Ben Robani Blog

Hari 158: Konsisten Bukan Kaku

Hari Minggu harusnya saya membuat post tentang review buku.

Saya sempat punya target: satu minggu satu buku. Rasanya sederhana, bagus, dan memang penting untuk dijaga. Membaca membuat kepala tetap terisi. Membaca juga memberi bahan untuk berpikir, menulis, dan melihat sesuatu dari sudut yang lebih luas.

Tapi minggu ini ternyata tidak bisa lagi.

Bukan karena tidak mau membaca. Tapi karena ada hal lain yang harus saya tulis, dan urgensinya lebih tinggi. Jadi mungkin untuk beberapa minggu ke depan, review buku harus saya skip dulu.

Semoga nanti bisa dikejar lagi di minggu berikutnya.

Dari sini saya jadi berpikir tentang membaca, menulis, dan prioritas. Karena kadang kita terlalu ingin konsisten pada satu hal, sampai lupa bahwa hidup tidak selalu memberi ruang yang sama setiap minggu.

1. Membaca Membantu Memahami

Membaca memudahkan kita untuk tahu sesuatu.

Lewat buku, kita bisa memahami konteks, melihat pengalaman orang lain, dan menambah pengetahuan yang mungkin tidak kita dapat dari rutinitas sehari-hari.

Apalagi kalau kita benar-benar meluangkan waktu dengan baik.

Bukan sekadar membaca karena ingin selesai. Tapi membaca untuk menyerap, memahami, dan membiarkan ide-ide baru masuk ke kepala.

Saya merasa membaca itu seperti mengisi ulang bahan bakar pikiran.

Kadang kita tidak langsung tahu kapan isi bacaan itu akan berguna. Tapi suatu saat, ketika menghadapi masalah, menulis sesuatu, atau mengambil keputusan, ada saja potongan bacaan yang tiba-tiba muncul dan membantu.

Itulah kenapa membaca tetap penting.

Walaupun minggu ini harus tertunda, bukan berarti target membaca jadi tidak penting. Hanya saja, minggu ini memang ada prioritas lain yang perlu lebih dulu diselesaikan.

2. Menulis Mengeluarkan Isi Kepala

Kalau membaca adalah mengisi, menulis adalah mencurahkan.

Menulis membuat kita mengeluarkan apa yang pernah dibaca, dilihat, dialami, dan dipikirkan.

Kadang kita baru benar-benar paham sesuatu setelah mencoba menuliskannya. Karena ketika menulis, kita dipaksa menyusun ulang isi kepala. Mana yang inti, mana yang hanya tambahan, mana yang sebenarnya belum kita pahami.

Menulis juga sering lahir dari bacaan.

Semakin banyak yang kita baca, semakin banyak juga bahan yang bisa dipakai untuk menulis. Bukan berarti menyalin isi buku, tapi mengambil inspirasi, sudut pandang, atau pemahaman baru yang memperkaya tulisan kita.

Jadi membaca dan menulis sebenarnya saling berhubungan.

Membaca membantu kita punya bahan. Menulis membantu kita mengolah bahan itu menjadi sesuatu yang bisa dibagikan.

Keduanya penting. Hanya saja, kadang dalam satu waktu, salah satunya harus didahulukan.

Dan minggu ini, menulis harus lebih dulu.

3. Konsisten Tetap Perlu Prioritas

Saya percaya konsistensi itu penting.

Tapi konsisten bukan berarti kaku.

Kalau ada target yang ingin dikejar, kita memang perlu disiplin. Kalau ingin satu minggu satu buku, ya harus ada usaha untuk benar-benar menyediakan waktu membaca.

Tapi ketika ada hal yang lebih urgent, kita juga harus sadar.

Apa akibatnya kalau hal urgent itu ditinggalkan?
Apa dampaknya kalau tidak dikerjakan sekarang?
Apa risikonya kalau kita tetap memaksakan target pribadi, tapi tanggung jawab lain terbengkalai?

Jangan sampai kita terlalu bangga menjaga konsistensi di satu titik, tapi mengorbankan tanggung jawab yang lebih besar.

Karena konsistensi yang baik tetap perlu kebijaksanaan.

Ada waktunya target dikejar. Ada waktunya target digeser. Ada waktunya kita menerima bahwa minggu ini tidak ideal, tapi bukan berarti semuanya gagal.

Yang penting bukan sekadar tidak pernah skip.

Yang penting adalah tahu kenapa kita skip, dan kapan harus kembali lagi.

Prioritas Bukan Alasan

Refleksi hari Minggu ini membuat saya sadar bahwa membaca dan menulis sama-sama penting.

Membaca mengisi kepala. Menulis mengeluarkan isi kepala.

Tapi hidup kadang meminta kita memilih mana yang harus didahulukan lebih dulu.

Minggu ini saya harus menulis. Maka review buku saya tunda.

Semoga minggu depan sudah ada buku yang selesai lagi. Kalaupun belum, semoga saya tetap tahu apa yang sedang saya prioritaskan dan kenapa itu perlu dilakukan.

Karena konsistensi bukan tentang memaksa semua hal berjalan sesuai rencana.

Konsistensi juga tentang kembali lagi setelah sempat bergeser.

Target boleh tertunda.

Tanggung jawab jangan.

Exit mobile version