Ben Robani Blog

Hari 232: Pitch Deck Bukan Company Profile

Hari ini saya mentoring ibu-ibu UMKM dan entrepreneur yang secara usia lebih senior dari saya.

Topiknya adalah membuat pitch deck.

Ini menarik, karena saya sendiri sudah beberapa kali mengampu materi tentang pitch deck. Bahkan pernah mengajar mata kuliah yang membahas ini. Saya juga cukup sering membantu orang menyusun pitch deck, baik untuk startup, UMKM, maupun kebutuhan bisnis lain.

Namun, setiap kali masuk ke topik ini, saya selalu merasa ada satu masalah yang berulang.

Banyak orang mengira pitch deck itu hanya sekadar slide presentasi yang isinya memperkenalkan bisnis.

Padahal tidak sesederhana itu.

Pitch deck bukan hanya soal membuat slide yang bagus.

Bukan juga sekadar memasukkan foto produk, fitur, harga, testimoni, dan cerita bisnis.

Pitch deck adalah alat untuk membawa orang lain memahami arah bisnis kita, melihat peluangnya, percaya pada rencananya, lalu mengambil tindakan tertentu setelah membacanya atau mendengarnya.

Dari mentoring hari ini, saya mencatat tiga hal penting.

1. Pitch Deck Bukan Company Profile

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah mencampuradukkan pitch deck dengan company profile.

Company profile biasanya berbicara tentang siapa kita.

Bisnisnya apa.

Produknya apa.

Layanannya apa.

Sudah mengerjakan apa saja.

Punya klien siapa.

Punya legalitas apa.

Intinya, company profile lebih banyak menceritakan masa lalu dan kondisi saat ini.

Itu penting, tetapi berbeda dengan pitch deck.

Pitch deck punya tujuan yang lebih spesifik.

Biasanya pitch deck dibuat untuk mengajak orang percaya pada sesuatu yang ingin kita bangun ke depan. Bisa untuk investor, calon partner, program inkubasi, kompetisi bisnis, atau pihak lain yang kita harapkan ikut mendukung perjalanan berikutnya.

Maka isinya tidak bisa hanya berupa daftar produk dan fitur.

Kalau pitch deck untuk investor, pertanyaannya bukan hanya, “Produk Anda apa?”

Tapi juga:

Kenapa bisnis ini penting?

Masalah apa yang diselesaikan?

Pasarnya sebesar apa?

Model bisnisnya bagaimana?

Apa yang sudah terbukti?

Mau tumbuh ke mana?

Butuh dukungan apa?

Kalau semua itu tidak muncul, deck-nya mungkin rapi, tetapi belum tentu bisa disebut pitch deck.

Ia lebih dekat ke katalog atau company profile.

2. Pitch Deck Harus Punya Pesan yang Jelas

Masalah kedua adalah pitch deck sering tidak punya pesan utama yang jelas.

Slide-nya ada.

Informasinya banyak.

Produknya dijelaskan.

Foto-fotonya lengkap.

Namun, setelah selesai membaca atau mendengar presentasinya, orang masih bingung: sebenarnya kita diminta percaya pada apa?

Ini masalah besar.

Pitch deck harus punya arah.

Kalau company profile banyak berbicara tentang masa lalu dan masa sekarang, pitch deck harus menghubungkan masa sekarang dengan masa depan.

Hari ini bisnisnya sudah sampai mana?

Ke depan mau dibawa ke mana?

Kenapa arah itu masuk akal?

Apa yang dibutuhkan agar bisa sampai ke sana?

Dan yang tidak kalah penting: orang yang mendengar pitch ini harus melakukan apa?

Investasi?

Membeli?

Berkolaborasi?

Memberi akses?

Menjadi mentor?

Mengundang ke program?

Membuka pintu distribusi?

Sering kali bagian ini justru tidak jelas.

Orang terlalu fokus menjelaskan bisnisnya, tetapi lupa menjelaskan maksud presentasinya.

Padahal pitch deck yang baik bukan hanya membuat orang tahu.

Pitch deck yang baik membuat orang bergerak.

Minimal bergerak untuk bertanya lebih lanjut.

Lebih baik lagi, bergerak untuk mendukung.

Karena itu, sebelum membuat slide, kita perlu menjawab dulu: pesan utama deck ini apa?

Kalau orang hanya ingat satu hal setelah presentasi ini selesai, hal apa yang harus mereka ingat?

3. Pitching Tidak Bisa Hanya Dipelajari

Masalah ketiga adalah soal presentasi.

Banyak orang grogi ketika harus pitching.

Takut salah.

Takut lupa.

Takut ngeblank.

Takut ditanya dan tidak bisa menjawab.

Menurut saya, jawaban untuk ini sebenarnya tidak terlalu romantis: latihan.

Pitching itu butuh jam terbang.

Tidak cukup hanya belajar teori.

Tidak cukup hanya mendengarkan orang lain presentasi.

Tidak cukup hanya membaca template deck.

Sama seperti renang.

Kita bisa membaca teori renang sebanyak mungkin. Bisa menonton video teknik pernapasan. Bisa menghafal posisi tangan dan kaki. Tapi kalau tidak pernah masuk air, tetap saja tubuh akan panik ketika benar-benar harus berenang.

Pitching juga begitu.

Kita perlu sering mencoba menyampaikan ide.

Latihan dengan waktu terbatas.

Latihan menjelaskan bisnis dalam satu menit, tiga menit, lima menit, dan sepuluh menit.

Latihan menjawab pertanyaan.

Latihan menghadapi ekspresi orang yang tampak tidak tertarik.

Latihan memperbaiki kalimat yang terlalu panjang.

Latihan menemukan bagian mana yang membuat orang mengangguk dan bagian mana yang membuat orang bingung.

Semakin sering dilakukan, semakin tubuh dan pikiran kita terbiasa.

Grogi mungkin tetap ada.

Namun, setidaknya kita tidak benar-benar kosong.

Karena kita sudah pernah berada di situasi yang mirip sebelumnya.

Deck Bukan Sekadar Konten

Saya merasa pitch deck seharusnya menjadi salah satu materi penting dalam dunia startup dan bisnis.

Bukan karena semua orang harus mencari investor.

Tetapi karena kemampuan menyusun pitch deck sebenarnya melatih cara berpikir bisnis.

Kita dipaksa memahami masalah.

Memahami customer.

Memahami pasar.

Memahami model bisnis.

Memahami traction.

Memahami kebutuhan.

Memahami masa depan yang ingin dituju.

Sayangnya, orang sering terlalu fokus pada konten slide.

Slide pertama isinya apa?

Slide kedua isinya apa?

Background-nya warna apa?

Template-nya bagus atau tidak?

Padahal esensi utamanya bukan di situ.

Pitch deck bukan hanya susunan slide.

Pitch deck adalah cara kita menjelaskan bahwa bisnis ini punya alasan untuk ada, punya arah untuk tumbuh, dan punya kebutuhan yang jelas dari orang yang sedang mendengarkan.

Kalau pesannya jelas, slide sederhana pun bisa kuat.

Kalau pesannya kabur, slide sebagus apa pun hanya menjadi hiasan.

Exit mobile version