Ben Robani Blog

Hari 164: Memori yang Perlu Disimpan

Hari ini sudah kembali ke rumah.

Beberapa teman mungkin masih extend outing, melanjutkan perjalanan, atau menikmati waktu tambahan. Tapi saya memilih pulang karena ada banyak tanggung jawab lain yang harus dikerjakan.

Bukan cuma anak muda yang bisa jalan-jalan doang.

Setelah selesai outing, saya mulai melakukan beberapa hal yang menurut saya penting. Mengecek dokumentasi, memberikan apresiasi kepada teman-teman, dan membaca respons yang muncul setelah acara.

Ternyata setelah outing selesai, pekerjaannya belum benar-benar selesai.

Ada momen yang perlu dirapikan.
Ada ucapan terima kasih yang perlu disampaikan.
Ada memori yang perlu disimpan sebelum pelan-pelan tertutup oleh rutinitas lagi.

Dari proses setelah outing ini, ada tiga hal yang saya pelajari.

1. Dokumentasi Membantu Menyimpan Rasa

Hal pertama adalah dokumentasi.

Salah satu rencana ketika kami bisa bertemu bersama adalah mengambil foto. Untuk update foto profil, update foto tim, dan punya foto bersama dari masa ke masa.

Karena sebagai perusahaan yang banyak bekerja secara online dan WFA, kesempatan bertemu fisik seperti ini tidak terjadi setiap hari. Maka ketika akhirnya bisa berkumpul, dokumentasi menjadi penting.

Saya mengecek kembali foto-foto yang ada, baik dari dokumentasi resmi maupun dari teman-teman yang ikut membantu mengambil gambar.

Dan yang terasa adalah senyum.

Kebahagiaan.
Kebersamaan.
Momen-momen kecil yang mungkin ketika terjadi terasa biasa saja, tapi ketika dilihat ulang jadi terasa hangat.

Tentu mungkin ada juga momen capek, kesal, atau kurang menyenangkan yang tidak tertangkap kamera. Saya juga sadar dokumentasi sering menyimpan versi terbaik dari sebuah acara.

Tapi tetap saja, dari banyak foto yang saya cek, yang tersimpan kuat adalah rasa menyenangkan.

Mungkin karena beberapa momen memang direncanakan untuk difoto. Tapi justru dari situ terlihat bahwa ada kebahagiaan yang ingin disimpan.

Dan saya senang atas itu.

Karena dokumentasi bukan hanya soal punya foto bagus.

Dokumentasi adalah cara kita mengingat bahwa kebersamaan ini pernah terjadi.

2. Apresiasi Lebih Baik Kalau Spesifik

Hal kedua adalah apresiasi.

Tahun ini terasa berbeda dibanding tahun sebelumnya. Saya memang ikut menyiapkan, tapi eksekusinya dilakukan bersama-sama.

Ada banyak orang yang membantu. Ada yang terlihat jelas. Ada yang diam-diam mengambil peran. Ada yang memastikan hal kecil berjalan. Ada yang membantu di momen-momen yang mungkin tidak semua orang perhatikan.

Awalnya saya ingin menyampaikan apresiasi lewat grup saja.

Lebih cepat. Lebih praktis. Semua orang bisa baca.

Tapi setelah dipikir ulang, saya merasa ada hal-hal spesifik yang saya ingat dari masing-masing orang. Ada peran tertentu yang mereka ambil. Ada bantuan yang terasa personal. Ada momen ketika saya benar-benar merasa terbantu.

Akhirnya saya memilih chat personal satu per satu.

Saya sampaikan bagian mana yang saya rasa terbantu. Peran apa yang saya lihat. Hal apa yang saya apresiasi dari mereka.

Dan itu membuat saya lega.

Karena apresiasi yang spesifik terasa berbeda dari ucapan formalitas. Bukan sekadar “terima kasih semuanya”, tapi benar-benar menyebut bahwa saya melihat kontribusi mereka.

Kadang orang tidak hanya butuh diapresiasi.

Mereka juga butuh tahu bahwa perannya terlihat.

3. Respons Membuat Semua Terasa Berarti

Hal ketiga adalah membaca respons.

Bahkan sebelum saya menyampaikan apresiasi, sudah ada beberapa teman yang lebih dulu mengirim pesan. Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada yang menulis di grup bahwa outing ini menyenangkan. Ada yang merasa senang bisa bertemu semua orang. Ada yang bilang acaranya sudah disiapkan dengan baik dan terasa lebih baik dari tahun sebelumnya.

Respons-respons seperti itu berarti bagi saya.

Karena setelah melewati proses yang cukup panjang, capek, dan penuh evaluasi, mendengar bahwa orang lain tetap membawa pulang kesan baik itu rasanya melegakan.

Lebih dari itu, ketika saya menyampaikan terima kasih secara personal, respons mereka juga sangat positif.

Banyak yang justru merasa mereka yang lebih berhak berterima kasih karena sudah dibuatkan acara, disiapkan pengalaman, dan diberi kesempatan untuk bertemu bersama. Mungkin ada juga yang tidak menyangka acaranya akan terasa sebagus itu versi mereka.

Di titik itu, saya merasa usaha yang dilakukan tidak sia-sia.

Bukan karena acaranya sempurna.
Bukan karena tidak ada kekurangan.
Bukan karena semua berjalan sesuai rencana.

Tapi karena setelah semua kekacauan, evaluasi, dan capeknya, masih ada rasa baik yang dibawa pulang.

Outing Membuat Memori Bersama

Saya berharap kenangan outing ini bisa tersimpan sampai outing berikutnya.

Karena sedikit banyak, memang itu salah satu gunanya.

Outing bukan cuma jalan-jalan.
Bukan cuma pindah tempat kerja ke luar kota.
Bukan cuma foto bersama.
Bukan cuma aktivitas seru.

Outing adalah cara membuat memori bersama.

Apalagi ketika sehari-hari kami banyak bekerja secara WFA dan online. Memori kerja sering kali terasa terbatas. Banyak hal terjadi setiap hari, tapi cepat tertutup oleh chat, meeting, task, dan rutinitas berikutnya.

Berbeda dengan outing.

Ada momentum. Ada warna tersendiri. Ada tempat yang berbeda. Ada wajah-wajah yang akhirnya bertemu langsung. Ada cerita yang bisa diingat bersama.

Dan mungkin karena polanya berbeda dari hari-hari biasa, memorinya jadi lebih kuat.

Hari ini saya belajar bahwa setelah acara selesai, ada hal yang tetap perlu dirawat.

Dokumentasinya dicek.
Kontribusinya diapresiasi.
Responsnya dibaca.
Memorinya disimpan.

Karena acara bisa selesai dalam tiga hari.

Tapi memori yang baik bisa tinggal jauh lebih lama.

Exit mobile version