Ben Robani Blog

Hari 159: Kerja Tidak Selalu di Laptop

Hari Senin ini, satu kantor akan menjalani outing di luar kota.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya ritme kerja berubah. Tidak semua orang bisa duduk rapi di depan laptop, membuka dokumen, membalas task, atau mengikuti jam kerja seperti biasanya.

Tapi saya selalu ingin mengingatkan satu hal: pekerjaan tidak selalu harus dilakukan di depan laptop.

Ada banyak bentuk kontribusi yang tetap bisa dilakukan walaupun kita sedang mobile, sedang di jalan, sedang menunggu, atau sedang berada di luar rutinitas kantor.

Tentu saja, ada waktunya kita cuti dan benar-benar istirahat. Tapi kalau situasinya masih hari kerja, dan kita masih punya tanggung jawab, maka bekerja bisa mengambil bentuk yang berbeda.

Tidak selalu mengetik. Tidak selalu meeting. Tidak selalu membuka dashboard.

Kadang bekerja bisa berarti berpikir ulang, membuka komunikasi, atau belajar hal baru yang selama ini tertunda.

1. Evaluasi Diri

Hal pertama yang bisa dilakukan ketika sedang di jalan adalah evaluasi diri.

Saat kita sedang mengerjakan sesuatu, biasanya fokus kita ada pada menyelesaikan task. Kita mengejar deadline, menjawab chat, membuat dokumen, menyelesaikan laporan, atau memastikan pekerjaan selesai.

Tapi justru karena terlalu fokus bekerja, kita kadang tidak sempat mengevaluasi cara kita bekerja.

Apa yang sudah bagus?
Apa yang belum maksimal?
Apa yang perlu diperbaiki?
Apa yang harus diulang?
Apa yang sebaiknya tidak dilakukan lagi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering muncul bukan saat kita sedang sibuk di depan laptop, tapi ketika ada jeda.

Di jalan. Di kendaraan. Saat menunggu. Saat tidak sedang membuka banyak tab sekaligus.

Momen seperti itu bisa dipakai untuk mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tapi untuk memahami pekerjaan kita dengan lebih jernih.

Evaluasi seperti ini bisa sangat powerful.

Karena saat nanti kita kembali bekerja di depan laptop, kita tidak hanya membawa daftar task. Kita juga membawa kesadaran baru tentang bagaimana cara bekerja dengan lebih baik.

2. Membuka Komunikasi

Hal kedua yang bisa dilakukan di jalan adalah membuka kembali komunikasi.

Komunikasi di sini bukan berarti harus meeting. Bukan berarti harus telepon panjang. Bukan berarti harus langsung membahas hal berat.

Kadang cukup dengan mengecek kembali siapa saja yang pernah berkomunikasi dengan kita.

Kita bisa scroll chat lama.
Melihat email yang belum ter-follow up.
Mengecek DM sosial media bisnis.
Mengingat kembali percakapan yang dulu sempat mentok.
Melihat koneksi yang mungkin bisa dihubungi lagi.

Dalam pekerjaan, sering kali ada banyak peluang yang tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertunda karena tidak ditindaklanjuti.

Kadang bukan karena orangnya tidak tertarik. Tapi karena kita berhenti menghubungi. Kadang bukan karena komunikasinya selesai. Tapi karena tidak ada yang membuka percakapan lagi.

Waktu di jalan bisa dipakai untuk memetakan ulang hal-hal seperti ini.

Siapa yang perlu dihubungi?
Siapa yang perlu ditanyakan kabarnya?
Siapa yang perlu dikirim update?
Percakapan mana yang dulu berhenti terlalu cepat?

Syukur-syukur dari situ ada komunikasi yang bisa dilanjutkan kembali.

Karena kadang kontribusi tidak selalu datang dari membuat sesuatu yang baru. Bisa juga dari menghidupkan kembali percakapan yang sempat berhenti.

3. Belajar

Hal ketiga yang bisa dilakukan di jalan adalah belajar.

Ketika benar-benar sedang bekerja, sering kali belajar menjadi nomor sekian. Kita sibuk menjalankan tugas, menyelesaikan target, dan merespons hal-hal yang muncul setiap hari.

Padahal ada banyak hal yang sebenarnya perlu kita pelajari.

Di jalan, kita bisa mendengarkan podcast. Mendengarkan audiobook. Membaca buku. Membaca artikel. Browsing hal-hal yang selama ini terlewat. Bahkan sekarang, kita juga bisa mengeksplorasi AI untuk bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan tanggung jawab kita.

Belajar tidak harus selalu dalam bentuk kelas formal.

Kadang belajar bisa sesederhana mencari tahu satu konsep yang belum kita pahami. Mendengarkan obrolan yang membuka perspektif. Membaca satu artikel yang membuat kita lebih mengerti konteks pekerjaan.

Dan sering kali, hal kecil seperti itu bisa memberi pengaruh besar ketika kita kembali bekerja.

Karena pengetahuan baru bisa mengubah cara kita melihat masalah.

Bekerja Bentuknya Banyak

Refleksi hari ini sederhana: jangan terlalu menyempitkan makna bekerja.

Bekerja bukan hanya duduk di depan laptop. Bekerja bukan hanya mengetik dokumen. Bekerja bukan hanya meeting. Bekerja bukan hanya terlihat sibuk.

Bekerja juga bisa berarti mengevaluasi diri.
Bekerja juga bisa berarti membuka komunikasi.
Bekerja juga bisa berarti belajar agar bisa bekerja lebih baik.

Tentu, kalau memang sedang cuti, istirahatlah dengan sungguh-sungguh. Tidak semua waktu harus dipakai untuk produktif.

Tapi kalau situasinya memang masih bekerja, hanya saja sedang mobile atau sedang di jalan, maka kita tetap bisa berkontribusi dengan cara yang berbeda.

Karena tanggung jawab tidak selalu menunggu kita membuka laptop.

Kadang tanggung jawab hanya menunggu kita sadar bahwa ada banyak cara untuk tetap bergerak.

Exit mobile version