Masih mencoba mencari masalah yang sering terjadi di perusahaan, lalu kita uraikan opsi, pandangan, atau POV yang bisa dipakai untuk melihatnya.
Masalah kali ini adalah: terlalu banyak tim yang statusnya menunggu arahan.
Mereka tidak punya inisiatif untuk menawarkan opsi atau solusi yang mereka pikirkan. Ketika ada masalah, mereka menunggu ditanya. Ketika ada pekerjaan, mereka menunggu diarahkan. Ketika ada kebuntuan, mereka menunggu keputusan dari atas.
Ini kadang menjadi tantangan ketika kita hire tim dengan mindset eksekutor.
Mereka bisa menjalankan tugas dengan baik. Mereka bisa menyelesaikan pekerjaan ketika instruksinya jelas. Tapi belum tentu terbiasa menjadi problem solver. Belum tentu terbiasa berpikir kritis. Belum tentu terbiasa datang dengan opsi.
Mungkin juga market talent yang bisa kita jangkau mayoritas memang masih seperti ini. Banyak orang terlatih untuk mengerjakan, tapi belum tentu terlatih untuk menganalisis, menawarkan, dan mengambil inisiatif.
Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, ini bisa menjadi beban organisasi.
Menurut saya, ada tiga POV yang bisa kita pakai.
1. Tidak Bisa Terus Disuapi
Hal pertama, kita tidak bisa membiarkan tim terus-menerus hanya menunggu arahan.
Mungkin kalau kita punya ratusan ide, waktu yang longgar, dan energi yang tidak terbatas, menyuapi semua orang satu per satu terlihat mungkin saja dilakukan.
Tapi kenyataannya, resource kita terbatas.
Waktu terbatas.
Energi terbatas.
Fokus terbatas.
Jumlah orang yang bisa memberi arahan juga terbatas.
Kalau semua orang harus terus diberi arahan detail, maka manajer atau pimpinan akan habis waktunya hanya untuk menyuapi pekerjaan orang per orang.
Ini boros sekali.
Bukan hanya boros waktu, tapi juga membuat organisasi sulit tumbuh. Karena semua keputusan, semua ide, dan semua solusi berhenti di segelintir orang di atas.
Padahal ketika perusahaan makin kompleks, tidak mungkin semua hal harus menunggu arahan pusat.
Tim perlu belajar membaca masalahnya sendiri.
Tim perlu belajar menawarkan opsi.
Tim perlu belajar datang bukan hanya dengan pertanyaan, tapi juga dengan dugaan solusi.
Kalau tidak, organisasi akan selalu lambat.
Bukan karena tidak ada orang yang bekerja, tapi karena terlalu banyak orang menunggu disuruh bergerak.
2. Critical Thinking Harus Dibiasakan
Hal kedua, tim perlu dibiasakan punya critical thinking.
Critical thinking bukan berarti semua orang harus jadi pemikir besar atau ahli strategi. Tapi minimal, ketika melakukan pekerjaan, mereka tahu kenapa pekerjaan itu dilakukan, bagaimana cara terbaik melakukannya, dan apakah ada cara yang lebih baik.
Jangan hanya berhenti di “yang penting selesai”.
Karena pekerjaan yang selesai belum tentu pekerjaan yang benar-benar tepat.
Tim perlu dibiasakan bertanya:
Masalahnya apa?
Tujuannya apa?
Kenapa ini perlu dilakukan?
Apa risiko kalau tidak dilakukan?
Apa opsi yang tersedia?
Apa dampak jangka pendeknya?
Apa dampak jangka panjangnya?
Apa cara yang paling masuk akal dengan resource yang ada?
Pertanyaan seperti ini harus menjadi kebiasaan, bukan sesuatu yang hanya muncul saat evaluasi.
Karena kalau orang hanya dijadikan eksekutor, ia akan menjadi beban ketika kebutuhan perusahaan berubah.
Hari ini mungkin dia cocok di satu pekerjaan. Tapi ketika job desk berubah, strategi berubah, atau perusahaan butuh adjustment, ia akan kesulitan kalau tidak punya kemampuan berpikir yang cukup fleksibel.
Sebaliknya, orang yang punya critical thinking akan lebih mudah menyesuaikan diri.
Dipindah posisi, bisa belajar.
Ditambah tanggung jawab, bisa memetakan.
Menghadapi masalah baru, bisa mulai mencari opsi.
Maka tugas perusahaan bukan hanya memberi pekerjaan.
Tapi juga melatih cara berpikir.
3. Bangun Rasa Percaya Diri
Hal ketiga, kita perlu menanamkan rasa percaya diri pada tim.
Kadang orang tidak menawarkan solusi bukan karena tidak punya pikiran sama sekali. Bisa jadi karena takut salah. Takut dianggap sok tahu. Takut kalau idenya buruk. Takut harus bertanggung jawab jika sarannya dipakai dan hasilnya tidak sesuai harapan.
Maka kalau kita ingin tim lebih inisiatif, kita perlu membuat mereka merasa dipercaya.
Bukan hanya sebagai orang yang menyelesaikan pekerjaan, tapi sebagai orang yang punya keahlian di bidangnya.
Kita perlu memberi ruang agar mereka merasa boleh berpikir, boleh menawarkan, boleh salah dengan cara yang bisa dievaluasi, dan boleh belajar dari prosesnya.
Tapi tentu bukan berarti datang kosong.
Yang perlu dibiasakan adalah: jangan datang hanya dengan “saya tidak tahu”.
Datanglah dengan riset.
Datanglah dengan masalah yang sudah dipahami.
Datanglah dengan beberapa opsi.
Datanglah dengan perkiraan dampak.
Datanglah dengan pertanyaan yang lebih matang.
Dengan begitu, manajer atau pimpinan bisa memberi komentar dari titik yang lebih maju, bukan mulai dari nol.
Misalnya, daripada bilang:
“Saya bingung harus gimana.”
Lebih baik bilang:
“Saya melihat ada tiga opsi. Opsi pertama lebih cepat tapi risikonya ini. Opsi kedua lebih aman tapi butuh waktu. Opsi ketiga bisa dicoba kalau resource terbatas. Menurut saya yang paling masuk akal opsi kedua, tapi saya butuh masukan.”
Ini jauh lebih membantu.
Karena yang dibutuhkan bukan tim yang selalu benar.
Tapi tim yang berani berpikir sebelum bertanya.
Inisiatif Perlu Dilatih, Bukan Ditunggu
Masalah tim yang terlalu menunggu arahan memang tidak bisa selesai dalam satu hari.
Apalagi kalau sejak awal mereka terbiasa menjadi eksekutor. Akan berat untuk langsung berharap mereka berubah menjadi problem solver yang matang.
Tapi justru karena berat, harus mulai dibiasakan.
Jangan biarkan semua orang datang kosong.
Jangan biarkan semua solusi hanya turun dari atas.
Jangan biarkan tim merasa aman hanya karena menunggu instruksi.
Jangan juga langsung mematahkan mereka ketika mencoba memberi opsi.
Kita perlu membangun kebiasaan baru.
Setiap masalah harus dibaca.
Setiap kebuntuan harus dicari opsinya.
Setiap pertanyaan harus disertai usaha memahami.
Setiap solusi harus dilatih, diuji, dan dievaluasi.
Karena organisasi yang sehat tidak bisa hanya bergantung pada satu dua orang yang berpikir.
Semua orang perlu ikut membawa pikirannya ke pekerjaan.
Bukan supaya semua orang menjadi pemimpin.
Tapi supaya semua orang tidak hanya menjadi penunggu arahan.