Ada satu kebiasaan yang cukup sering terjadi di organisasi. Ketika muncul masalah, pertanyaan pertama yang kita ajukan adalah: siapa yang salah?
Kita mulai mencari orang yang menyebabkan keterlambatan, orang yang hasilnya kurang baik, atau orang yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan benar.
Akhirnya, seluruh perhatian kita tertuju pada individu.
Orang ini kurang teliti. Orang itu tidak cukup kompeten. Orang yang lain tidak punya rasa memiliki. Evaluasi berhenti pada siapa yang harus ditegur, diberi sanksi, atau bahkan diganti.
Padahal, ketika situasinya dilihat dari jarak yang lebih jauh, masalahnya belum tentu hanya ada pada orangnya. Bisa jadi ada sistem yang tidak cukup jelas, tidak lengkap, atau memang belum mampu membantu orang bekerja dengan baik.
1. Kadang Memang Salah Orang
Tentu saja, tidak semua masalah harus dibebankan kepada sistem.
Kalau dalam satu tim semua orang bekerja dengan proses, fasilitas, dan arahan yang sama, tetapi hanya ada satu orang yang terus tertinggal, bisa jadi masalahnya memang ada pada individu tersebut.
Apalagi kalau orang lain sudah mampu mengikuti standar, mencapai hasil, dan memperbaiki kesalahannya, sementara satu orang terus mengulang masalah yang sama.
Pada situasi seperti ini, evaluasi terhadap orang tetap perlu dilakukan. Bisa jadi ada persoalan kompetensi, sikap, disiplin, atau memang ketidakcocokan dengan perannya.
Jadi, melihat sistem bukan berarti membebaskan semua orang dari tanggung jawab pribadi.
Namun, kita juga tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan bahwa setiap masalah pasti disebabkan oleh orang yang menjalankannya.
2. Masalah Berulang Adalah Sinyal
Hal yang perlu kita waspadai adalah ketika masalah yang sama terus muncul, bahkan setelah orangnya diganti.
Orang lama dianggap tidak mampu, lalu digantikan orang baru. Beberapa waktu kemudian, orang baru mengalami kesulitan yang sama. Setelah itu diganti lagi, tetapi masalahnya tetap muncul dalam bentuk yang mirip.
Kalau pola tersebut terus berulang, mungkin yang perlu dievaluasi bukan lagi siapa orangnya, tetapi bagaimana sistem kerjanya.
Bisa jadi SOP-nya belum cukup jelas. Pembagian perannya tumpang tindih. Standar keberhasilannya tidak pernah didefinisikan. Data yang dibutuhkan tidak tersedia. Atau proses evaluasinya baru dilakukan ketika masalah sudah terlalu besar.
Top performer sekalipun bisa gagal ketika ditempatkan dalam sistem yang membingungkan.
Kalau siapa pun yang duduk di kursi itu terus tersandung di tempat yang sama, jangan-jangan ada sesuatu di kursinya, bukan hanya di orang yang duduk.
3. Sistem Tidak Pernah Final
Kadang kita sulit mengevaluasi sistem karena sistem tersebut kita sendiri yang membuatnya.
Mengakui ada kekurangan di dalamnya terasa seperti mengakui bahwa keputusan kita sebelumnya salah. Karena itu, jauh lebih mudah mencari kekurangan pada orang lain daripada membuka kembali sesuatu yang sudah kita susun.
Padahal, sistem organisasi seharusnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang final.
Selalu ada celah yang belum terlihat, kondisi yang berubah, atau asumsi yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Sistem yang baik bukan sistem yang tidak pernah salah, tetapi sistem yang bisa dievaluasi ketika menghasilkan masalah.
Kalau kita terbuka terhadap kemungkinan bahwa sistemnya belum sempurna, kita tidak hanya menyelesaikan satu kasus. Kita memperbaiki kondisi kerja bagi semua orang yang akan menjalankan peran tersebut setelahnya.
Sebaliknya, kalau setiap masalah hanya diselesaikan dengan mengganti orang, kita mungkin hanya mengganti pemeran tanpa mengubah jalan ceritanya.
Dewasa Melihat Masalah
Kedewasaan dalam memimpin bukan hanya terlihat dari keberanian mengevaluasi orang. Kedewasaan juga terlihat dari kesediaan mengevaluasi sistem yang kita bangun sendiri.
Memang lebih mudah menunjuk siapa yang salah. Kita bisa memberi teguran, sanksi, atau mencari pengganti, lalu merasa masalahnya sudah ditangani.
Namun, mengganti orang belum tentu menyelesaikan akar persoalan.
Sebelum berhenti pada kesimpulan bahwa seseorang tidak mampu, kita perlu mengambil jarak dan melihat pola yang lebih besar. Apakah hanya orang tersebut yang mengalami masalah, atau siapa pun yang berada di posisi itu selalu menghadapi persoalan yang sama?
Karena kadang-kadang masalahnya memang ada pada orangnya.
Namun, kalau terus terjadi kepada orang yang berbeda, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Siapa yang salah?”
Lalu mulai bertanya, “Apa yang salah dari cara kita bekerja?”