Hari-hari yang berat datang kembali.
Saya membuka diskusi one on one dengan beberapa manajer. Satu per satu. Membahas rencana, kendala, pencapaian, dan hal-hal yang masih terasa belum pas.
Salah satu pembahasan yang muncul di beberapa divisi adalah tentang kesesuaian antara apa yang dilakukan di level staf, level divisi, sampai relevansinya dengan goal perusahaan. Ujungnya tentu saja hal-hal besar seperti revenue, pertumbuhan, retensi, dan dampak yang ingin dicapai.
Yang menarik, kadang secara target bawah semuanya terlihat baik.
Tugas selesai. Angka tercapai. Aktivitas berjalan. Checklist terpenuhi.
Tapi pertanyaannya: kok dampaknya ke atas belum terasa signifikan?
Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab dalam satu meeting. Tapi dari diskusi itu, saya merasa ada tiga hal yang bisa jadi pembelajaran.
1. Bisa Jadi Targetnya Kurang Tepat
Hal pertama yang perlu kita sadari: bisa saja target yang kita buat di awal memang kurang tepat.
Ketika membuat target, kita sering berharap target itu bisa menjadi pendulum. Bisa menjadi domino. Bisa mendorong target di atasnya.
Target staf seharusnya berpengaruh ke target divisi. Target divisi seharusnya berpengaruh ke target perusahaan. Aktivitas kecil seharusnya punya jalur menuju hasil besar.
Tapi kalau hubungan itu tidak bisa dibuktikan, kita perlu bertanya ulang.
Apakah targetnya memang sudah benar?
Apakah aktivitas yang diukur memang punya pengaruh?
Atau jangan-jangan yang kita ukur hanya hal yang mudah dihitung, bukan hal yang benar-benar menggerakkan?
Karena target yang tercapai belum tentu target yang tepat.
Kadang semua orang sudah bekerja sesuai target, tapi targetnya tidak cukup kuat untuk menarik hasil yang lebih besar.
Dan itu bagian yang tidak enak untuk diakui.
2. Tidak Semua Dampak Muncul Cepat
Hal kedua, tidak semua hal yang kita lakukan punya dampak langsung.
Beberapa pekerjaan sifatnya jangka panjang. Perbaikannya hari ini, hasilnya bisa baru kelihatan satu bulan lagi, tiga bulan lagi, atau bahkan lebih lama.
Misalnya dalam proses komunikasi publik. Kita rilis sesuatu hari ini, belum tentu besok langsung ada orang yang memahami, tertarik, menghubungi, bernegosiasi, lalu menjadi revenue.
Ada perjalanan panjang di tengahnya.
Orang harus melihat dulu. Memahami dulu. Percaya dulu. Membandingkan dulu. Berdiskusi dulu. Baru mungkin mengambil keputusan.
Jadi ketika kita mengubah sesuatu, tidak selalu hasilnya bisa langsung terlihat.
Bisa jadi targetnya benar. Bisa jadi pekerjaannya benar. Tapi ekspektasi waktunya yang terlalu tinggi.
Kita ingin hasil cepat dari proses yang memang panjang.
Di sini penting untuk membedakan mana target yang salah, dan mana target yang benar tapi butuh waktu lebih lama untuk terlihat dampaknya.
Kalau tidak, kita bisa terlalu cepat mengganti strategi yang sebenarnya sedang bekerja pelan-pelan.
3. Kontrol yang Bisa Dikontrol
Hal ketiga, tugas kita adalah melakukan hal yang bisa kita kontrol.
Kalau yang bisa kita kontrol adalah aktivitas, kualitas, konsistensi, follow up, kecepatan respon, atau akurasi pekerjaan, maka itu yang harus kita navigasi dengan baik.
Dampak akhirnya tetap penting. Tapi tidak semua dampak bisa kita kontrol secara langsung.
Ada faktor orang lain. Ada faktor pasar. Ada faktor timing. Ada proses lintas divisi. Ada keputusan klien. Ada banyak hal yang tidak bisa sepenuhnya kita genggam.
Masalahnya, kalau kita terlalu fokus pada hal yang tidak bisa kita kontrol, kita bisa jadi sibuk mengejar semuanya tanpa ukuran yang jelas.
Akhirnya kita melakukan banyak hal, tapi tidak tahu mana yang bekerja. Tidak tahu mana yang perlu dihentikan. Tidak tahu mana yang harus diperbaiki.
Ambisinya besar, tapi alat ukurnya kabur.
Padahal kita butuh cukup waktu untuk melakukan sesuatu, mengukur sesuatu, mengevaluasi sesuatu, lalu memperbaikinya.
Bukan sekadar bergerak karena panik ingin hasil besar.
Tidak Semudah Kelihatannya
Refleksi hari ini membuat saya sadar bahwa menyambungkan target bawah ke dampak atas itu kelihatannya mudah, tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Di atas kertas, semuanya bisa terlihat rapi.
Setiap divisi punya target. Setiap orang punya pekerjaan. Setiap minggu ada update. Setiap bulan ada evaluasi.
Tapi pertanyaan terpentingnya tetap sama: apakah semua itu benar-benar menggerakkan tujuan besar perusahaan?
Kalau belum, bukan berarti semua orang salah.
Bisa jadi targetnya perlu diperbaiki. Bisa jadi waktunya belum cukup. Bisa jadi kita terlalu cepat ingin melihat hasil. Bisa jadi kita belum cukup disiplin membedakan mana yang bisa dikontrol dan mana yang tidak.
Ini pekerjaan yang tidak mudah.
Tapi justru karena tidak mudah, perlu dibicarakan terus. Perlu diuji. Perlu dikoreksi. Perlu dihubungkan ulang dari bawah sampai atas.
Karena kerja keras saja tidak cukup.
Kerja keras harus tersambung dengan arah yang benar.