Ben Robani Blog

Hari 193: Bukan Soal Kerja di Mana

Setelah pandemi, banyak perusahaan kembali bekerja dari kantor.

Namun, model kerja WFH, work from anywhere, dan berbagai bentuk kerja fleksibel tetap menjadi idola. Banyak orang merasa tidak perlu menghabiskan waktu di jalan, terjebak commuter, atau menjalani rutinitas pulang-pergi yang melelahkan.

Secara teori, kerja fleksibel terdengar sangat menarik.

Masalahnya, fleksibilitas akan sulit dijalankan kalau accountability-nya tidak jelas.

Ketika seseorang tidak berada di depan mata, perusahaan mulai bertanya: apakah dia benar-benar bekerja? Apakah pekerjaannya berjalan? Kenapa chat tidak segera dibalas? Apakah kepercayaan yang diberikan sedang disalahgunakan?

Di sisi lain, pekerja juga bisa merasa terus dicurigai dan dipantau, seolah-olah bekerja hanya dianggap terjadi ketika terlihat.

Padahal, inti masalahnya mungkin bukan orang tersebut bekerja dari mana.

Masalahnya adalah apakah kita sudah jelas tentang apa yang diharapkan darinya.

1. Fleksibilitas Dimulai dari Kepercayaan

Ketika perusahaan membuka pekerjaan fleksibel, perusahaan sebenarnya sedang memberikan kepercayaan yang besar.

Kita mempercayakan seseorang untuk menjalankan tanggung jawab tanpa harus selalu berada di depan kita. Ia harus mampu mengatur waktu, menjaga komunikasi, dan menyelesaikan pekerjaan meskipun tidak terus-menerus diawasi.

Tanpa kepercayaan, kerja fleksibel akan berubah menjadi pengawasan jarak jauh.

Manajer ingin tahu orangnya sedang apa, aktif atau tidak, online atau tidak, kenapa belum menjawab, dan berbagai hal kecil lainnya. Akhirnya, energi perusahaan habis untuk memantau aktivitas, bukan memperbaiki hasil.

Tentu saja kepercayaan tidak berarti membiarkan semuanya tanpa kontrol.

Namun, kontrolnya harus sehat.

Kita memberi kepercayaan lebih dahulu, lalu melihat apakah orang tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan itu memang layak dipertahankan.

Karena kalau sejak awal kita tidak percaya, mungkin masalahnya bukan pada model WFH-nya. Bisa jadi kita memang belum siap mempekerjakan orang tanpa melihatnya terus-menerus.

2. Ukur Output, Bukan Setiap Menit

Sebagai pengganti pengawasan menit per menit, perusahaan perlu memperjelas output.

Apa yang harus selesai hari ini? Apa hasil yang diharapkan dalam satu minggu? Kapan seseorang harus bisa dihubungi? Situasi seperti apa yang membutuhkan respons cepat? Dan pekerjaan apa yang dinilai dari kualitas hasil, bukan kecepatan membalas chat?

Kadang-kadang kita masih membawa ekspektasi kantor ke dalam kerja remote.

Kita membayangkan orang tersebut duduk di cubicle sebelah sehingga bisa dipanggil kapan saja. Ketika chat tidak langsung dijawab, kita merasa orangnya tidak bekerja.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah respons cepat memang bagian penting dari pekerjaannya?

Kalau pekerjaannya menangani pelanggan, menjaga operasional, atau menyelesaikan situasi darurat, kecepatan respons tentu bisa menjadi indikator kinerja.

Namun, kalau pekerjaannya membutuhkan fokus panjang, kita tidak bisa terus menuntut orang selalu responsif dan pada saat yang sama berharap mereka menghasilkan pekerjaan mendalam.

Yang harus diperjelas bukan sekadar jam aktifnya.

Yang harus diperjelas adalah hasil, standar kualitas, deadline, waktu respons, serta kondisi yang membutuhkan koordinasi langsung.

Kalau ukuran kerjanya masih kabur, kekecewaan akan terus muncul dari ekspektasi yang sebenarnya tidak pernah disepakati.

3. Accountability Terlihat dari Pola

Accountability memang tidak selalu mudah terlihat ketika interview.

Hampir semua orang bisa mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab, disiplin, mampu bekerja mandiri, dan terbiasa bekerja secara fleksibel.

Namun, kualitas tersebut baru benar-benar terlihat ketika pekerjaan berjalan.

Apakah orang tersebut tetap memenuhi komitmen ketika tidak diawasi? Apakah ia memberi kabar ketika ada hambatan? Apakah deadline dijaga? Apakah ia jujur ketika targetnya berisiko tidak tercapai? Apakah perubahan situasi membuatnya ikut mengubah komitmen secara sepihak?

Perusahaan perlu memberikan rambu-rambu yang jelas terlebih dahulu.

Setelah itu, lihat polanya.

Kalau seseorang tetap bekerja sesuai standar, berkomunikasi dengan baik, dan menghasilkan apa yang dijanjikan, berarti ia menunjukkan accountability.

Sebaliknya, kalau aturan hanya dipenuhi ketika sedang diperhatikan, lalu kualitasnya menurun ketika situasi lebih longgar, mungkin memang ada masalah pada tanggung jawabnya.

Accountability tidak dibuktikan melalui satu hari yang sempurna.

Ia terlihat dari konsistensi ketika tidak ada orang yang terus-menerus mengingatkan.

Kepercayaan Perlu Dibuktikan

Bekerja di kantor maupun bekerja dari mana saja sama-sama punya kelebihan dan kekurangan.

Ada orang yang datang ke kantor setiap hari, tetapi tidak menghasilkan banyak hal. Ada juga orang yang bekerja dari tempat berbeda dan tetap mampu memberikan hasil yang dibutuhkan.

Karena itu, lokasi tidak seharusnya menjadi ukuran utama produktivitas.

Yang lebih penting adalah apa yang diharapkan, apakah ekspektasi itu sudah disampaikan dengan jelas, bagaimana hasilnya diperiksa, dan bagaimana evaluasi diberikan.

Kerja fleksibel tidak akan berjalan hanya dengan slogan kebebasan.

Ia membutuhkan kepercayaan, ukuran kerja yang jelas, komunikasi yang sehat, dan konsekuensi ketika komitmen tidak dijalankan.

Menurut saya, prinsipnya sederhana.

Berikan kepercayaan kepada orang yang kita pekerjakan. Lalu beri mereka kesempatan untuk membuktikan bahwa kepercayaan tersebut memang layak diberikan.

Karena kerja fleksibel bukan tentang membebaskan orang dari tanggung jawab.

Justru ia menguji apakah seseorang tetap bertanggung jawab ketika tidak ada yang terus-menerus melihatnya.

Exit mobile version