Hari ini saya dapat satu pelajaran yang bentuknya sederhana, tapi analoginya enak: menyusun strategi itu mirip permainan sepak bola.
Saya kepikiran pertanyaan klasik: kenapa striker sering dapat Ballon d’Or? Kenapa yang paling sering disorot itu orang yang bikin gol? Dan apakah pemain lain sebenarnya punya peran signifikan untuk membawa tim juara?
Jawabannya: iya—striker penting. Tapi tim juara itu bukan cuma striker. Dan lebih penting lagi: tim juara itu bukan cuma “semua orang jago”, tapi semua orang jalan dalam satu strategi.
Ada tiga learning yang saya bawa pulang hari ini.
1) Dalam tim memang harus ada “pencetak gol”
Di sepak bola, ujungnya sederhana: bola harus masuk gawang. Dan karena itu, orang yang tugasnya mencetak gol akan selalu terlihat paling “punya peran”.
Di bisnis juga sama. Dalam satu tim pasti ada yang tugasnya:
- bikin deal,
- nutup penjualan,
- memastikan revenue masuk,
- memastikan “ending”-nya terjadi.
Orang dengan peran ini harus punya kemampuan eksekusi: ketika bola sudah di kaki, dia bisa menyelesaikan. Dan wajar kalau imbalannya berbeda: di bola bisa jadi top scorer atau Ballon d’Or, di bisnis bisa berupa bonus, komisi, atau privilege lain.
Learning-nya: kita tidak boleh anti dengan peran yang terlihat paling mengkilap. Tim butuh orang yang berani dan mampu “nyetak gol”.
2) Tapi striker nggak bisa kerja sendirian
Masalahnya, striker tidak hidup di ruang hampa.
Kalau gelandangnya tidak bisa mengalirkan bola, striker tidak akan dapat peluang. Kalau sayapnya tidak bisa kirim umpan, striker akan kelaparan bola. Kalau pertahanannya bocor terus, tim kebobolan terus. Mau ngegolin berapa pun, kalau kebobolan lebih banyak… tetap kalah.
Saya suka kalimat ini karena terasa sangat jujur:
Mau bikin 100 gol pun, kalau kebobolan 200, ya tetap kalah.
Di bisnis pun sama:
- sales butuh lead yang berkualitas,
- produk dan operasional menentukan apakah pelanggan puas dan repeat,
- finance/legal menjaga agar kemenangan tidak berubah jadi masalah,
- marketing membangun awareness dan trust,
- dan tim back office memastikan mesin jalan.
Learning-nya: peran yang tidak terlihat di highlight tetap menentukan skor akhir. Tim juara itu kerja bersama, bukan kerja satu orang.
3) Kalau semua orang sudah latihan, tapi tetap nggak menang… mungkin nggak punya strategi
Learning ketiga paling “strategis”.
Kadang semua orang sudah kerja keras. Sudah latihan. Sudah niat. Tapi hasilnya tetap nggak menang-menang. Di sepak bola, mungkin masalahnya bukan individu—tapi strategi.
Misalnya tim memutuskan: kita mau menang lewat bola mati (set piece)—tendangan pojok, tendangan bebas. Kalau itu strategi utama, maka:
- targetnya adalah menciptakan sebanyak mungkin situasi bola mati,
- latihannya fokus pada crossing, positioning, sundulan, screening,
- semua pemain paham perannya di skema itu.
Lalu kalau tiba-tiba ada peluang dari penalti, blunder lawan, atau open play—ya syukuri. Ambil. Tapi inti latihannya tetap satu: strategi utama harus jelas.
Dan ini kalimat yang ingin saya simpan:
Strategi itu bukan menolak peluang lain, tapi menentukan fokus utama.
Karena tanpa strategi, tim cuma “main rame-rame”—kelihatan sibuk, tapi nggak ada arah kemenangan.
Hari ini saya pulang dengan rangkuman yang sederhana:
- Tim butuh pencetak gol.
- Tapi pencetak gol butuh tim yang mengantarkan bola dan menjaga skor.
- Dan semua itu tidak akan menang kalau tidak ada strategi yang disepakati.
Bukan cuma soal siapa yang paling bersinar.
Tapi soal apakah seluruh tim sedang main di permainan yang sama.
Besok lanjut lagi.