Ben Robani Blog

Hari 218: Budaya Kantor Ikut Pulang

Hari ini saya menghabiskan hampir seharian untuk melakukan one on one dengan beberapa karyawan.

Seperti biasanya, kami tidak banyak membahas pekerjaan. Justru yang lebih banyak dibicarakan adalah kehidupan di luar kantor, keluarga, pasangan, kebiasaan, sampai bagaimana mereka melihat hidup belakangan ini.

Di sela-sela obrolan itu, saya teringat sesuatu yang belakangan sering saya lihat di LinkedIn.

Banyak sekali unggahan tentang orang-orang yang membantu pasangannya di rumah, berbagi peran mengurus anak, menghargai keluarga, atau menunjukkan sisi-sisi yang menurut istilah sekarang sering disebut green flag.

Saya kemudian bertanya-tanya.

Apakah orang-orang seperti itu memang sudah baik sejak awal? Atau jangan-jangan lingkungan tempat mereka bekerja juga ikut membentuk siapa mereka ketika pulang ke rumah?

Saya belum punya jawaban pasti. Ini baru sebuah hipotesis.

Namun, dari obrolan hari ini dan beberapa hal yang pernah saya pelajari, saya merasa ada tiga hal yang menarik untuk direnungkan.

1. Yang Dibawa Pulang Bukan Jamnya, tetapi Keadaannya

Ada satu kalimat dari buku yang pernah saya baca yang terus teringat.

Yang paling memengaruhi keadaan kita di rumah bukanlah jam berapa kita pulang.

Melainkan bagaimana keadaan kita ketika pulang.

Seseorang bisa pulang pukul lima sore, tetapi membawa amarah seharian.

Sebaliknya, ada orang yang pulang lebih malam, tetapi tetap bisa hadir dengan kepala yang lebih tenang.

Kalau sepanjang hari di kantor isinya bentakan, saling menyalahkan, tekanan yang tidak sehat, atau konflik yang tidak pernah selesai, sangat mungkin emosi itu ikut terbawa pulang.

Rumah akhirnya menerima sisa energi yang sudah habis dipakai di tempat kerja.

Padahal, keluarga tidak ikut berada di kantor.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Mereka hanya bertemu dengan versi kita yang sudah lelah.

Karena itu, saya mulai percaya bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab pada produktivitas orang selama jam kerja.

Secara tidak langsung, perusahaan juga ikut memengaruhi bagaimana seseorang hadir di rumahnya.

2. Budaya Itu Perlahan Menular

Sering kali kita berpikir budaya perusahaan hanya sebatas nilai yang ditulis di dinding atau presentasi onboarding.

Padahal budaya jauh lebih sederhana dari itu.

Budaya adalah apa yang terus-menerus dilihat, dirasakan, dan dianggap normal setiap hari.

Kalau lingkungan kerja dipenuhi saling menghargai, saling membantu, terbuka terhadap masukan, dan berusaha menyelesaikan masalah tanpa saling menjatuhkan, lama-lama cara itu akan terasa biasa.

Bahkan bagi orang yang sebelumnya belum terbiasa.

Sebaliknya, kalau yang dianggap normal adalah saling menyalahkan, bergosip, atau berteriak ketika ada masalah, itu pun akan ikut menyebar.

Budaya bekerja seperti air.

Ia perlahan membentuk batu, bukan karena sekali menghantam, tetapi karena terus mengalir.

Mungkin seseorang tidak langsung berubah dalam satu minggu.

Namun, setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun berada dalam lingkungan yang sama, cara berpikir dan cara bersikapnya bisa ikut berubah.

Itulah mengapa budaya bukan sesuatu yang bisa diremehkan.

Ia bekerja diam-diam, tetapi dampaknya sangat panjang.

3. Orang yang Mirip Akan Saling Menemukan

Hal lain yang saya sadari adalah budaya yang kuat akan menarik orang-orang dengan kecenderungan yang sama.

Orang yang menikmati lingkungan yang sehat biasanya akan bertahan lebih lama.

Sebaliknya, orang yang tidak nyaman dengan budaya tersebut perlahan akan merasa tidak cocok.

Bukan karena mereka dipaksa keluar.

Tetapi karena nilai yang mereka bawa berbeda.

Lama-kelamaan, organisasi akan diisi oleh orang-orang yang memiliki irisan cara berpikir yang semakin mirip.

Bukan berarti semua orang harus sama.

Keberagaman tetap penting.

Namun, ada nilai-nilai dasar yang memang perlu dimiliki bersama.

Menghargai orang lain.

Mau belajar.

Bertanggung jawab.

Tidak menikmati konflik.

Kalau nilai-nilai itu dijaga, budaya baik akan semakin kuat.

Dan ketika budaya baik semakin kuat, orang-orang yang datang berikutnya pun biasanya memiliki kecenderungan yang sama.

Lingkaran itu terus berputar.

Kebaikan yang Berputar

Hari ini saya semakin percaya bahwa membangun perusahaan yang baik bukan hanya soal mengejar target atau membuat bisnis bertumbuh.

Ada dampak lain yang sering tidak terlihat.

Kalau seseorang pulang dari kantor dengan perasaan lebih tenang, ia mungkin akan lebih sabar kepada pasangannya.

Lebih hangat kepada anak-anaknya.

Lebih ringan membantu pekerjaan di rumah.

Besok paginya ia berangkat lagi dengan suasana hati yang lebih baik.

Lalu energi itu kembali dibawa ke kantor.

Begitu seterusnya.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa budaya perusahaan layak diperjuangkan.

Karena dampaknya tidak berhenti di kantor.

Budaya yang baik ikut pulang ke rumah.

Dan rumah yang baik akan mengirimkan orang yang lebih baik kembali ke tempat kerja.

Itulah lingkaran kebaikan yang semoga terus bisa kita bangun.

Exit mobile version