benar.
Yang benar bisa mulai mempertanyakan kenapa harus tetap benar.
Dan organisasi perlahan-lahan belajar bahwa standar sebenarnya tidak terlalu penting.
Menurut saya, inilah alasan kenapa keputusan pemimpin kadang memang tidak populer.
Bukan karena pemimpin harus senang membuat orang tidak nyaman, tetapi karena popularitas tidak boleh menjadi ukuran utama untuk menentukan benar atau salah.
Jangan Pilih Salah Satu
Refleksi saya hari ini sederhana: saya tetap ingin menjadi orang yang memilih kebaikan.
Saya tidak ingin kebenaran menjadi alasan untuk kasar, menghukum berlebihan, atau kehilangan empati.
Tetapi saya juga tidak ingin kebaikan menjadi alasan untuk membiarkan sesuatu yang seharusnya diperbaiki.
Karena kebaikan tanpa kebenaran bisa berubah menjadi pembiaran. Kebenaran tanpa kebaikan bisa berubah menjadi kekerasan.
Mungkin tantangannya bukan memilih salah satu.
Tantangannya justru menjalankan sesuatu yang benar dengan cara yang tetap baik.