Ben Robani Blog

Hari 244: Dewasa Bukan Soal Umur

Hari ini saya ngobrol dengan salah satu anak magang. Entah bagaimana, topiknya sampai ke soal kedewasaan.

Topik yang sebenarnya lumayan berat. Tapi karena sudah muncul, ya masa enggak dibahas.

Saya kemudian kepikiran: sebenarnya apa sih yang membuat seseorang bisa disebut dewasa?

Kita sering menggunakan kata “kekanak-kanakan” untuk menyebut seseorang yang menurut kita belum dewasa. Berarti, kalau anak-anak adalah kebalikannya orang dewasa, seharusnya ada sesuatu yang berubah selain sekadar jumlah lilin di kue ulang tahun.

Sampai hari ini, setidaknya ada tiga hal yang saya percaya tentang kedewasaan.

1. Dewasa Bukan Usia

Umur mungkin membuat seseorang semakin tua. Tapi belum tentu membuatnya semakin dewasa.

Ada orang yang masih remaja, tetapi keadaan memaksanya mengambil tanggung jawab yang besar. Orang tuanya mungkin sudah tidak ada, keluarganya berpisah, atau ada kondisi tertentu yang membuat dia harus mengurus dirinya sendiri sekaligus memikirkan orang lain.

Mau tidak mau, dia belajar mengambil keputusan.

Belajar menanggung risiko.

Belajar bahwa kalau dia tidak bergerak, mungkin memang tidak ada orang lain yang akan membereskan hidupnya.

Sebaliknya, bisa saja seseorang sudah berusia 30 atau 40 tahun tetapi masih sepenuhnya bergantung pada orang lain. Bahkan keputusan tentang apa yang sebenarnya dia inginkan masih harus ditentukan orang lain.

Bukan berarti tinggal bersama orang tua atau meminta bantuan otomatis membuat seseorang tidak dewasa. Bukan itu poinnya.

Menurut saya, kedewasaan lebih dekat dengan kemampuan mengambil kepemilikan atas hidup sendiri.

Berapa pun umurnya.

2. Dewasa Mengenal Konsekuensi

Anak kecil melakukan sesuatu karena ingin melakukannya.

Kalau mainannya rusak, mungkin dia menangis.

Kalau berbuat salah, mungkin refleks pertamanya mencari siapa yang bisa disalahkan.

Wajar. Karena mereka memang masih belajar bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi.

Orang dewasa seharusnya mulai berpikir berbeda.

Saya memilih ini, konsekuensinya apa?

Saya mengatakan ini, dampaknya ke orang lain bagaimana?

Saya membuat kesalahan ini, apa yang harus saya lakukan setelahnya?

Di titik itu, kedewasaan bukan lagi tentang tidak pernah membuat masalah. Orang dewasa juga salah. Saya juga berkali-kali salah mengambil keputusan.

Bedanya adalah apa yang kita lakukan setelah masalah itu muncul.

Apakah berhenti pada, “Ya kondisinya memang begini.”

Atau mulai bertanya, “Oke, lalu apa yang bisa saya lakukan?”

Menurut saya, salah satu tanda kedewasaan adalah berhenti hanya menjadi korban keadaan dan mulai mengambil bagian dalam penyelesaiannya.

Bukan karena semua masalah adalah salah kita.

Tapi karena hidup kita tetap menjadi tanggung jawab kita.

3. Tantangan Memaksa Kita Tumbuh

Menariknya, menjadi dewasa jauh lebih gampang ketika keadaan ikut memaksa.

Dari kecil kita sekolah. Lalu naik jenjang. Kuliah. Mulai bekerja. Menikah. Mungkin kemudian punya anak.

Setiap fase membawa tanggung jawab baru.

Tiba-tiba kita harus bangun sendiri.

Harus mengatur uang.

Harus bekerja dengan orang lain.

Harus mengambil keputusan yang konsekuensinya bukan cuma untuk diri sendiri.

Kadang kita merasa diri kita berubah karena semakin bijaksana. Padahal sebagian mungkin karena hidup tidak memberi pilihan lain selain berubah.

Dan menurut saya itu bukan hal buruk.

Karena itu saya sebenarnya bukan penganut keras gagasan bahwa kita harus selalu “keluar dari zona nyaman”.

Kalau hidup sedang nyaman, ya nikmati saja.

Yang lebih penting menurut saya adalah jangan membuat hidup terlalu datar.

Hadirkan tantangan baru.

Ambil tanggung jawab baru.

Coba sesuatu yang belum pernah dilakukan.

Bukan supaya hidup selalu susah, tetapi supaya selalu ada sesuatu yang meminta versi diri kita berikutnya untuk muncul.

Hidup Jangan Terlalu Datar

Apakah kalau seseorang tidak terus berkembang berarti dia salah?

Menurut saya tidak juga.

Setiap orang boleh memilih bagaimana menjalani hidupnya.

Tapi saya pribadi merasa hidup terlalu menarik kalau hanya dihabiskan dengan mempertahankan versi diri yang sama terus-menerus.

Mungkin kita tidak perlu sibuk keluar dari zona nyaman.

Kadang kita hanya perlu menghadirkan tantangan baru di dalam hidup kita.

Karena pada akhirnya, kedewasaan bukan datang ketika umur bertambah.

Kedewasaan datang ketika tanggung jawab bertambah, konsekuensi mulai kita pahami, dan kita tetap memilih untuk bergerak.

Exit mobile version