Hari Minggu ini ada acara keluarga.
Di tengah obrolan, muncul cerita tentang bully-membully di sekolah. Cerita yang sebenarnya sedih, tapi mungkin masih terlalu sering dianggap biasa.
Anak-anak saling mengejek.
Anak yang lebih besar merasa punya kuasa.
Ada yang disuruh-suruh.
Ada yang dipermalukan.
Ada yang didorong, dipukul, atau disakiti secara fisik.
Kadang orang dewasa melihatnya sebagai bagian dari masa kecil.
“Namanya juga anak-anak.”
“Bercanda saja.”
“Nanti juga lupa.”
Bagi saya, tidak.
Kalau bicara soal bullying, posisi saya cukup jelas: saya tidak akan menormalisasi.
Apalagi kalau itu terjadi di sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, berteman, dan bertumbuh.
Salah satu hal yang akan saya cari ketika memilih sekolah untuk anak saya nanti adalah bagaimana sekolah tersebut menangani bullying.
Bukan hanya apa slogan mereka.
Bukan hanya apa yang tertulis di brosur.
Tapi benar-benar bagaimana sikap mereka ketika ada anak yang menyakiti anak lain.
Karena bagi saya, anak harus merasa aman dulu sebelum bisa belajar dengan baik.
1. Masalah Harus Diangkat, Bukan Ditutup
Kalau ada bullying dan sekolah tidak menanganinya dengan serius, saya tidak ingin masalah itu hanya berhenti di meja internal.
Saya akan dokumentasikan.
Saya akan minta penjelasan.
Saya akan minta tindakan yang jelas.
Kalau tetap tidak ada penyelesaian, saya akan membawa masalah itu ke ruang yang lebih luas.
Bukan karena ingin membuat keributan.
Tetapi karena masalah yang menyangkut keselamatan anak tidak boleh ditutup-tutupi.
Orang tua membayar biaya pendidikan bukan hanya untuk ruang kelas, guru, dan kurikulum.
Orang tua juga membayar untuk rasa aman.
Untuk lingkungan yang sehat.
Untuk keyakinan bahwa anaknya tidak datang ke sekolah dalam keadaan takut, lalu pulang membawa luka yang tidak terlihat.
Kalau sekolah membiarkan bullying, berarti ada tanggung jawab yang tidak dijalankan.
Dan kalau tanggung jawab itu tidak dijalankan setelah dilaporkan, orang tua berhak bersuara lebih keras.
Tentu caranya tetap perlu hati-hati.
Data harus jelas.
Kronologi harus rapi.
Tidak asal menuduh.
Tidak asal menyerang anak lain tanpa proses.
Namun, prinsipnya tetap sama: bullying bukan masalah kecil yang bisa disapu ke bawah karpet.
2. Pelaku Harus Diberi Konsekuensi
Saya percaya anak-anak masih bisa belajar.
Anak yang melakukan kesalahan tidak otomatis harus dicap selamanya sebagai anak buruk.
Namun, belajar tidak boleh dipisahkan dari konsekuensi.
Kalau ada anak yang melakukan bullying, apalagi sampai kekerasan fisik, mempermalukan, mengancam, atau menyakiti mental anak lain, harus ada tindakan yang jelas.
Bisa berupa pembinaan serius.
Bisa berupa pemanggilan orang tua.
Bisa berupa pendampingan.
Bisa berupa sanksi.
Bisa juga, dalam kasus tertentu, dikeluarkan dari sekolah jika memang membahayakan anak lain dan tidak ada perubahan.
Yang tidak boleh adalah dibiarkan begitu saja.
Karena kalau tidak ada konsekuensi, pelaku belajar bahwa tindakannya aman untuk diulang.
Korban belajar bahwa meminta bantuan pun tidak ada gunanya.
Anak-anak lain belajar bahwa kekerasan bisa dinormalisasi selama orang dewasa memilih diam.
Ini yang berbahaya.
Sekolah tidak cukup hanya berkata, “Kami akan menasihati.”
Harus ada sistem yang membuat anak tahu bahwa menyakiti orang lain punya akibat.
Bukan untuk balas dendam.
Tetapi untuk menghentikan pola.
Untuk melindungi korban.
Untuk mendidik pelaku.
Dan untuk memberi sinyal kepada seluruh lingkungan sekolah bahwa rasa aman bukan barang opsional.
3. Kalau Tidak Aman, Anak Saya Keluar
Pilihan terakhir, kalau lingkungan tidak aman dan sekolah tidak punya komitmen menyelesaikan, bagi saya sederhana: anak saya keluar.
Sesimpel itu.
Tidak ada pendidikan yang layak dipertahankan kalau anak harus membayarnya dengan rasa takut setiap hari.
Tidak ada reputasi sekolah yang cukup penting untuk mengorbankan kesehatan mental anak.
Tidak ada fasilitas, kurikulum, atau nama besar yang bisa menggantikan rasa aman.
Tentu keluar dari sekolah bukan keputusan kecil.
Ada biaya, adaptasi, relasi, dan banyak hal yang perlu dipikirkan.
Namun, kalau pilihannya adalah bertahan di lingkungan yang membiarkan anak tersakiti, saya lebih memilih mencari tempat lain.
Karena bagi orang dewasa, bullying mungkin terlihat seperti satu insiden.
Tapi bagi anak, bisa jadi itu menjadi memori yang tertancap lama.
Bisa menjadi trauma.
Bisa mengubah cara dia melihat sekolah.
Bisa membuat dia takut berteman.
Bisa membuat dia merasa dirinya pantas diperlakukan buruk.
Dan saya tidak mau menunggu sampai luka itu terlalu dalam baru bertindak.
Sekolah Harus Menjadi Tempat Pulang yang Aman
Saya tidak berharap tiga opsi ini perlu saya pakai.
Saya berharap anak saya nanti berada di lingkungan yang baik.
Sekolah yang punya guru dan sistem yang peduli.
Teman-teman yang belajar saling menghargai.
Orang tua murid yang juga paham bahwa anak mereka bukan hanya harus pintar, tetapi juga harus belajar tidak menyakiti orang lain.
Namun, menulis ini menjadi pengingat bagi saya sendiri.
Bahwa soal bullying, saya harus punya sikap sebelum kejadian itu terjadi.
Bukan baru bingung setelah anak pulang dalam keadaan terluka.
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak datang dengan bahagia dan pulang dengan bahagia.
Kalau ada konflik, diselesaikan.
Kalau ada masalah, ditangani.
Kalau ada kekerasan, dihentikan.
Karena pendidikan bukan hanya soal anak bisa membaca, berhitung, atau mendapatkan nilai bagus.
Pendidikan juga soal memastikan anak tumbuh di lingkungan yang membuatnya merasa aman menjadi dirinya sendiri.
Aman dulu.
Baru belajar.