Ben Robani Blog

Hari 188: Transparansi Butuh Bukti

Banyak perusahaan ingin dikenal sebagai perusahaan yang transparan.

Apalagi perusahaan yang bekerja di bidang impact. Kepercayaan publik sering kali tidak hanya dibangun dari janji, tetapi dari kemampuan menunjukkan apa yang benar-benar sudah dilakukan.

Masalahnya, tidak semua hal yang seharusnya diperlihatkan ternyata mudah untuk dipamerkan.

Ada data yang belum rapi. Ada dokumen yang belum siap diakses. Ada informasi yang sebenarnya tersedia, tetapi tersebar di banyak tempat. Ada juga hal-hal yang memang tidak bisa dibuka sepenuhnya karena berkaitan dengan privasi, keamanan, atau perjanjian dengan pihak lain.

Akhirnya, nilai transparan hanya terdengar sebagai klaim.

Perusahaan mengatakan dirinya terbuka, tetapi orang dari luar kesulitan melihat bukti dari keterbukaan tersebut.

1. Transparan Harus Didefinisikan

Membangun perusahaan dengan nilai transparan ternyata tidak mudah.

Kata transparan bisa punya banyak makna. Apakah transparan berarti semua hal di dalam perusahaan harus bisa dilihat oleh publik? Apakah seluruh data, keputusan, dan proses harus dibuka tanpa batas?

Tentu tidak sesederhana itu.

Setiap perusahaan tetap punya informasi yang harus dijaga. Ada data pelanggan, dokumen legal, strategi bisnis, informasi karyawan, serta berbagai hal yang memang tidak layak dibuka kepada semua orang.

Karena itu, transparansi perlu didefinisikan.

Apa yang akan kita buka? Kepada siapa informasi tersebut bisa diakses? Dalam bentuk apa? Seberapa rutin diperbarui? Dan bagian mana yang tetap harus dilindungi?

Tanpa definisi yang jelas, transparansi mudah disalahartikan.

Orang di luar bisa merasa perusahaan menyembunyikan sesuatu. Sementara orang di dalam merasa semua hal harus dibuka, padahal ada batas yang memang perlu dijaga.

Transparansi bukan berarti tidak punya rahasia sama sekali.

Transparansi berarti jujur tentang apa yang bisa dibuka, apa yang belum tersedia, dan apa yang memang tidak dapat dibagikan beserta alasannya.

2. Transparansi Membutuhkan Instrumen

Nilai tidak cukup hanya ditulis di website atau dimasukkan ke dalam presentasi perusahaan.

Kalau kita ingin transparansi menjadi sesuatu yang nyata, kita harus menyediakan instrumennya.

Data perlu dicatat. Dokumen perlu dirapikan. Proses perlu bisa ditelusuri. Informasi perlu dibuat mudah ditemukan dan dipahami oleh orang yang membutuhkannya.

Untuk perusahaan impact, misalnya, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa kegiatan kita menghasilkan dampak.

Orang perlu bisa melihat dampaknya terjadi di mana, siapa yang menerima manfaat, bagaimana prosesnya dilakukan, indikator apa yang digunakan, dan apa keterbatasan dari hasil yang dilaporkan.

Kalau semua informasi tersebut hanya tersimpan di internal, orang lain tidak punya cukup alasan untuk mempercayainya.

Mereka hanya diminta percaya kepada klaim kita sendiri.

Transparansi membutuhkan kerja yang kadang tidak terlihat: membangun dashboard, merapikan laporan, menyimpan bukti, membuat metodologi, memperbarui data, dan menyediakan kanal untuk mengaksesnya.

Jadi, transparansi bukan hanya sikap.

Ia juga merupakan kemampuan operasional.

3. Kritik Adalah Bukti Kepedulian

Ketika kita membuka sesuatu kepada publik, selalu ada kemungkinan orang menemukan kekurangan.

Ada angka yang dipertanyakan. Ada data yang dianggap belum lengkap. Ada proses yang diminta diperjelas. Bahkan hal yang menurut kita kecil bisa saja menjadi bahan komentar.

Respons pertama kita mungkin merasa terganggu.

Kita sudah berusaha terbuka, tetapi justru dikritik. Rasanya lebih aman kalau sejak awal tidak perlu menunjukkan apa-apa.

Namun, kritik tersebut sebenarnya juga bisa menjadi bukti bahwa orang menganggap nilai transparansi kita penting.

Mereka melihat kita sebagai perusahaan yang terbuka, sehingga mereka berharap standar keterbukaan itu benar-benar dijaga.

Banyak perusahaan menuliskan berbagai nilai, tetapi tidak pernah ditagih untuk membuktikannya. Bukan karena mereka sudah sempurna, tetapi mungkin karena orang tidak cukup percaya bahwa nilai itu benar-benar hidup.

Kalau ada orang yang memeriksa, bertanya, atau menunjukkan kekurangan dari apa yang kita buka, berarti ada perhatian terhadap komitmen tersebut.

Tugas kita bukan langsung defensif.

Tugas kita adalah membedakan mana kritik yang bisa memperbaiki sistem dan mana tuntutan yang memang berada di luar batas transparansi yang sudah kita tetapkan.

Terbuka untuk Dipercaya

Memilih transparansi sebagai nilai perusahaan berarti bersedia menerima konsekuensinya.

Kita harus lebih disiplin mencatat, lebih siap menjelaskan, dan lebih terbuka ketika ada kekurangan.

Itu memang tidak selalu nyaman.

Namun, di dunia ketika banyak orang menutup-nutupi kepentingan, proses, bahkan kejadian sebenarnya demi keuntungan sendiri, transparansi bisa menjadi pembeda yang berarti.

Bukan karena perusahaan yang transparan tidak pernah punya masalah.

Justru karena ketika ada masalah, perusahaan tersebut tidak sibuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Transparansi yang dijalankan dengan benar bisa meningkatkan trust antara perusahaan, pelanggan, mitra, dan publik.

Namun, trust tidak lahir hanya karena kita mengatakan diri kita transparan.

Trust tumbuh ketika orang lain bisa melihat buktinya, memahami batasnya, dan menyaksikan bagaimana kita bertanggung jawab terhadap hal-hal yang kita buka.

Karena transparansi bukan tentang memamerkan semuanya.

Transparansi adalah keberanian untuk menunjukkan hal yang relevan, menjelaskan yang belum sempurna, dan tetap bersedia diperiksa.

Exit mobile version