Hari ini saya memulai rangkaian one-on-one dengan tim. Ini sudah jadi budaya pribadi saya: setiap kuartal saya ngobrol satu per satu, sekitar 30 menit per orang. Dimulai hari ini dan akan berlanjut beberapa hari ke depan sesuai kebutuhan.
Biasanya obrolannya bebas. Mereka boleh tanya apa saja. Kalau tidak ada pertanyaan, kita ngobrol hal lain. Menariknya, hari ini saya menyadari satu pola: jawaban saya ke beberapa pertanyaan berbeda ternyata mirip-mirip.
Dan kata kuncinya adalah: pola.
Bukan “pola pikir”, tapi pola dalam arti yang lebih sederhana dan lebih nyata: kebiasaan yang diulang, rutinitas yang dibentuk, dan akhirnya jadi default dalam hidup.
Ada tiga momen yang saya catat hari ini.
1) Tentang anak: apa yang kita biasakan, itu yang jadi standar
Ada obrolan soal cara memperlakukan anak.
Saya percaya anak itu start dari nol. Dan cara kita memperlakukannya dari awal akan membentuk standar: nanti dia akan “terbiasa” diperlakukan seperti itu.
Masalahnya, orang tua kadang mengambil shortcut:
- melakukan sesuatu yang cepat meredakan masalah,
- yang terasa instan,
- yang membuat “sekarang” jadi lebih mudah.
Tapi efeknya bisa panjang: kebiasaan anak terbentuk, lalu kita sendiri yang kewalahan untuk mempertahankannya. Akhirnya capek.
Maka saya pegang prinsip ini:
Biasakan anak pada hal-hal yang mudah kita lakukan secara konsisten.
Jangan biasakan yang membuat kita jadi kewalahan setiap hari.
Karena kalau kita membentuk pola yang sulit, kita sedang menyiapkan kesulitan yang berulang.
2) Tentang membaca buku: cinta membaca itu butuh satu “buku yang tepat”, lalu pola yang konsisten
Ada juga obrolan soal kebiasaan membaca.
Menurut saya membaca buku itu soal komitmen, tapi komitmen yang realistis. Dua hal yang biasanya bikin orang gagal bukan karena tidak mampu membaca, tapi karena:
- Tidak punya alasan yang jelas.
Membaca karena FOMO atau pengen terlihat keren biasanya cepat padam. Tapi membaca karena ingin menemukan jawaban, ingin upgrade diri, atau ingin punya ruang tenang—itu lebih tahan lama. - Belum ketemu buku yang bikin jatuh cinta.
Saya percaya: kadang kita cuma butuh satu buku yang cocok untuk membuat “membaca” terasa menyenangkan. Setelah itu, konsistensi lebih mungkin.
Setelah alasannya ketemu dan bukunya menarik, barulah masuk ke bagian yang sering disepelekan: bikin polanya.
- jam berapa bacanya?
- targetnya berapa halaman?
- kapan slot kosongnya?
Karena kalau tidak disempetin, membaca itu akan selalu kalah sama hal-hal yang “lebih mendesak”.
3) Tentang manajemen waktu dan tidur: rutinitas membosankan itu justru menyelamatkan
Ada yang menyinggung rutinitas saya yang terlihat padat dan bertanya: gimana caranya tetap bisa tidur dan tetap jalan.
Buat saya, tidur itu punya masa efektif. Misalnya saya tahu tubuh saya optimal dengan 6 jam tidur, maka itu jadi patokan. Kalau suatu hari terpaksa kurang, ya saya anggap itu konsekuensi pilihan dan tetap harus bertanggung jawab.
Maksud tanggung jawab di sini sederhana:
- kalau jam kerja saya ngantuk, saya tidak boleh “kabur” tidur karena itu jam tanggung jawab.
- kalau kurang tidur karena saya pilih nonton bola, ya itu juga tanggung jawab saya untuk tetap melek dan tidak merusak ritme kerja.
Dan lagi-lagi kuncinya balik ke kata yang sama: pola.
Kita perlu rutinitas yang jelas:
- jam segini ngapain
- jam segini ngapain
Memang membosankan. Memang repetitif. Tapi justru itu yang membuat hidup lebih mudah, karena kita tidak terus menerus negosiasi dengan diri sendiri.
Dan pola itu bisa berubah sesuai fase hidup:
- pola mahasiswa beda,
- pola kerja beda,
- pola menikah beda,
- pola punya anak beda.
Tapi di tiap fase, kita butuh satu hal yang sama: mencari formula pola yang paling masuk akal, lalu menjalaninya cukup lama sampai jadi kebiasaan.
Hari ini saya menyimpulkan satu kalimat yang ingin saya pegang:
Niat itu bagus, tapi hidup berjalan oleh pola.
Besok one-on-one lanjut lagi. Kita lihat catatan apa yang muncul.