Ben Robani Blog

Hari 179: Preventif Bukan Tidak Penting

Permasalahan selanjutnya yang ingin saya bahas adalah tentang pekerjaan yang tidak terlihat penting atau tidak terasa urgent karena sifatnya preventif.

Pekerjaan seperti merapikan dokumen, membuat governance, memastikan compliance, menyusun arsip, atau menutup celah risiko kadang dianggap kalah penting dibanding pekerjaan lain yang lebih kelihatan hasilnya.

Sales terlihat jelas karena ada revenue.
Marketing terlihat jelas karena ada campaign, traffic, leads, atau exposure.
Operasional terlihat jelas karena ada delivery.

Sementara pekerjaan preventif sering terasa “tidak sedang menghasilkan apa-apa”.

Padahal anggapan itu tidak tepat.

Karena tidak semua pekerjaan penting harus terlihat mendesak hari ini. Ada pekerjaan yang nilainya baru terasa ketika organisasi bertumbuh, ketika risiko muncul, atau ketika ada masalah yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Menurut saya, ada tiga sudut pandang yang perlu kita lihat.

1. Kalau Dibutuhkan Perusahaan, Berarti Penting

Hal pertama, kalau sebuah pekerjaan ada dan memang dibutuhkan oleh perusahaan, maka pekerjaan itu penting.

Mungkin tidak urgent.
Mungkin tidak terlihat langsung hasilnya.
Mungkin tidak menghasilkan revenue hari itu juga.
Mungkin tidak kelihatan “wah” di laporan mingguan.

Tapi bukan berarti tidak penting.

Karena idealnya, tidak ada pekerjaan di perusahaan yang benar-benar tidak menghasilkan apa-apa. Kalau ada pekerjaan yang sama sekali tidak punya kontribusi, berarti yang perlu dievaluasi adalah proses hiring, pembagian peran, atau manpower planning-nya.

Jadi masalahnya bukan pekerjaan itu sepele.

Mungkin kontribusinya yang belum dijelaskan.
Mungkin dampaknya yang belum terlihat.
Mungkin ukurannya yang belum tepat.
Mungkin orang lain belum memahami kenapa pekerjaan itu diperlukan.

Pekerjaan preventif sering tidak terlihat karena ia bekerja sebelum masalah muncul.

Ia bukan pemadam kebakaran yang datang saat api sudah besar. Ia seperti memastikan kabel listrik tidak korslet dari awal.

Tidak ramai, tapi penting.

2. Preventif Menjaga dari Risiko

Hal kedua, pekerjaan preventif memang sifatnya jangka panjang.

Ia bertugas menghindari risiko, menjaga compliance, merapikan governance, dan memastikan perusahaan tidak punya celah yang bisa menjadi masalah di kemudian hari.

Karena itu, pekerjaan preventif tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan pekerjaan yang direct ke revenue.

Sales bisa menghasilkan omzet.
Marketing bisa menghasilkan leads.
Partnership bisa membuka kolaborasi.
Tapi governance, legal, compliance, dokumentasi, dan administrasi menjaga agar semua yang dihasilkan itu tidak runtuh karena risiko yang tidak disiapkan.

Bayangkan perusahaan punya revenue besar, tapi dokumennya berantakan.
Bayangkan penjualan naik, tapi ada celah hukum yang dilanggar.
Bayangkan campaign berhasil, tapi data dan perjanjiannya tidak aman.
Bayangkan organisasi tumbuh, tapi governance-nya tidak siap.

Revenue memang penting.

Tapi revenue tidak cukup kalau perusahaan tidak bisa berjalan dengan aman.

Sering kali nilai pekerjaan preventif baru terasa ketika risiko sudah terjadi. Ketika ada masalah hukum, audit, pajak, komplain, konflik, atau krisis internal, barulah orang sadar bahwa pekerjaan yang dulu terasa “tidak urgent” ternyata sangat penting.

Dan biasanya, ketika sudah sampai titik itu, biaya memperbaikinya jauh lebih mahal.

3. Nilainya Ada di Masa Depan

Hal ketiga, pekerjaan preventif sering kali bekerja untuk masa depan.

Bukan masa kini.
Bukan masa lalu.
Tapi masa depan yang belum terjadi.

Itulah kenapa sering tidak terasa.

Kalau risiko belum muncul, orang merasa aman. Kalau masalah belum terjadi, orang merasa semuanya baik-baik saja. Kalau celah belum menjadi krisis, orang merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Padahal justru di situlah fungsi pekerjaan preventif.

Ia menjaga agar masalah tidak terjadi.
Ia menyiapkan perusahaan agar lebih siap tumbuh.
Ia memastikan kalau organisasi membesar, fondasinya tidak rapuh.
Ia membuat bisnis punya keberlangsungan, bukan hanya pertumbuhan sesaat.

Kalau bisnis yang kita inginkan adalah bisnis jangka panjang, maka kita harus peka terhadap hal-hal yang berpotensi menghambat kita di masa depan.

Karena makin besar organisasi, makin besar juga risikonya.

Hal yang dulu bisa diselesaikan dengan chat informal, nanti mungkin butuh SOP.
Hal yang dulu bisa diingat oleh satu orang, nanti harus masuk dokumentasi.
Hal yang dulu bisa berdasarkan rasa percaya, nanti harus diperjelas dalam perjanjian.
Hal yang dulu bisa fleksibel, nanti harus punya governance.

Pekerjaan preventif mungkin terasa jauh dari bisnis sehari-hari.

Tapi ketika organisasi makin besar, pekerjaan seperti ini justru menjadi fondasi yang menahan semuanya tetap berdiri.

Semua Pekerjaan Perlu Saling Menopang

Pada akhirnya, semua pekerjaan dalam organisasi harusnya saling support.

Tidak ada yang perlu merasa paling dominan.
Tidak ada yang perlu merasa paling sepele.
Tidak semua pekerjaan harus punya dampak yang sama.
Tidak semua pekerjaan harus terlihat dengan cara yang sama.

Ada pekerjaan yang terlihat hari ini.
Ada pekerjaan yang terasa bulan depan.
Ada pekerjaan yang manfaatnya baru muncul ketika risiko berhasil dihindari.

Pekerjaan preventif sering kalah spotlight karena tidak selalu direct ke revenue. Tapi bukan berarti tidak punya kontribusi.

Ia hanya bekerja di spektrum yang berbeda.

Beda waktu.
Beda cara ukur.
Beda bentuk dampak.
Beda jenis kontribusi.

Dan justru karena berbeda, organisasi perlu belajar melihatnya dengan lebih adil.

Karena perusahaan yang ingin tumbuh besar tidak hanya butuh pekerjaan yang menghasilkan.

Ia juga butuh pekerjaan yang menjaga.

Exit mobile version