Ben Robani Blog

Hari 152: Libur yang Tidak Libur

Hari 152: Libur yang Tidak Libur

Hari Senin, 1 Juni, tanggal merah Hari Kelahiran Pancasila.

Sebagaimana hari libur, saya mencoba memanfaatkannya untuk pergi ke beberapa tempat. Tapi ternyata, banyak tempat yang mau saya kunjungi justru tutup. Mereka juga ikut libur.

Dari situ saya jadi kepikiran satu hal sederhana: kadang kita membayangkan punya usaha sendiri itu berarti punya kebebasan penuh. Bisa buka kapan saja, tutup kapan saja, kerja sesuka hati, libur sesuka hati.

Tapi di lapangan, ternyata tidak selalu begitu.

Ada banyak usaha kecil, usaha rumahan, dan usaha pinggir jalan yang justru tetap buka ketika orang lain libur. Bukan karena mereka tidak butuh istirahat. Tapi karena bagi sebagian orang, tanggal merah tetap tanggal untuk mencari rezeki.

1. Laundry Tetap Menunggu Cucian

Laundry adalah salah satu usaha rumahan yang sering tetap buka meskipun tanggal merah.

Apalagi kalau lokasinya di daerah komunal, dekat kos, perumahan, atau tempat tinggal padat. Orang bisa datang kapan saja. Ada yang mau mencuci, ada yang mau mengambil pakaian, ada juga yang baru ingat bajunya habis setelah liburan dimulai.

Lucunya, semakin banyak orang liburan, bisa jadi semakin banyak juga tumpukan baju kotor.

Jadi ketika sebagian orang menikmati tanggal merah, laundry justru berhadapan dengan konsekuensi tanggal merah itu sendiri: cucian bertambah.

Usahanya memang di rumah. Tapi bukan berarti otomatis bisa libur seperti orang lain.

2. Warung Kecil Selalu Dicari

Hal yang sama juga terlihat dari warung-warung kecil di depan rumah.

Warung Madura, warung sembako, warung jajanan, atau warung yang terlihat sederhana tapi selalu jadi penyelamat warga sekitar.

Karena posisinya di rumah, kadang buka warung terlihat seperti “tinggal buka pintu saja”. Padahal tetap ada tenaga, waktu, dan kesiapan yang harus disediakan.

Tanggal merah pun tetap ada orang yang butuh beli air mineral, mi instan, rokok, gula, gas, atau sekadar jajan.

Mereka sebenarnya bisa saja tutup. Tapi karena kebutuhan sekitar tetap ada, dan peluang rezeki juga tetap ada, akhirnya warung tetap buka.

Di satu sisi fleksibel. Di sisi lain, fleksibilitas itu kadang berarti siap melayani ketika orang lain sedang santai.

3. Jualan Pinggir Jalan Tetap Ikhtiar

Yang juga kelihatan adalah orang-orang yang jualan di pinggir jalan.

Mereka tidak selalu punya toko tetap. Tidak selalu punya pelanggan pasti. Kadang hanya mengandalkan orang lewat.

Masalahnya, ketika libur, jalan bisa lebih sepi. Orang tidak berangkat kerja, aktivitas harian berubah, arus lewat juga berubah.

Tapi sebagian dari mereka tetap jualan.

Mungkin karena daripada diam di rumah, lebih baik tetap mencoba. Daripada menunggu rezeki datang, lebih baik tetap buka peluang.

Di titik ini, saya merasa usaha memang bukan cuma soal kebebasan. Usaha juga soal keberanian untuk tetap hadir, bahkan ketika peluangnya belum tentu ramai.

Libur Mengajarkan Cara Melihat Kerja

Hari libur biasanya mengajarkan kita untuk istirahat.

Tapi hari libur juga bisa mengajarkan kita untuk melihat orang-orang yang tetap bekerja ketika orang lain berhenti sejenak.

Saya jadi berpikir, menjadi pebisnis atau pengusaha memang terdengar fleksibel. Tapi fleksibel bukan berarti selalu bebas. Kadang fleksibel berarti bisa memilih kapan istirahat. Kadang juga berarti tetap gas ketika ada sesuatu yang ingin dicapai.

Kalau tujuan kita berusaha adalah mencari kenyamanan, mungkin libur harus benar-benar dijaga.

Tapi kalau tujuan kita berusaha adalah mengejar sesuatu yang lebih besar, kadang tanggal merah pun tetap terasa seperti hari biasa.

Bedanya, kali ini kita yang memilih: mau istirahat, mau buka, atau mau tetap berikhtiar.

Dan dari laundry, warung kecil, sampai penjual pinggir jalan, saya belajar satu hal: bagi sebagian orang, tanggal merah bukan tanda berhenti. Itu hanya warna lain di kalender.

Rezeki tetap harus dicari. Bahkan saat kalender sedang menyuruh orang lain rebahan.

Exit mobile version