Ben Robani Blog

Hari 209: Mulai, Catat, Luruskan

Hari ini saya mengerjakan proses evaluasi untuk melihat apakah semua orang sudah benar-benar selaras.

Apakah pekerjaan yang dilakukan sehari-hari nyambung dengan apa yang dilaporkan? Apakah laporan itu sesuai dengan ekspektasi peran? Apakah target individu mendukung target divisi? Dan apakah target divisi benar-benar bergerak menuju tujuan organisasi?

Prosesnya ternyata cukup menarik.

Pekerjaan ini sangat terbantu ketika kita punya data yang cukup lengkap. Ditambah dengan AI, data dan prompt yang baik bisa membantu membandingkan banyak hal lebih cepat.

Namun, hasilnya juga menunjukkan bahwa masih ada beberapa bagian yang perlu diklarifikasi satu per satu.

Ada pekerjaan yang dilakukan tetapi tidak terlihat di target. Ada target yang ditulis tetapi tidak muncul dalam aktivitas. Ada laporan yang rajin diisi, tetapi belum tentu menggambarkan hal yang benar-benar penting.

Dari proses ini, saya kembali melihat bahwa alignment bukan sesuatu yang cukup dibicarakan.

Ia perlu dibuktikan melalui data, dokumentasi, dan evaluasi yang dilakukan berulang.

1. Dokumentasi Lebih Baik daripada Ketiadaan

Hal pertama yang terasa penting adalah dokumentasi.

Sejelek atau sesederhana apa pun format yang kita punya, mencatat tetap lebih baik daripada tidak punya catatan sama sekali.

Kita bisa merekam pekerjaan, menulis laporan, menyimpan data, dan mendokumentasikan keputusan walaupun bentuknya belum sempurna.

Karena ketika suatu saat organisasi perlu melakukan evaluasi, setidaknya ada sesuatu yang bisa dibaca kembali.

Formatnya mungkin masih berantakan. Definisinya belum seragam. Ada data yang belum lengkap. Namun, semua itu masih bisa diperbaiki.

Yang sulit diperbaiki adalah masa lalu yang sama sekali tidak pernah dicatat.

Tanpa dokumentasi, kita hanya bergantung pada ingatan. Padahal ingatan mudah bias, berbeda antara satu orang dan yang lain, dan sering hanya menyimpan kejadian yang paling baru atau paling emosional.

Dokumentasi memberi jejak.

Dari jejak itu, kita bisa mulai melihat pola, menemukan ketidaksesuaian, dan memahami apa yang benar-benar terjadi.

2. Mulai Dulu, Lalu Periksa

Banyak sistem kerja dibangun dengan prinsip mulai saja dulu.

Menurut saya, itu tidak selalu salah. Kalau menunggu semuanya sempurna, mungkin kita tidak pernah benar-benar mulai.

Namun, prinsip mulai dulu harus selalu punya kelanjutan: periksa, evaluasi, lalu perbaiki.

Ketika data satu dengan yang lain mulai dibandingkan, kekurangannya akan terlihat.

Ada indikator yang ternyata tidak punya ukuran jelas. Ada pekerjaan yang tidak terhubung dengan target. Ada bagian yang tumpang tindih. Ada juga hal penting yang justru terlewat.

Semua itu wajar kalau sistemnya masih berkembang.

Masalahnya bukan karena sistem awalnya belum sempurna.

Masalah muncul kalau kita merasa karena sudah berjalan, berarti tidak perlu diperiksa lagi.

Evaluasi membantu kita melihat mana yang benar-benar mendukung tujuan dan mana yang hanya menjadi aktivitas rutin tanpa hubungan yang jelas.

Dengan menyandingkan data, kita jadi lebih mudah membedakan antara pekerjaan yang terasa sibuk dan pekerjaan yang benar-benar membawa hasil.

3. Alignment Butuh Mentalitas Belajar

Proses alignment akan sulit dilakukan kalau semua orang terlalu takut terlihat salah.

Padahal, saat diperiksa, sangat mungkin ada hal yang belum sinkron. Ada target yang kurang tepat. Ada laporan yang tidak cukup menggambarkan realita. Ada fungsi yang masih tumpang tindih atau bahkan belum terwakili sama sekali.

Menurut saya, itu tidak apa-apa.

Lebih baik menemukan kekurangan sekarang daripada terus menjalankan sistem yang salah hanya karena tidak ingin mengakuinya.

Alignment membutuhkan mentalitas bahwa sistem bisa diperbaiki, target bisa disesuaikan, dan cara kerja bisa diluruskan.

Tidak apa-apa pernah salah arah.

Yang penting, kita punya mekanisme untuk mengetahui bahwa arahnya mulai melenceng dan punya keberanian untuk mengembalikannya.

Mengejar kesempurnaan sejak awal sering membuat orang tidak bergerak.

Namun, membiarkan ketidaksempurnaan tanpa evaluasi juga membuat organisasi terus berjalan dalam arah yang tidak jelas.

Yang dibutuhkan adalah keberanian memulai dan kerendahan hati untuk terus memperbaiki.

Selaras Tidak Terjadi Otomatis

Alignment tidak muncul hanya karena semua orang bekerja di perusahaan yang sama.

Orang bisa sangat sibuk, tetapi bergerak ke arah yang berbeda. Divisi bisa mencapai targetnya sendiri, tetapi tidak memberi kontribusi berarti kepada tujuan organisasi. Individu bisa terlihat produktif, tetapi pekerjaan yang dilakukannya belum tentu sesuai dengan ekspektasi perannya.

Karena itu, keselarasan perlu dibangun dengan sengaja.

Pekerjaan, laporan, KPI, target divisi, dan tujuan organisasi harus diperiksa hubungannya.

Dokumentasi membantu kita melihat masa lalu. Data membantu kita membaca kenyataan. Evaluasi membantu kita menentukan apa yang harus diperbaiki.

Memang, semakin banyak celah yang ditemukan, semakin banyak pekerjaan baru yang muncul.

Namun, menurut saya itu tetap pekerjaan yang menyenangkan.

Karena setidaknya sekarang kita tahu bagian mana yang berlubang, bagian mana yang bengkok, dan bagian mana yang perlu diluruskan.

Lebih baik punya banyak pekerjaan perbaikan karena melihat realita daripada merasa semuanya baik-baik saja hanya karena kita tidak pernah memeriksanya.

Mulai dulu.

Catat perjalanannya.

Lalu, ketika arahnya mulai melenceng, jangan takut untuk meluruskannya.

Exit mobile version