Saatnya kembali membahas permasalahan yang sering terjadi di organisasi.
Masalah kali ini adalah: banyak ide liar, tapi minim eksekusi.
Ini sering terjadi ketika kita membuka ruang untuk submit ide, brainstorming, atau ngobrol tentang apa yang ingin dikerjakan. Dalam sesi seperti itu, biasanya muncul banyak ide yang menarik.
Kadang idenya liar.
Kadang tidak terpikirkan sebelumnya.
Kadang terdengar aneh di awal.
Kadang terasa terlalu besar, terlalu jauh, atau terlalu berbeda dari kebiasaan.
Tapi justru di situ menariknya.
Masalahnya, ketika ide itu harus turun ke eksekusi, atensinya sering tidak sama. Di awal semua terlihat semangat, tapi begitu harus dibuat rencana, dicari PIC, dihitung risikonya, dan diuji di lapangan, banyak ide akhirnya menguap begitu saja.
Padahal ide liar punya tempat penting dalam organisasi.
Tapi ide liar juga butuh kaki agar bisa berjalan.
Menurut saya, ada tiga perspektif yang bisa dipakai.
1. Ide Liar Perlu Diapresiasi
Hal pertama, ide liar tetap perlu diapresiasi.
Karena kadang organisasi justru butuh ide-ide seperti itu.
Ketika cara-cara yang biasa sudah tidak cukup berhasil, ketika strategi yang monoton tidak lagi menghasilkan perubahan, ketika kita merasa mentok dengan pola lama, ide liar bisa menjadi pengungkit.
Tentu tidak semua ide liar bisa langsung dijalankan.
Ada yang terlalu mahal.
Ada yang terlalu berisiko.
Ada yang belum sesuai timing.
Ada yang belum punya resource.
Ada yang belum cukup matang.
Tapi keberanian orang untuk mengeluarkan ide tetap penting.
Karena tidak semua orang berani menyampaikan sesuatu yang berbeda. Tidak semua orang mau terlihat “aneh” di forum. Tidak semua orang mau mengambil risiko idenya ditertawakan, diabaikan, atau dianggap tidak realistis.
Maka sebelum menilai apakah idenya bisa dieksekusi atau tidak, kita perlu mengapresiasi keberanian itu.
Orang yang berani menaruh ide sebenarnya sedang menaruh peluang.
Dan peluang tidak selalu datang dalam bentuk yang rapi.
2. Turunkan Jadi Konsep yang Bisa Dicoba
Hal kedua, ide liar perlu diturunkan menjadi konsep yang lebih bisa dieksekusi.
Tidak semua ide harus langsung dijalankan dalam skala besar.
Justru sering kali ide liar perlu dicoba dalam bentuk yang lebih kecil.
Bisa dengan trial.
Bisa dengan pilot project.
Bisa dengan simulasi.
Bisa dengan eksperimen terbatas.
Bisa dengan versi paling sederhana yang risikonya lebih kecil.
Tujuannya bukan langsung membuktikan bahwa ide itu pasti berhasil.
Tujuannya adalah melihat apakah ide itu punya kemungkinan untuk berjalan di dunia nyata.
Karena ada ide yang terlihat bagus di atas kertas, tapi ternyata sulit dieksekusi. Ada juga ide yang awalnya terdengar terlalu liar, tapi setelah diturunkan skalanya, ternyata cukup masuk akal untuk dicoba.
Di sinilah peran organisasi penting.
Bukan hanya menjadi tempat ide dikumpulkan, tapi juga tempat ide diproses.
Ide perlu diterjemahkan menjadi:
Apa tujuan kecilnya?
Siapa targetnya?
Apa bentuk percobaan paling ringan?
Apa risiko yang bisa dikontrol?
Apa indikator bahwa trial ini layak dilanjutkan?
Siapa PIC-nya?
Dengan begitu, ide tidak berhenti sebagai wacana.
Ia punya peluang untuk diuji.
3. Respons Serius Menumbuhkan Ownership
Hal ketiga, cara kita merespons ide sangat menentukan apakah orang akan mau berkontribusi lagi.
Sering kali orang malas mengeluarkan ide bukan karena tidak punya ide.
Tapi karena ide-ide sebelumnya tidak pernah ditanggapi dengan serius.
Mungkin langsung dipatahkan.
Mungkin dibiarkan menggantung.
Mungkin tidak ada follow up.
Mungkin dianggap terlalu aneh.
Mungkin hanya dicatat, lalu hilang.
Padahal ketika seseorang menyampaikan ide, seliar apa pun, itu adalah peluang untuk memperluas ownership.
Artinya, orang itu sedang merasa punya kepedulian. Ia tidak hanya menunggu arahan, tapi mencoba ikut memikirkan kemungkinan.
Kalau respons kita buruk, ownership itu bisa mengecil.
Orang jadi berpikir, “Ngapain kasih ide kalau tidak pernah dianggap?”
Akhirnya organisasi kehilangan sumber alternatif.
Padahal semakin banyak orang berani menawarkan ide, semakin kaya pilihan yang bisa dipertimbangkan.
Tentu bukan berarti semua ide harus dijalankan.
Tapi semua ide layak ditanggapi dengan sikap yang cukup serius.
Minimal didengar.
Minimal diklarifikasi.
Minimal diberi alasan kenapa belum bisa jalan.
Minimal diarahkan ke bentuk trial yang lebih mungkin.
Dengan begitu, orang merasa kontribusinya dihargai.
Ide Banyak Itu Anugerah
Banyak ide adalah anugerah.
Sedikit ide adalah challenge.
Tapi yang paling penting bukan sekadar banyak atau sedikitnya ide.
Yang paling penting adalah bagaimana masalah yang kita hadapi bisa dipecahkan dengan banyak alternatif.
Organisasi butuh ide liar untuk keluar dari pola lama. Tapi organisasi juga butuh disiplin untuk menurunkan ide itu menjadi sesuatu yang bisa diuji.
Kalau hanya liar, ia bisa jadi wacana.
Kalau hanya realistis, ia bisa jadi monoton.
Maka tugas kita adalah menjaga keduanya.
Berani membuka ruang untuk ide yang tidak biasa, tapi tetap punya proses untuk membawanya ke eksekusi.
Karena ide liar tidak harus langsung besar.
Kadang ia hanya perlu diberi kaki kecil untuk mulai berjalan.