Ben Robani Blog

Hari 153: Dekat Bukan Berarti Diam

Hari pertama kerja setelah libur, hari Selasa, ada satu pertanyaan yang cukup menarik untuk dipikirkan.

Ketika kita terlalu dekat dengan seseorang, punya attachment, punya hubungan baik, kadang kita jadi sulit menyampaikan hal-hal yang buruk tentang dia. Bahkan ketika ada kesalahan, kita bisa memilih menutupinya, menahannya, atau ikut menanggung salahnya.

Bukan karena kita tidak tahu itu salah. Tapi karena kita merasa kenal orangnya.

Kita tahu personality-nya. Kita tahu dia tidak seburuk kesalahan yang terlihat. Kita tahu mungkin ada konteks yang orang lain tidak tahu.

Tapi dalam dunia profesional, kedekatan tidak boleh membuat kita kehilangan keadilan.

Karena kalau semua hal yang salah ditoleransi hanya karena kita dekat, lama-lama hubungan itu bukan lagi saling mendukung. Bisa jadi malah saling membiarkan.

1. Adil Sejak Pikiran

Hal pertama yang perlu dijaga adalah adil sejak dalam pikiran.

Kalau ada orang berbuat benar dan baik, ya kita beri apresiasi. Kalau ada orang kurang atau salah, ya tetap perlu kita beri teguran.

Mau orang itu kita suka atau tidak, ukurannya harus tetap sama.

Orang yang tidak kita suka, ketika melakukan hal baik, tetap layak diapresiasi. Orang yang kita suka, ketika melakukan kesalahan, tetap perlu diingatkan.

Jangan sampai kesalahan kecil dari orang yang tidak kita suka terlihat sangat besar. Sementara kesalahan besar dari orang yang kita suka terus kita maklumi.

Itu tidak adil.

Dan dalam profesionalitas, rasa suka atau tidak suka tidak boleh menjadi alat ukur utama. Yang perlu dilihat adalah perilaku, dampak, dan tanggung jawab.

Kedekatan boleh membuat kita lebih memahami konteks. Tapi jangan sampai kedekatan membuat kita kehilangan objektivitas.

2. Tegur dengan Cara Baik

Masalahnya, semakin dekat kita dengan seseorang, semakin besar juga rasa sungkan.

Kita takut hubungan jadi berubah. Takut dia tersinggung. Takut dia merasa diserang. Takut suasana yang tadinya akrab jadi kaku.

Tapi kalau kesalahan dibiarkan, itu juga tidak benar.

Maka yang bisa kita lakukan adalah menegur dengan cara yang sebaik-baiknya.

Bukan dengan nada ofensif. Bukan dengan cara agresif. Bukan dengan tujuan mempermalukan. Tapi dengan niat tulus untuk mengingatkan.

Kita bisa memilih kalimat yang lebih jernih.

Misalnya, “Saya ngomong ini bukan untuk menyerang, tapi karena saya merasa ada yang perlu kita koreksi.”

Atau, “Kemarin saya dapat laporan yang kurang pas, mungkin kita bisa bahas bareng.”

Atau, “Karena kita dekat, saya justru merasa perlu menyampaikan ini langsung.”

Kadang yang membuat teguran terasa berat bukan isi pesannya, tapi cara menyampaikannya.

Kalau niatnya memperbaiki, pilihlah cara yang tetap menjaga martabat orang yang kita tegur.

3. Gunakan Perantara Bila Perlu

Kalau memang kita belum sanggup menyampaikan langsung, bukan berarti kita harus diam selamanya.

Kadang kita bisa menggunakan perantara.

Bukan untuk mengadu. Bukan untuk melempar masalah. Tapi untuk membantu memulai pembicaraan.

Ada situasi ketika pesan bisa lebih tenang diterima kalau disampaikan oleh orang lain yang lebih netral, lebih tepat waktunya, atau punya cara komunikasi yang lebih cocok.

Yang penting, tetap ada usaha untuk memperbaiki.

Karena kalau kita diam, tidak berani ngomong, tidak mencari cara, lalu kesalahan yang sama terus terjadi, dampaknya akan makin panjang.

Toleransi yang terlalu lebar karena kedekatan bisa berubah menjadi pembiaran.

Dan pembiaran dalam kerja profesional jarang berakhir baik.

Kedekatan Harus Tetap Sehat

Kedekatan dalam interaksi profesional sebenarnya membawa banyak kemudahan.

Kita bisa saling percaya. Bisa saling mendukung. Bisa lebih cepat memahami maksud satu sama lain. Bisa bekerja dengan rasa aman.

Tapi kalau kebablasan, kedekatan juga bisa membuat kita terlalu banyak memaafkan hal yang seharusnya dikoreksi.

Semua yang kurang ditoleransi. Semua yang salah dimaklumi. Semua yang perlu dibicarakan malah disimpan.

Padahal hubungan yang sehat bukan hubungan yang bebas dari teguran.

Justru hubungan yang sehat adalah hubungan yang masih punya ruang untuk saling mengingatkan.

Saya rasa, kita perlu berani mengambil risiko itu.

Karena kalau seseorang memang dekat, kalau dia memang teman, harusnya hubungan itu tidak putus hanya karena kita menyampaikan sesuatu yang baik dan benar.

Sahabat bukan orang yang membenarkan semua kesalahan kita.

Sahabat adalah orang yang berani berkata benar, saat orang lain memilih tidak peduli.

Exit mobile version