Hari ini full kerja.
Tidak banyak meeting. Tidak banyak ngobrol dengan tim. Secara teknis saya kerja sendiri.
Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya sendiri.
Karena hari ini banyak sekali pekerjaan yang saya lakukan sambil brainstorming dengan AI.
Dan semakin sering saya mencoba, semakin terasa bahwa AI memang se-powerful itu kalau digunakan dengan benar.
Bukan berarti semua hal harus diserahkan ke AI.
Bukan berarti AI selalu benar.
Bukan juga berarti manusia tinggal duduk lalu semua pekerjaan selesai.
Namun, saya merasa kita perlu mencari peran terbaik AI dalam pekerjaan kita.
Bukan men-deny.
Bukan meremehkan.
Bukan menganggapnya tidak penting hanya karena belum terbiasa.
Potensinya ada. Tinggal bagaimana kita menemukan cara memanfaatkannya.
Dari pengalaman hari ini, saya mencatat tiga hal.
1. AI Membantu Berpikir Runut
Salah satu hal yang paling saya rasakan dari AI adalah kemampuannya menyusun pikiran secara runut.
Kadang pikiran manusia itu muter-muter.
Kita mulai dari satu ide, lalu lompat ke hal lain. Baru setengah menjelaskan, tiba-tiba ingat konteks lain. Belum selesai membuat struktur, sudah kepikiran solusi. Akhirnya semua bercampur.
AI membantu merapikan itu.
Ketika konteksnya sudah diberikan dengan cukup jelas dan prompt-nya disusun dengan baik, AI bisa mengurai sesuatu secara step by step.
Masalahnya apa.
Opsinya apa.
Urutannya bagaimana.
Apa yang perlu dipertimbangkan.
Apa yang bisa menjadi langkah berikutnya.
Tentu saja AI bisa terlalu mengikuti apa yang kita harapkan. Bisa saja kurang menantang kalau kita tidak memintanya untuk mengkritisi. Bisa saja jawabannya terlihat rapi, tetapi belum tentu benar seluruhnya.
Namun, kemampuan untuk membuat pikiran menjadi lebih terstruktur tetap sangat membantu.
Kadang yang kita butuhkan bukan langsung jawaban final.
Kadang yang kita butuhkan adalah teman untuk membantu merapikan benang kusut di kepala.
Dan di bagian itu, AI sangat berguna.
2. Tidak Semua AI Punya Fungsi yang Sama
Hal kedua yang saya sadari adalah kita perlu melihat AI dari sisi fitur dan keunggulannya masing-masing.
Kadang kita merasa kecewa dengan AI karena berharap satu AI bisa melakukan semuanya.
Mau menulis, pakai AI yang sama.
Mau membuat gambar, pakai AI yang sama.
Mau membuat mockup website, pakai AI yang sama.
Mau membuat notulensi, pakai AI yang sama.
Padahal setiap AI punya kekuatan dan kelemahan.
Ada yang kuat di tulisan.
Ada yang bagus untuk gambar.
Ada yang menarik untuk membuat website atau prototype.
Ada yang lebih cocok untuk merangkum meeting dan membuat notulensi.
Ada yang jago membantu riset.
Ada yang lebih baik untuk ide visual.
Jadi mungkin masalahnya bukan AI-nya tidak berguna.
Mungkin kita belum menggunakan AI yang tepat untuk pekerjaan yang tepat.
Seperti alat kerja biasa.
Kita tidak bisa memakai palu untuk semua hal.
Kadang butuh obeng. Kadang butuh gergaji. Kadang butuh meteran. Kadang butuh alat yang lebih spesifik.
AI juga begitu.
Tugas kita adalah menemukan kombinasi alat yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
3. Referensi Menentukan Cara Pakai
Hal ketiga adalah pentingnya memperbanyak referensi.
Bisa jadi kita merasa AI biasa saja karena cara pakainya juga masih biasa saja.
Kita hanya memakainya untuk tanya jawab sederhana.
Padahal di luar sana, orang sudah menggunakannya untuk membuat draft dokumen, menyusun sistem kerja, membuat desain awal, membuat website, merangkum meeting, mengolah data, sampai membantu proses kreatif yang lebih kompleks.
Hari ini saya mencoba beberapa AI baru.
Ada AI untuk membuat website, dan hasilnya cukup membuat saya kaget.
Ada juga AI untuk membuat notulensi, dan itu juga menarik sekali.
Dari situ saya merasa bahwa jangan-jangan selama ini pemanfaatan kita belum maksimal bukan karena teknologinya kurang, tetapi karena referensi kita kurang.
Maka perlu lebih banyak melihat.
Nonton tutorial.
Baca contoh penggunaan.
Tanya teman.
Mencoba tools baru.
Membandingkan hasil.
Mencari tahu orang lain memakai AI untuk apa.
Semakin banyak referensi, semakin luas juga kemungkinan yang bisa kita bayangkan.
Karena AI bukan hanya chatbot untuk menjawab pertanyaan.
AI bisa menjadi partner kerja, partner berpikir, partner eksplorasi, bahkan dalam beberapa hal menjadi akselerator eksekusi.
Jangan Takut, Cari Perannya
Saya berharap ke depan kita tidak hanya melihat AI sebagai ancaman.
Takut digantikan.
Takut pekerjaan hilang.
Takut manusia tidak lagi relevan.
Kekhawatiran itu mungkin wajar. Namun, kalau hanya berhenti di rasa takut, kita justru bisa tertinggal.
Menurut saya, pendekatan yang lebih sehat adalah mencari peran terbaik AI dalam pekerjaan kita.
Bagian mana yang bisa dibantu?
Bagian mana yang bisa dipercepat?
Bagian mana yang bisa dirapikan?
Bagian mana yang tetap harus dipegang manusia?
Karena AI bukan untuk membuat kita berhenti berpikir.
AI justru bisa membantu kita berpikir lebih cepat, lebih terstruktur, dan lebih luas.
Bukan untuk menghapus kesempatan.
Tapi untuk membuka cara kerja yang lebih efektif dan efisien.
Hari ini saya kerja sendiri.
Tapi dengan AI, rasanya tidak benar-benar sendirian.
Dan mungkin itu salah satu cara kerja baru yang perlu lebih serius kita pelajari.