Hari ini saya mendapat kesempatan bertemu dengan teman dari startup lain.
Startup-nya sudah jauh lebih besar. Sementara saya masih merasa berada di fase merintis, startup kecil, dengan segala keterbatasan dan drama yang menyertainya.
Awalnya, ketika bertemu dengan orang dari startup yang lebih besar, ada bayangan bahwa masalah mereka pasti sudah berbeda.
Mungkin lebih strategis.
Mungkin lebih matang.
Mungkin sudah tidak lagi berurusan dengan masalah-masalah kecil yang sering kami alami.
Namun, setelah ngobrol, ternyata saya menangkap hal yang menarik.
Masalahnya mirip.
Yang berbeda hanya skalanya.
Volume-nya lebih besar. Frekuensinya lebih tinggi. Dampaknya lebih luas. Jumlah orang yang terlibat lebih banyak.
Tapi pola masalahnya tidak sejauh itu dari apa yang kami alami hari ini.
Dari obrolan itu, saya merasa ada tiga pelajaran yang cukup penting.
1. Kita Tidak Sendirian Punya Masalah
Kadang ketika sedang berada di dalam organisasi sendiri, masalah terasa sangat personal.
Seolah-olah hanya perusahaan kita yang mengalami.
Kenapa koordinasi sulit?
Kenapa orang tidak selalu paham arah?
Kenapa sistem belum rapi?
Kenapa komunikasi antar tim bisa miss?
Kenapa pekerjaan yang harusnya sederhana bisa menjadi panjang?
Ketika hanya melihat dari dalam, kita mudah merasa bahwa masalah itu khas milik kita.
Padahal, ketika bertemu dengan orang dari perusahaan lain, kita jadi sadar bahwa banyak organisasi mengalami hal yang sama.
Hanya bentuk dan volumenya yang berbeda.
Masalah yang hari ini muncul di startup kecil, bisa juga muncul di startup besar.
Bedanya, di tempat yang lebih besar, masalah itu mungkin melibatkan lebih banyak orang, lebih banyak divisi, lebih banyak uang, dan konsekuensi yang lebih kompleks.
Kesadaran ini cukup melegakan.
Bukan karena masalahnya jadi hilang.
Tapi karena kita jadi tahu bahwa masalah bukan selalu tanda kita gagal sendirian.
Kadang masalah adalah bagian dari proses membangun organisasi.
Selama ada manusia, target, ekspektasi, keterbatasan, dan perubahan, masalah akan selalu ada.
2. Menjadi Besar Tidak Menghapus Masalah
Di sisi lain, obrolan hari ini juga menjadi pengingat bahwa tumbuh besar tidak otomatis membuat semua masalah hilang.
Kadang kita berpikir, “Nanti kalau perusahaan sudah lebih besar, masalah seperti ini pasti selesai.”
Nanti kalau tim sudah lebih lengkap.
Nanti kalau omzet sudah lebih besar.
Nanti kalau sistem sudah lebih rapi.
Nanti kalau brand sudah lebih dikenal.
Nanti kalau manajemennya sudah lebih matang.
Memang, sebagian masalah mungkin akan selesai.
Tapi masalah baru akan muncul.
Dan beberapa masalah lama bisa tetap ada, hanya berubah ukuran.
Ketika kecil, koordinasi sulit karena orangnya sedikit dan semua merangkap banyak hal.
Ketika besar, koordinasi sulit karena orangnya banyak dan layer-nya bertambah.
Ketika kecil, komunikasi miss karena belum ada sistem.
Ketika besar, komunikasi miss karena terlalu banyak sistem dan jalur informasi.
Ketika kecil, masalah muncul karena resource terbatas.
Ketika besar, masalah muncul karena kompleksitas meningkat.
Jadi besar bukan berarti bebas masalah.
Besar berarti kapasitas kita untuk menanggung dan mengelola masalah juga harus ikut membesar.
Kalau kita tumbuh tetapi cara berpikir kita terhadap problem tidak ikut tumbuh, kita hanya akan menjadi organisasi besar yang tetap kaget menghadapi masalah.
3. Belajar dari Masalah Kecil
Karena itu, fase kecil sebenarnya adalah tempat latihan yang sangat berharga.
Masalah-masalah kecil hari ini adalah sinyal.
Cara kita menghadapi koordinasi yang berantakan hari ini akan membentuk cara kita menghadapi koordinasi yang lebih besar nanti.
Cara kita menyelesaikan konflik kecil hari ini akan membentuk cara kita menyelesaikan konflik yang lebih kompleks nanti.
Cara kita mendokumentasikan pekerjaan hari ini akan menentukan apakah nanti organisasi bisa bertumbuh tanpa selalu kehilangan memori.
Kalau sejak kecil kita terbiasa mengabaikan sinyal, saat besar masalahnya bisa menjadi lebih mahal.
Sinyal kecil yang tidak dibaca bisa berubah menjadi krisis besar.
Komplain kecil yang tidak dipahami bisa menjadi churn besar.
Miss komunikasi kecil yang dibiarkan bisa menjadi budaya kerja yang membingungkan.
Maka mungkin tugas kita bukan berharap tidak punya masalah.
Tugas kita adalah belajar bersahabat dengan problem.
Membacanya.
Memahaminya.
Mencari akarnya.
Membuat mitigasinya.
Menguji solusinya.
Lalu menjadikannya pelajaran untuk fase berikutnya.
Tumbuh Berarti Siap Menanggung Lebih Besar
Pertemuan hari ini membuat saya melihat startup dengan lebih realistis.
Besar atau kecil, semua punya problem.
Tidak ada fase yang benar-benar steril dari masalah.
Yang berubah adalah ukuran, frekuensi, dan dampaknya.
Karena itu, jangan terlalu minder ketika hari ini kita masih menghadapi masalah kecil yang terasa melelahkan.
Bisa jadi itu memang latihan.
Namun, jangan juga terlalu berharap bahwa ketika besar nanti semua akan otomatis lebih mudah.
Bisa jadi yang menunggu justru versi lebih besar dari masalah yang sama.
Maka yang perlu dibangun sejak awal bukan hanya produk, revenue, atau jumlah tim.
Yang juga perlu dibangun adalah kapasitas menghadapi masalah.
Karena perusahaan yang bertumbuh bukan perusahaan yang tidak punya problem.
Perusahaan yang bertumbuh adalah perusahaan yang semakin siap membaca, menanggung, dan menyelesaikan problem dengan lebih dewasa.