Ben Robani Blog

Hari 231: Customer Dulu, Solusi Kemudian

Hari ini saya punya kesempatan sharing bersama beberapa entrepreneur muda.

Mereka sedang berada di fase merintis. Ada yang ikut program, ikut lomba, membangun ide, menyiapkan produk, dan mencoba mencari bentuk bisnisnya sendiri.

Melihat mereka, saya seperti melihat versi awal dari banyak orang yang dulu juga sedang mencoba-coba membangun sesuatu.

Termasuk saya sendiri.

Di akhir sesi, saya merasa seperti sedang bicara kepada band kecil yang baru mulai manggung. Belum besar, belum rapi, belum tentu semua nadanya pas, tetapi energinya ada.

Dan mungkin di fase seperti itu, nasihat yang dibutuhkan bukan selalu hal yang canggih.

Kadang justru hal-hal paling dasar yang perlu diulang lagi.

Karena ketika sedang merintis, kita mudah sekali terdistraksi oleh teknologi, pilihan fitur, lomba, deck, program, dan asumsi kita sendiri.

Padahal bisnis tidak dimulai dari semua itu.

Bisnis dimulai dari masalah orang lain yang benar-benar perlu diselesaikan.

1. Teknologi Hanya Alat

Nasihat pertama saya sederhana: teknologi hanyalah alat.

Teknologi bisa membantu.

Ia bisa membuat pekerjaan lebih cepat, lebih murah, lebih luas, atau lebih rapi. Dengan teknologi, kita bisa membuat aplikasi, website, sistem otomatis, dashboard, chatbot, dan berbagai hal lain yang terlihat keren.

Namun, sekeren apa pun teknologinya, kalau tidak bertemu dengan orang yang tepat dan masalah yang tepat, hasilnya tidak akan ke mana-mana.

Banyak founder muda terlalu cepat jatuh cinta pada teknologi.

Merasa kalau sudah pakai AI, blockchain, aplikasi, atau sistem tertentu, maka bisnisnya otomatis punya nilai.

Padahal customer tidak membeli teknologi hanya karena teknologinya canggih.

Customer membeli karena ada masalah yang terbantu.

Teknologi yang baik seharusnya memperkuat solusi, bukan menggantikan pemahaman terhadap masalah.

Kalau masalahnya belum jelas, teknologi hanya membuat kebingungan terlihat lebih modern.

Mungkin lebih rapi di slide.

Mungkin lebih menarik saat dipresentasikan.

Tapi belum tentu lebih dibutuhkan oleh pasar.

2. Temui Customer Dulu

Nasihat kedua: daripada terlalu lama memikirkan pilihan A, B, C, lebih baik temui customer dulu.

Kalau kita merasa target customer-nya adalah mahasiswa, temui mahasiswa.

Kalau targetnya UMKM, temui UMKM.

Kalau targetnya HR, petani, orang tua muda, perusahaan, komunitas, atau siapa pun, ya temui orang-orang itu.

Jangan terlalu lama membangun asumsi sendirian.

Jangan terlalu percaya pada ide yang hanya hidup di kepala sendiri.

Jangan mengerjakan semuanya di garasi lalu berharap ketika keluar, dunia langsung merasa terbantu.

Masalahnya, dunia sering tidak bekerja seperti bayangan kita.

Apa yang menurut kita penting belum tentu penting bagi customer.

Apa yang menurut kita menyakitkan belum tentu benar-benar menyakitkan bagi mereka.

Apa yang menurut kita akan dibayar, bisa saja hanya dianggap menarik untuk didengar, tetapi tidak cukup penting untuk dibeli.

Bertemu customer membuat ide kita diuji oleh kenyataan.

Kadang menyakitkan.

Karena ternyata hal yang kita pikir brilian biasa saja bagi mereka.

Tapi itu jauh lebih baik daripada menghabiskan waktu lama membangun sesuatu yang tidak pernah benar-benar dibutuhkan.

Founder perlu keluar dari kepalanya sendiri.

Karena bisnis tidak tumbuh di dalam asumsi.

Bisnis tumbuh ketika bertemu masalah nyata di lapangan.

3. Mulai dari Problem

Nasihat ketiga, dan menurut saya paling penting: jangan mulai dari solusi, mulai dari problem.

Kalau problem-nya jelas, dialami banyak orang, cukup menyakitkan, dan ada kemauan untuk membayar agar masalah itu selesai, maka solusi alternatifnya bisa banyak.

Solusinya bisa berupa aplikasi.

Bisa berupa layanan.

Bisa berupa produk fisik.

Bisa berupa konsultasi.

Bisa berupa komunitas.

Bisa berupa sistem manual dulu sebelum menjadi teknologi.

Namun, kalau dari awal kita sudah memaksakan satu solusi tertentu, perjalanan berikutnya biasanya menjadi lebih berat.

Kita akan sibuk mencari siapa yang cocok dengan solusi itu.

Sibuk meyakinkan pasar bahwa mereka punya masalah.

Sibuk mengubah narasi agar solusi kita terlihat relevan.

Padahal seharusnya sebaliknya.

Kita memahami problem dulu, baru merancang solusi yang paling masuk akal.

Solusi yang baik tidak selalu lahir dari ide paling keren.

Sering kali ia lahir dari pemahaman paling jujur terhadap rasa sakit customer.

Apa yang membuat mereka kesulitan?

Apa yang mereka coba selesaikan selama ini?

Kenapa solusi yang ada belum cukup?

Apa yang membuat mereka akhirnya mau membayar?

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu belum jelas, mungkin kita belum sedang membangun bisnis.

Mungkin kita baru sedang membangun sesuatu yang kita sukai sendiri.

Yang Klise Sering Paling Benar

Saya tahu nasihat seperti ini terdengar klise.

Customer lagi.

Problem lagi.

Validasi lagi.

Seolah-olah setiap pembicaraan tentang startup selalu kembali ke sana.

Tapi mungkin memang karena dasarnya ada di sana.

Bisnis bukan tentang membuat sesuatu yang kita anggap keren.

Bisnis adalah tentang membantu menyelesaikan masalah orang lain.

Dan ketika masalah itu cukup nyata, cukup penting, dan solusinya cukup membantu, orang akan bersedia membayar.

Sesederhana itu.

Tentu eksekusinya tidak sederhana.

Akan ada kompetitor, operasional, pricing, distribusi, branding, teknologi, dan banyak hal lain yang harus dipikirkan.

Namun, kalau fondasinya salah, semua hal canggih di atasnya hanya mempercepat kita ke arah yang keliru.

Maka untuk entrepreneur muda yang sedang merintis, mungkin tidak perlu buru-buru terlihat besar.

Temui dulu orang yang ingin dibantu.

Dengarkan masalahnya.

Pahami konteksnya.

Baru bangun solusinya.

Karena startup yang baik tidak dimulai dari “saya punya ide”.

Startup yang baik dimulai dari “saya menemukan masalah yang layak diselesaikan”.

Exit mobile version