Ben Robani Blog

Hari 140: Mode Survival

Saya mendapat pertanyaan tentang apa yang membuat perusahaan saya bisa bertahan di tengah COVID-19.

Pertanyaan ini mungkin muncul karena ada kekhawatiran tentang kemungkinan hari-hari sulit yang bisa datang lagi. Bisa juga karena orang ingin diyakinkan bahwa kalau dulu kita pernah melewati masa sulit, berarti pengalaman itu bisa menjadi bukti bahwa kita punya bekal untuk menghadapi situasi berikutnya.

Tapi sebelum menjawab seolah-olah kami punya strategi yang sangat keren, saya perlu jujur dulu.

Kami juga mengalami hari yang sulit.

COVID bukan hanya cerita tentang perusahaan yang berhasil beradaptasi. Buat kami, itu juga masa yang penuh ketidakpastian, evaluasi, efisiensi, dan keputusan yang tidak mudah.

Kalau hari ini kami masih berdiri, mungkin salah satu alasannya adalah karena waktu itu kami sadar: ini bukan waktunya terlihat gagah. Ini waktunya bertahan.

1. Kami Juga Kesulitan

Hal pertama yang perlu saya akui adalah kami juga mengalami masa sulit saat COVID.

Kami harus melihat ulang kondisi tim, kondisi keuangan, dan kondisi perusahaan secara keseluruhan. Tidak ada yang benar-benar tahu waktu itu COVID akan berlangsung berapa lama, seberapa besar dampaknya, dan sejauh apa ia akan memengaruhi daya beli klien.

Ketidakpastiannya nyata.

Di masa itu, kami juga harus melakukan efisiensi. Bahkan ada keputusan layoff yang harus diambil.

Itu bukan keputusan yang mudah. Tidak pernah mudah. Karena di balik angka pengeluaran, ada manusia. Ada tim. Ada keluarga. Ada hubungan yang sudah dibangun.

Tapi krisis kadang memaksa kita melihat perusahaan dengan sangat jujur.

Apa yang bisa dipertahankan?

Apa yang harus dikurangi?

Apa yang jika tidak diputuskan sekarang, justru akan membuat semuanya semakin berat di depan?

Jadi kalau ditanya bagaimana kami bertahan, jawabannya bukan karena kami tidak terdampak.

Kami terdampak.

Tapi kami berusaha membaca situasi dan mengambil keputusan sebelum semuanya terlambat.

2. Masuk Mode Survival

Hal kedua yang waktu itu kami lakukan adalah masuk ke mode survival.

Bukan lagi mode eksploratif.

Bukan lagi mode mencoba semua hal.

Bukan lagi mode ingin menyenangkan semua pihak.

Saat krisis, pertanyaannya jadi sangat mendasar: bagaimana perusahaan ini tetap hidup?

Dari situ prioritasnya berubah.

Apa pengeluaran yang bisa ditekan?

Apa aktivitas yang masih bisa menghasilkan uang?

Apa layanan yang masih relevan?

Apa yang harus dihentikan sementara?

Apa yang harus tetap dijalankan karena menjadi sumber kehidupan perusahaan?

Mode survival membuat kita harus berani memilih.

Dan memilih dalam kondisi krisis hampir selalu tidak nyaman.

Karena idealnya, kita ingin semua orang aman. Semua rencana tetap berjalan. Semua program tetap hidup. Semua orang tetap senang.

Tapi realitanya, ketika sumber daya terbatas, menyenangkan semua pihak bisa membuat perusahaan kehilangan arah.

Di titik itu, menjaga perusahaan tetap hidup menjadi prioritas utama.

Bukan karena pihak lain tidak penting. Tapi karena kalau perusahaannya runtuh, semua pihak juga akan terdampak.

3. Belajar Beradaptasi

Hal ketiga adalah adaptasi.

Walaupun hari-hari itu berat, kami juga harus melihat sisi yang bisa menjadi peluang.

Saat COVID, banyak orang mulai terbiasa dengan sistem online. Meeting online. Kerja dari rumah. Layanan dari rumah. Aktivitas yang dulu mungkin terasa asing, tiba-tiba menjadi kebiasaan baru.

Di sisi tertentu, ini membuat model kerja dan layanan kami lebih bisa diterima.

Karena sejak awal, LindungiHutan memang banyak bergerak lewat platform dan sistem online. Orang bisa berkontribusi dari mana saja. Perusahaan bisa menjalankan program tanpa harus selalu bertemu fisik di awal. Banyak proses bisa dilakukan dari rumah.

Jadi di tengah tekanan yang berat, ada juga bagian yang membuat kami bisa menyesuaikan diri.

Bukan berarti semuanya langsung mudah.

Tapi krisis memaksa kami untuk melihat apa yang masih bisa dijalankan, apa yang bisa diubah, dan apa yang bisa dimanfaatkan dari perubahan perilaku masyarakat.

Adaptasi bukan selalu soal menemukan ide besar.

Kadang adaptasi adalah kemampuan membaca perubahan, lalu menyesuaikan langkah secukupnya agar tetap bisa bergerak.

Kalau Krisis Datang Lagi

Kalau suatu hari ada wabah, krisis, atau situasi besar yang serupa COVID datang lagi, setidaknya kami punya pelajaran.

Pertama, jangan denial bahwa situasinya sulit.

Kedua, cepat pahami mana yang benar-benar prioritas.

Ketiga, siap masuk mode survival jika memang itu yang dibutuhkan.

Dalam mode survival, kita mungkin tidak bisa menyenangkan semua pihak. Bahkan mungkin ada keputusan yang terasa seperti mengorbankan sebagian hal agar keseluruhan bisa tetap hidup.

Itu bagian yang paling tidak enak.

Tapi sebagai perusahaan, kita harus berani bertanya: apakah kita ingin mempertahankan semua hal sampai akhirnya perusahaan collapse, atau kita memilih keputusan sulit agar perusahaan tetap punya masa depan?

Tidak ada jawaban yang terasa ringan.

Tapi krisis memang jarang memberi pilihan yang ringan.

Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari hari-hari sulit yang pernah dilewati.

Bahwa bertahan bukan hanya soal kuat.

Bertahan juga soal jujur membaca situasi, berani menentukan prioritas, dan cukup rendah hati untuk masuk mode survival ketika waktunya memang harus bertahan.

Exit mobile version