Ben Robani Blog

Hari 200: Konsistensi Selalu Punya Jalan Pulang

Hari ini terasa cukup istimewa.

Tulisan ini sudah sampai pada Hari 200. Artinya, ada 200 hari dan 200 konten yang sudah diupayakan selama tahun ini.

Tahun sebelumnya, saya hanya sampai sekitar Hari 20.

Banyak hal sudah terjadi sejak tulisan pertama dibuat. Ada kesibukan yang datang, orang-orang yang datang dan pergi, urusan keluarga, pekerjaan, perusahaan, sampai berbagai hal yang rasanya lebih mendesak untuk dipikirkan.

Namun, fakta bahwa tulisan ini masih diperjuangkan sampai hari ini terasa menyenangkan.

Saya jadi teringat motivasi awal ketika memulainya. Banyak hal terjadi dalam kehidupan dan pekerjaan, tetapi sering kali semuanya berlalu begitu saja tanpa sempat dicatat.

Sebagai orang yang berada di depan, saya juga merasa bahwa apa yang kita minta dari orang lain seharusnya lebih dulu terlihat dalam diri kita sendiri.

Hari ke-200 ini bukan sekadar soal jumlah tulisan.

Ini adalah pengingat tentang janji, gangguan, dan kemampuan untuk kembali.

1. Sulit Menagih Jika Tidak Mencontohkan

Setiap awal tahun, saya biasa mengajak tim untuk punya resolusi.

Saya ingin mereka punya mentalitas untuk terus tumbuh dan menjadi lebih baik. Resolusinya bisa berbeda-beda, tetapi harapannya sama: ada sesuatu yang dengan sadar ingin diperjuangkan sepanjang tahun.

Masalahnya, resolusi sering hanya bersemangat pada awalnya.

Setelah beberapa bulan, sebagian mulai lupa. Ada juga yang mungkin sejak awal hanya menulis karena diminta, bukan karena benar-benar ingin menjalankannya.

Sebagai pemimpin, saya ingin bisa menanyakan kembali capaian mereka. Saya ingin mengingatkan janji yang pernah mereka buat kepada dirinya sendiri.

Namun, bagaimana saya bisa menagih konsistensi orang lain kalau resolusi saya sendiri tidak dijalankan?

Menulis setiap hari adalah salah satu resolusi saya tahun ini.

Karena itu, sampai di Hari 200 memberi saya alasan yang lebih kuat untuk mengatakan kepada tim bahwa konsistensi memang bisa diupayakan.

Bukan karena saya selalu disiplin dan tidak pernah tertinggal.

Justru karena dalam prosesnya ada banyak gangguan, ketidakteraturan, dan momen ketika saya sendiri hampir kehilangan ritme.

Menjadi orang di depan bukan berarti selalu paling sempurna.

Namun, setidaknya kita harus bersedia menunjukkan bahwa apa yang kita minta dari orang lain juga kita perjuangkan sendiri.

2. Konsistensi Selalu Bertemu Gangguan

Ada momen ketika tulisan ini mulai tidak konsisten.

Bukan karena menulisnya membutuhkan resource yang sangat besar. Namun, selalu ada urusan lain yang terasa lebih penting, lebih mendesak, atau lebih layak mendapatkan perhatian terlebih dahulu.

Ada urusan keluarga. Ada persoalan perusahaan. Ada agenda yang datang tanpa direncanakan. Ada juga distraksi kecil yang seharusnya bisa diabaikan, tetapi ternyata cukup untuk merusak ritme.

Kita sering membayangkan konsistensi sebagai kemampuan untuk menolak semua gangguan.

Padahal, hidup tidak bekerja seperti itu.

Tidak semua gangguan bisa ditolak. Beberapa hal memang penting dan harus kita dahulukan. Ada situasi ketika kita perlu berhenti, mengubah prioritas, atau memberi perhatian penuh kepada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.

Karena itu, mungkin konsistensi bukan berarti tidak pernah terganggu.

Konsistensi adalah kemampuan untuk mengenali bahwa kita sedang keluar dari jalur, lalu tetap menyediakan jalan untuk kembali.

Kita tidak perlu menyangkal bahwa gangguan itu ada.

Justru dengan mengakuinya, kita bisa membedakan mana gangguan yang memang perlu diterima dan mana distraksi yang hanya sedang mencari alasan untuk mengambil perhatian.

3. Kembali Lebih Penting daripada Sempurna

Hal terpenting dari perjalanan sampai Hari 200 mungkin bukan bahwa semua hari dijalani dengan sempurna.

Ada hari ketika lupa. Ada hari ketika fokusnya terpecah. Ada bagian yang terlambat, kurang rapi, atau tidak berjalan sesuai rencana.

Namun, selalu ada kesempatan untuk kembali.

Motivasinya bisa datang dari mana saja.

Bisa karena kita ingin lebih keras kepada diri sendiri. Bisa karena sesuatu itu memang penting untuk kita. Bisa juga karena kita ingin membuktikan kepada orang lain bahwa kita mampu menjalankan apa yang pernah kita ucapkan.

Kita ingin menjadi orang yang benar-benar melakukan pekerjaannya. Bukan hanya pandai membuat rencana, tetapi juga sanggup walk the talk.

Apa pun motivasinya, selama resolusinya baik dan prosesnya juga baik, mungkin tidak perlu terlalu lama diperdebatkan.

Jalankan saja.

Kita kadang terlalu keras menilai satu kegagalan kecil. Sekali terlewat, rasanya semuanya sudah rusak. Sekali ritmenya hilang, kita merasa harus memulai lagi dari nol.

Padahal, tidak selalu begitu.

Salah tidak apa-apa. Terlambat tidak apa-apa. Kurang konsisten juga bukan berarti seluruh perjuangannya kehilangan arti.

Yang berbahaya bukan keluar dari jalur.

Yang berbahaya adalah merasa tidak layak kembali hanya karena pernah keluar dari jalur.

Hari Ini Layak Dirayakan

Sampai ke Hari 200 bukan sesuatu yang sangat mustahil.

Namun, juga bukan hal yang terjadi begitu saja.

Ada usaha, pengulangan, distraksi, rasa malas, prioritas lain, dan berkali-kali keputusan untuk kembali mengerjakannya.

Karena itu, hari ini layak menjadi milestone.

Bukan untuk merasa bahwa semuanya sudah selesai, tetapi untuk mengakui bahwa sesuatu yang dahulu hanya berupa resolusi sekarang sudah meninggalkan jejak yang nyata.

Hari pertama sudah dilewati. Satu bulan, dua bulan, satu kuartal, satu semester, Hari 100, dan sekarang Hari 200.

Kalau semua itu bisa dilalui, insyaallah Hari 300, Hari 400, atau hari ke berapa pun bukan sesuatu yang mustahil.

Mungkin nanti akan ada gangguan lagi.

Mungkin ritmenya kembali goyah. Namun, setidaknya sekarang saya sudah tahu satu hal:

Konsistensi tidak selalu berarti berjalan lurus tanpa berhenti.

Kadang konsistensi hanya berarti kita selalu tahu jalan untuk pulang.

Exit mobile version