Kemarin, di salah satu meeting hari Senin, saya kelepasan ngomong sesuatu yang tidak pantas.
Saya mengumpat orang lain dengan cara yang tidak baik.
Saat itu mungkin terasa lewat begitu saja. Meeting berjalan, pembahasan selesai, orang-orang lanjut dengan pekerjaannya masing-masing. Namun, ternyata buat saya, hal itu tidak berhenti di sana.
Saya jadi kepikiran.
Bukan hanya karena saya merasa salah, tapi juga karena saya takut itu menjadi contoh yang buruk bagi teman-teman yang lain.
Hari ini akhirnya saya menyampaikan bahwa apa yang saya lakukan kemarin bukan hal yang baik. Saya minta maaf. Saya juga menegaskan bahwa itu harus diperbaiki, bukan dinormalisasi.
Karena kadang kesalahan kecil dari orang yang punya posisi bisa menjadi izin tidak tertulis bagi orang lain.
Dan itu yang saya khawatirkan.
Dari kejadian ini, ada tiga hal yang saya pelajari.
1. Omongan Harus Dijaga dari Kebiasaan Kecil
Entah kita pemimpin, bawahan, rekan kerja, orang tua, teman, atau siapa pun, kita tetap harus menjaga omongan.
Masalahnya, ucapan yang buruk sering tidak muncul tiba-tiba.
Ia biasanya lahir dari kebiasaan kecil yang dibiarkan.
Awalnya hanya bercanda.
Lalu jadi sering.
Lalu terasa biasa.
Lalu suatu hari keluar di forum yang tidak tepat, di depan orang yang tidak tepat, atau dalam situasi yang seharusnya lebih dijaga.
Di situlah kita baru sadar bahwa kebiasaan bicara yang buruk punya risiko.
Kita bisa saja bertemu orang penting.
Bertemu orang baru.
Bertemu orang yang punya latar belakang berbeda.
Bertemu orang yang tidak memahami konteks bercanda kita.
Kalau kita terbiasa berbicara kasar, merendahkan, atau mengumpat, kemungkinan kelepasan akan selalu ada.
Karena itu, cara paling aman bukan hanya menahan diri saat forum penting.
Cara paling aman adalah mengurangi kebiasaan buruknya sejak awal.
Bukan karena kita ingin terlihat suci atau paling sopan.
Tapi karena kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa membentuk suasana, memengaruhi orang lain, dan menunjukkan kualitas diri kita.
2. Niat Baik Tidak Membenarkan Cara Buruk
Sering kali ketika kita salah bicara, pembelaan pertama yang muncul adalah niat.
“Saya tidak bermaksud begitu.”
“Itu cuma bercanda.”
“Saya hanya spontan.”
“Saya tidak ada niat buruk.”
Mungkin benar.
Bisa jadi memang tidak ada niat untuk menyakiti.
Namun, niat baik tidak otomatis menghapus dampak dari cara yang buruk.
Kalimat yang kita anggap spontan bisa membuat orang lain kepikiran.
Candaan yang kita anggap biasa bisa membuat orang lain tidak nyaman.
Umpatan yang kita kira hanya ekspresi sesaat bisa memberi kesan bahwa cara bicara seperti itu boleh dilakukan.
Apalagi dalam lingkungan kerja, orang tidak hanya menangkap isi kalimat.
Mereka juga menangkap nada, pilihan kata, dan sikap di baliknya.
Karena itu, kalau memang tidak punya niat buruk, seharusnya caranya juga tidak buruk.
Kalau ingin mengkritik, kritiklah dengan jelas.
Kalau ingin menegur, tegurlah dengan proporsional.
Kalau ingin menyampaikan ketidaksetujuan, sampaikan tanpa merendahkan.
Tidak semua emosi harus keluar dalam bentuk kata yang melukai.
3. Pemimpin Harus Lebih Sadar Dilihat
Bagian paling berat dari menjadi pemimpin adalah menyadari bahwa banyak hal kecil bisa ditiru.
Bukan hanya keputusan besar.
Bukan hanya strategi.
Bukan hanya cara memimpin meeting.
Tapi juga cara bercanda, cara marah, cara menyebut orang lain, dan cara merespons sesuatu ketika sedang kesal.
Kalau seorang pemimpin berbicara tidak pantas, orang lain bisa menangkap sinyal bahwa itu boleh.
Kalau pemimpin mengumpat orang lain, orang bisa merasa gaya komunikasi seperti itu diterima di organisasi.
Kalau pemimpin menormalisasi kata-kata buruk, budaya yang terbentuk bisa ikut turun kualitasnya.
Di sinilah peran menjadi contoh itu tidak bisa disepelekan.
Saya tidak selalu berhasil.
Kejadian kemarin buktinya.
Namun, justru karena tidak selalu berhasil, saya merasa perlu mengakuinya.
Bukan untuk dramatis.
Bukan untuk terlihat rendah hati.
Tapi agar kesalahan itu tidak berubah menjadi standar baru.
Pemimpin tidak harus selalu benar.
Tapi ketika salah, pemimpin harus cukup sadar untuk memperbaiki dan tidak membiarkan kesalahan itu dianggap biasa.
Benar Tetap Harus Dilakukan
Saya jadi teringat sabda Nabi: barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.
Juga pepatah lama: mulutmu adalah harimaumu.
Kadang kita tidak tahu sejauh apa dampak dari ucapan kita.
Mungkin orang lain tidak terlalu memikirkannya.
Mungkin ada yang lupa.
Mungkin tidak ada yang merasa terganggu.
Tapi itu bukan alasan untuk membiarkan yang salah tetap menjadi kebiasaan.
Melakukan yang benar tetap harus dilakukan, entah dampaknya terlihat atau tidak.
Meminta maaf tetap perlu dilakukan, entah orang lain menuntut atau tidak.
Memperbaiki diri tetap penting, entah kesalahan itu besar atau kecil.
Karena menjaga ucapan bukan hanya soal tidak menyinggung orang.
Menjaga ucapan juga soal menjaga kualitas diri, menjaga budaya, dan menjaga contoh yang kita tinggalkan kepada orang lain.
Terutama ketika ada orang yang melihat kita sebagai pemimpin.
Kalau belum bisa berkata baik, mungkin memang lebih baik diam dulu.