Ben Robani Blog

Hari 241: Manusia Tidak Sesederhana Itu

Hari ini saya menyelesaikan buku ke-25 dari target 52 buku tahun ini.

Lagi kebut-kebut.

Kali ini saya membaca buku tentang MBTI karya Jeremy Jason dari Animo Life. Jujur, awalnya saya tidak terlalu tertarik. Tapi karena bukunya diterbitkan oleh penerbit yang beberapa bukunya sedang saya baca, akhirnya sekalian saya borong dan baca juga.

Buku ini membahas MBTI, 16 tipe kepribadian berdasarkan cara berpikir, memproses informasi, dan mengambil keputusan.

Hal baru bagi saya adalah: ternyata cara manusia berpikir itu bisa seberbeda itu.

Saya sebelumnya mungkin terlalu sering melihat orang dengan cara yang lebih sederhana. Seolah-olah pilihannya hanya hitam atau putih. Orangnya begini atau begitu. Ekstrovert atau introvert. Logis atau emosional. Mengalir atau terencana.

Ternyata variasinya jauh lebih banyak.

Dan semakin dibaca, semakin terasa bahwa sikap seseorang tidak bisa dilepaskan dari cara dia memproses dunia di kepalanya.

Dari buku ini, saya menarik tiga pelajaran.

1. MBTI untuk Memahami, Bukan Menghakimi

Di bagian awal buku, dijelaskan bahwa MBTI bukan sesuatu yang kaku dan mati.

Ia bisa dinamis.

Bisa berubah.

Bisa menyesuaikan dengan pengalaman hidup, lingkungan, kedewasaan, dan proses seseorang dalam mengenali dirinya sendiri.

Ini penting, karena kadang kita terlalu cepat menjadikan tes kepribadian sebagai label final.

“Oh, dia memang begitu karena MBTI-nya ini.”

“Saya tidak bisa berubah karena tipe saya begini.”

“Orang tipe itu pasti susah diajak kerja sama.”

Padahal menurut saya, pendekatan seperti itu justru membuat MBTI kehilangan fungsi terbaiknya.

MBTI seharusnya bukan alat untuk mengunci seseorang dalam kotak.

Ia lebih tepat dipakai sebagai alat bantu memahami.

Memahami kenapa seseorang mengambil keputusan dengan cara tertentu.

Memahami kenapa seseorang butuh waktu lebih lama sebelum bicara.

Memahami kenapa seseorang lebih nyaman dengan struktur, sementara yang lain lebih suka fleksibilitas.

Memahami kenapa seseorang terlihat diam dari luar, padahal di dalam kepalanya sedang sangat aktif.

Yang juga menarik, buku ini mengingatkan bahwa MBTI lebih banyak bicara soal proses internal, bukan sekadar perilaku luar.

Dua orang bisa terlihat melakukan hal yang sama, tetapi alasan dan proses berpikir di baliknya berbeda.

Sebaliknya, dua orang dengan tipe yang mirip juga belum tentu punya perilaku yang sama, karena pengalaman hidupnya berbeda.

Jadi membaca orang tidak bisa hanya dari apa yang terlihat.

Ada lapisan dalam yang perlu dipahami.

2. Variasi Manusia Lebih Banyak dari yang Saya Bayangkan

Hal kedua yang cukup membuat saya kaget adalah variasi tipe manusianya.

Ada beberapa karakter yang sebelumnya seperti tidak masuk dalam bayangan saya.

Misalnya, orang yang dominan introvert tetapi punya mimpi besar, punya dorongan untuk mewujudkan sesuatu, dan tetap ingin memberi pengaruh dengan caranya sendiri.

Saya sebelumnya mungkin punya asumsi sederhana bahwa introvert itu lebih banyak tidak ingin terlalu terlibat, lebih mengikuti arus, atau lebih nyaman di belakang.

Ternyata tidak selalu.

Ada introvert yang visinya kuat.

Ada yang ambisinya besar.

Ada yang sangat serius membangun sesuatu, hanya saja energinya tidak muncul dalam bentuk yang ramai.

Begitu juga dengan tipe-tipe lain.

Ada orang yang terlihat santai, tetapi sebenarnya sangat memikirkan struktur.

Ada orang yang terlihat logis, tetapi tetap punya nilai personal yang kuat.

Ada orang yang terlihat banyak bicara, tetapi ternyata cara berpikirnya sangat reflektif.

Membaca 16 tipe itu membuat saya sadar bahwa banyak hal yang selama ini terasa “aneh” mungkin sebenarnya hanya “baru” bagi saya.

Bukan aneh.

Bukan salah.

Bukan lebih buruk.

Hanya berbeda cara bekerjanya.

Dan kalau kita tidak punya cukup referensi tentang variasi manusia, kita mudah sekali menganggap yang berbeda sebagai masalah.

Padahal bisa jadi itu hanya cara lain seseorang memahami dunia.

3. Setiap Orang Dibentuk dengan Cara yang Unik

Setelah membaca 16 tipe kepribadian itu satu per satu, saya makin meyakini bahwa setiap orang memang unik.

Tidak ada manusia yang disetel dengan cara yang sama persis.

MBTI mungkin memberi kerangka.

Namun, kehidupan seseorang tetap dibentuk oleh banyak hal: keluarga, pendidikan, pengalaman, lingkungan kerja, trauma, ambisi, pertemanan, kegagalan, keberhasilan, dan keputusan-keputusan kecil yang terjadi sepanjang hidup.

Itulah kenapa dua orang dengan tipe yang sama pun bisa sangat berbeda.

Cara mereka berteman bisa berbeda.

Cara mereka bekerja bisa berbeda.

Cara mereka mencintai bisa berbeda.

Cara mereka mengambil keputusan bisa berbeda.

Cara mereka menghadapi konflik juga bisa berbeda.

Buku ini menarik bagi saya karena membantu membuka satu pintu lagi untuk memahami manusia.

Dan memang, memahami manusia adalah salah satu hal yang saya senangi.

Dalam memimpin organisasi, kita tidak hanya berhadapan dengan target, sistem, produk, dan angka.

Kita berhadapan dengan manusia yang isi kepalanya tidak selalu sama dengan kita.

Kadang yang kita anggap malas ternyata butuh konteks.

Kadang yang kita anggap terlalu banyak bicara ternyata sedang memproses ide.

Kadang yang kita anggap terlalu lambat ternyata sedang memastikan detail.

Kadang yang kita anggap terlalu cuek ternyata punya cara peduli yang berbeda.

Tentu MBTI tidak bisa menjelaskan semuanya.

Tapi ia bisa menjadi pintu masuk untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan orang lain.

Jangan Terlalu Cepat Melabeli

Buku ini cukup menarik untuk dibaca.

Secara visual juga terasa menyenangkan karena berwarna, strukturnya rapi, dan setiap tipe dibahas dengan pola yang sama. Ada contoh, cara berteman, cara berkoneksi, cara mencari cinta, sampai saran-saran praktis.

Saya juga membaca bagian yang sesuai dengan hasil tes saya sendiri.

Dan jujur, ada bagian yang membuat saya masih denial.

“Kenapa saya begini?”

“Kenapa ini terasa benar?”

“Kenapa bagian ini agak menyebalkan untuk diakui?”

Tapi ya mungkin memang ada benarnya.

Membaca buku seperti ini membuat saya sadar bahwa mengenali diri sendiri kadang tidak selalu nyaman.

Memahami orang lain juga tidak selalu mudah.

Namun, dua-duanya penting.

Karena kalau kita tidak memahami bahwa manusia punya cara berpikir yang beragam, kita akan terus memaksa orang lain memakai cara kita.

Padahal manusia tidak sesederhana itu.

Tidak cukup dibagi menjadi hitam dan putih.

Tidak cukup dinilai dari satu perilaku.

Tidak cukup dikunci oleh satu label.

Mungkin tujuan terbaik dari membaca MBTI bukan menemukan kotak untuk menaruh orang lain.

Tapi menemukan alasan untuk lebih sabar memahami mereka.

Exit mobile version