Ben Robani Blog

Hari 20: Pola Itu Membentuk Hidup (Anak, Buku, dan Waktu)

Hari ini saya memulai rangkaian one-on-one dengan tim. Ini sudah jadi budaya pribadi saya: setiap kuartal saya ngobrol satu per satu, sekitar 30 menit per orang. Dimulai hari ini dan akan berlanjut beberapa hari ke depan sesuai kebutuhan.

Biasanya obrolannya bebas. Mereka boleh tanya apa saja. Kalau tidak ada pertanyaan, kita ngobrol hal lain. Menariknya, hari ini saya menyadari satu pola: jawaban saya ke beberapa pertanyaan berbeda ternyata mirip-mirip.

Dan kata kuncinya adalah: pola.

Bukan “pola pikir”, tapi pola dalam arti yang lebih sederhana dan lebih nyata: kebiasaan yang diulang, rutinitas yang dibentuk, dan akhirnya jadi default dalam hidup.

Ada tiga momen yang saya catat hari ini.


1) Tentang anak: apa yang kita biasakan, itu yang jadi standar

Ada obrolan soal cara memperlakukan anak.

Saya percaya anak itu start dari nol. Dan cara kita memperlakukannya dari awal akan membentuk standar: nanti dia akan “terbiasa” diperlakukan seperti itu.

Masalahnya, orang tua kadang mengambil shortcut:

Tapi efeknya bisa panjang: kebiasaan anak terbentuk, lalu kita sendiri yang kewalahan untuk mempertahankannya. Akhirnya capek.

Maka saya pegang prinsip ini:

Biasakan anak pada hal-hal yang mudah kita lakukan secara konsisten.
Jangan biasakan yang membuat kita jadi kewalahan setiap hari.

Karena kalau kita membentuk pola yang sulit, kita sedang menyiapkan kesulitan yang berulang.


2) Tentang membaca buku: cinta membaca itu butuh satu “buku yang tepat”, lalu pola yang konsisten

Ada juga obrolan soal kebiasaan membaca.

Menurut saya membaca buku itu soal komitmen, tapi komitmen yang realistis. Dua hal yang biasanya bikin orang gagal bukan karena tidak mampu membaca, tapi karena:

  1. Tidak punya alasan yang jelas.
    Membaca karena FOMO atau pengen terlihat keren biasanya cepat padam. Tapi membaca karena ingin menemukan jawaban, ingin upgrade diri, atau ingin punya ruang tenang—itu lebih tahan lama.
  2. Belum ketemu buku yang bikin jatuh cinta.
    Saya percaya: kadang kita cuma butuh satu buku yang cocok untuk membuat “membaca” terasa menyenangkan. Setelah itu, konsistensi lebih mungkin.

Setelah alasannya ketemu dan bukunya menarik, barulah masuk ke bagian yang sering disepelekan: bikin polanya.

Karena kalau tidak disempetin, membaca itu akan selalu kalah sama hal-hal yang “lebih mendesak”.


3) Tentang manajemen waktu dan tidur: rutinitas membosankan itu justru menyelamatkan

Ada yang menyinggung rutinitas saya yang terlihat padat dan bertanya: gimana caranya tetap bisa tidur dan tetap jalan.

Buat saya, tidur itu punya masa efektif. Misalnya saya tahu tubuh saya optimal dengan 6 jam tidur, maka itu jadi patokan. Kalau suatu hari terpaksa kurang, ya saya anggap itu konsekuensi pilihan dan tetap harus bertanggung jawab.

Maksud tanggung jawab di sini sederhana:

Dan lagi-lagi kuncinya balik ke kata yang sama: pola.

Kita perlu rutinitas yang jelas:

Memang membosankan. Memang repetitif. Tapi justru itu yang membuat hidup lebih mudah, karena kita tidak terus menerus negosiasi dengan diri sendiri.

Dan pola itu bisa berubah sesuai fase hidup:

Tapi di tiap fase, kita butuh satu hal yang sama: mencari formula pola yang paling masuk akal, lalu menjalaninya cukup lama sampai jadi kebiasaan.


Hari ini saya menyimpulkan satu kalimat yang ingin saya pegang:

Niat itu bagus, tapi hidup berjalan oleh pola.

Besok one-on-one lanjut lagi. Kita lihat catatan apa yang muncul.

Exit mobile version