Ben Robani Blog

Hari 163: Penutupan yang Membasahi Mata

Hari ini adalah hari terakhir outing satu kantor.

Awalnya, saya berencana menutup outing dengan sesuatu yang visioner. Bicara tentang plan, strategi, arah perusahaan, kita mau ke mana, dan bagaimana perjalanan berikutnya.

Tapi ternyata keterbatasan saya untuk menyiapkan semua itu membuat penutupnya berubah arah.

Bukan ditutup dengan presentasi besar.
Bukan ditutup dengan rencana strategis.
Bukan ditutup dengan kalimat-kalimat ambisius tentang masa depan.

Outing ini justru ditutup dengan momen yang haru biru. Momen yang menyedihkan, dramatik, dan membuat mata saya benar-benar basah.

Ketika semua orang sudah dikumpulkan untuk penutupan, saya menyampaikan beberapa ungkapan. Setelah itu, kami menutup dengan salam-salaman. Rasanya seperti lebaran. Seperti silaturahmi. Seperti satu per satu orang saling menyampaikan say goodbye.

Dan di momen itu, air mata benar-benar jatuh.

Ada tiga hal yang membuat saya sedih, terpaku, dan stuck di hari terakhir outing ini.

1. Apresiasi yang Akhirnya Terucap

Hal pertama adalah apresiasi.

Di momen penutupan, saya memberi apresiasi kepada karyawan-karyawan senior yang tetap bertahan bersama kami.

Mereka adalah orang-orang yang pernah melewati masa tidak mudah. Bahkan ketika perusahaan pernah mengalami layoff massal dua tahun berturut-turut, mereka tetap stay. Mereka tetap membantu. Mereka tetap ada.

Beberapa dari mereka kini sudah menjadi manajer. Tapi sebelum sampai di titik itu, ada sejarah panjang yang tidak selalu mudah untuk diceritakan.

Saya merasa lega sekali akhirnya bisa memberikan apresiasi kepada mereka.

Mungkin apresiasinya tidak banyak. Mungkin belum sebanding dengan semua yang sudah mereka lakukan. Tapi minimal, ada sedikit beban yang turun dari pundak saya.

Karena selama ini saya merasa belum cukup berterima kasih.

Belum cukup mengakui.
Belum cukup menyampaikan.
Belum cukup membalas dukungan mereka di masa-masa yang berat.

Kadang orang yang paling lama berjuang bersama justru paling jarang diberi panggung untuk diapresiasi. Bukan karena kita tidak peduli, tapi karena kita terlalu sering menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang “memang sudah ada”.

Padahal bertahan itu juga perjuangan.

Dan hari ini, saya merasa lega karena akhirnya bisa mengucapkan terima kasih itu lebih langsung.

2. Bahagia Melihat Orang Bahagia

Hal kedua yang membuat saya haru adalah alasan kenapa kota ini dipilih sebagai tujuan outing.

Sebenarnya outing tahun ini bisa dilakukan di mana saja. Banyak pilihan kota, banyak pilihan tempat, banyak kemungkinan rute.

Tapi ada satu alasan personal di balik pilihan kota ini.

Ada seorang rekan yang punya cerita pilu. Ia ingin sekali pergi ke kota ini, tapi belum kesampaian. Lalu saya mencoba memperjuangkannya semaksimal mungkin.

Saat penutupan, ketika saya bersalaman dengan rekan ini, rasanya sangat berbeda.

Ada perasaan lega karena akhirnya bisa membantu mewujudkan sesuatu yang selama ini ia inginkan. Ada rasa senang melihat orang lain bahagia. Ada rasa bahagia yang muncul bukan karena saya mendapatkan sesuatu, tapi karena orang lain bisa merasakan sesuatu yang berarti bagi dirinya.

Di titik itu, saya seperti menemukan kembali satu hal tentang diri saya.

Ternyata tujuan hidup saya mungkin tidak seegois dan seambisius itu terhadap diri sendiri.

Saya memang punya mimpi. Punya target. Punya ambisi. Punya banyak hal yang ingin dicapai.

Tapi ternyata, salah satu hal yang paling membuat saya bahagia adalah melihat orang lain bahagia.

Melihat orang lain merasa diperjuangkan.
Melihat orang lain merasa diingat.
Melihat orang lain merasa keinginannya tidak dianggap sepele.

Itu memberi saya rasa bahagia yang berbeda.

Seolah tujuan hidup saya bertambah satu lagi: bukan hanya mencapai sesuatu untuk diri sendiri, tapi juga membantu orang lain merasakan kebahagiaan yang mungkin selama ini tertunda.

3. Saya Juga Butuh Dibantu

Hal ketiga yang membuat saya haru adalah tentang seorang rekan yang pernah punya cerita tidak enak dengan saya di outing sebelumnya.

Di outing sebelumnya, saya pernah marah kepadanya karena merasa ia tidak membantu saya waktu itu. Padahal sebenarnya ia sudah mencoba menawarkan bantuan. Mungkin waktu itu saya yang terlalu capek, terlalu penuh, dan tidak cukup baik dalam merespons.

Saya membawa ingatan itu cukup lama.

Tapi tahun ini, orang yang sama benar-benar standby membantu saya.

Dari perencanaan, persiapan, penyusunan banyak hal, sampai memastikan apa yang bisa dibantu, ia hadir dengan sangat serius.

Ia sering mengecek saya.

Apa yang bisa dibantu?
Persiapannya sudah bagaimana?
Ada yang perlu dikerjakan?
Apa yang bisa diambil alih?

Bahkan ketika saya mengirim chat untuk mengucapkan terima kasih, ia membalas dengan kalimat yang membuat saya semakin terharu.

Intinya, ia menyampaikan bahwa saya adalah bagian dari mereka. Bahwa mereka siap membantu. Bahwa saya tidak perlu merasa semuanya harus saya tanggung sendirian.

Kalimat itu sangat mengena.

Karena selama ini mungkin saya sering merasa diri saya adalah orang yang harus menyediakan banyak hal untuk orang lain. Menolong banyak orang. Membuka jalan. Menyediakan ruang. Mengurus banyak hal.

Tapi ternyata saya juga butuh bantuan.

Dan yang lebih mengharukan, orang-orang ternyata bersedia membantu saya.

Kadang kita terlalu lama merasa harus kuat sendirian, sampai lupa bahwa ada orang-orang yang sebenarnya siap berdiri di samping kita.

Hari ini saya diingatkan bahwa pemimpin juga manusia.

Bisa capek.
Bisa salah.
Bisa butuh ditolong.
Bisa butuh disangga.

Dan ketika bantuan itu datang dari orang-orang yang dulu pernah punya cerita tidak mudah dengan kita, rasanya jauh lebih dalam.

Yang Paling Diingat Bukan Selalu yang Paling Ramai

Hari pertama dan hari kedua outing berisi banyak aktivitas.

Main ke sana.
Main ke sini.
Pindah dari satu titik ke titik lain.
Ada perjalanan, permainan, makan bersama, dan banyak agenda.

Tapi ternyata yang paling kuat masuk ke memori justru momen terakhirnya.

Bukan karena paling ramai.
Bukan karena paling seru secara acara.
Bukan karena paling estetik untuk difoto.

Tapi karena paling terasa di hati.

Momen ketika apresiasi akhirnya terucap.
Momen ketika melihat orang lain bahagia.
Momen ketika sadar bahwa saya tidak sendirian.
Momen ketika orang-orang menunjukkan bahwa mereka mau berjuang bersama.

Hal-hal sederhana seperti salam-salaman, ucapan terima kasih, dan air mata ternyata bisa punya daya memori yang sangat kuat.

Mungkin memang begitu.

Kadang perjalanan bukan diingat dari berapa banyak titik yang dikunjungi.

Tapi dari perasaan apa yang berhasil dibawa pulang.

Dan dari outing kali ini, saya membawa pulang satu perasaan yang sangat besar: rasa syukur karena masih ada orang-orang yang mau berjalan bersama.

Exit mobile version