Ben Robani Blog

Hari 138: Pergi Biar Punya Cerita

Masih melanjutkan dokumentasi dari proses one on one.

Dalam salah satu sesi, ada karyawan yang bercerita bahwa ia hampir tidak pernah travelling. Hari-harinya banyak dihabiskan di rumah dan sekitar rumah saja.

Sekilas mungkin ini terdengar biasa. Karena setiap orang memang punya kebiasaan yang berbeda. Ada yang suka pergi. Ada yang lebih nyaman di rumah. Ada yang mudah berangkat, ada yang harus berpikir panjang dulu.

Tapi dari obrolan itu, saya jadi kepikiran satu hal: kenapa sebenarnya kita perlu sesekali travelling?

Bukan karena semua orang harus jadi anak senja yang hidupnya penuh koper dan caption puitis. Tapi karena pergi ke tempat lain bisa memberi sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh rutinitas di rumah.

Apalagi di era sekarang, ketika banyak hal bisa kita lihat lewat layar. Kita bisa scroll tempat wisata, nonton video perjalanan, membaca review, melihat foto orang lain.

Tapi tetap saja, melihat tidak sama dengan mengalami.

1. Punya Pengalaman untuk Diceritakan

Hal pertama yang menurut saya penting dari travelling adalah kita punya pengalaman yang bisa diceritakan.

Memang benar, dari rumah kita bisa melihat banyak hal.

Kita bisa tahu tempat ini seperti apa. Kota itu seperti apa. Makanan ini seperti apa. Orang-orang di sana seperti apa. Semua bisa terlihat dari internet.

Tapi ketika kita hanya melihat dari perangkat, memori yang terbentuk rasanya berbeda.

Kita tahu, tapi tidak benar-benar ada di sana.

Berbeda ketika kita pergi langsung. Kita masuk dalam ceritanya. Kita merasakan perjalanannya. Kita mengalami macetnya, salah jalannya, makanannya, udaranya, orang-orangnya, dan momen kecil yang tidak selalu masuk video promosi.

Fotonya ada kita.

Videonya ada kita.

Ceritanya punya sudut pandang kita.

Dari situ pengalaman terasa lebih hidup. Bukan hanya “saya pernah lihat”, tapi “saya pernah ke sana.”

Dan kadang, hidup butuh cerita yang benar-benar kita alami sendiri.

2. Menambah Cara Pandang

Hal kedua, travelling bisa menambah wawasan dan cara pandang.

Kalau kita terlalu lama berada di tempat yang sama, rutinitas yang sama, lingkungan yang sama, sering kali cara berpikir kita ikut berputar di lingkaran yang sama.

Kita melihat dunia dari sudut yang itu-itu saja.

Bukan berarti salah. Tapi bisa jadi sempit.

Ketika kita pergi ke tempat lain, kita bertemu orang yang berbeda. Kita melihat kebiasaan yang berbeda. Kita merasakan lingkungan yang berbeda. Kita melihat cara hidup yang mungkin tidak sama dengan yang biasa kita jalani.

Dari sana, kepala kita punya bahan baru.

Kita jadi bisa memaknai sesuatu lebih luas.

Oh, ternyata ada orang yang hidupnya seperti ini.

Oh, ternyata kota lain ritmenya begini.

Oh, ternyata hal yang selama ini saya anggap biasa, di tempat lain bisa jadi berbeda.

Perjalanan tidak selalu memberi jawaban besar. Kadang hanya memberi sudut pandang baru.

Tapi sudut pandang baru itu sering cukup untuk membuat kita tidak terlalu kaku melihat hidup.

3. Rehat dari Rutinitas

Hal ketiga, travelling bisa menjadi cara untuk rehat sejenak dari rutinitas.

Rutinitas itu penting. Tapi kalau terlalu lama berulang tanpa jeda, ia bisa terasa berat dan membosankan.

Apalagi kalau bekerja dari rumah.

Bangun di rumah. Kerja di rumah. Meeting dari rumah. Istirahat di rumah. Besoknya mengulang lagi di tempat yang sama.

Lama-lama hari terasa mirip semua.

Dengan pergi ke tempat lain, kita memberi jeda pada kepala. Kita menggeser badan dari tempat yang sama. Kita memberi ruang untuk melihat hal baru, merasakan suasana baru, dan pulang dengan energi yang sedikit lebih segar.

Kadang setelah travelling, kita kembali dengan inspirasi.

Ada sesuatu yang ingin ditulis. Ada sesuatu yang ingin diceritakan. Ada sesuatu yang ingin dikerjakan. Ada semangat kecil yang muncul lagi.

Bukan berarti semua masalah selesai setelah pergi.

Tapi setidaknya kita punya ruang napas baru.

Dan kadang, itu cukup untuk membuat kita bisa kembali bekerja dengan lebih baik.

Kenangan Butuh Tempat

Menurut saya, travelling tidak harus sering.

Tidak harus setiap hari. Tidak harus setiap minggu. Tidak harus setiap bulan.

Kalau memang belum bisa, setahun sekali atau dua kali pun bisa menjadi momen yang berarti.

Yang penting ada momen tertentu yang bisa dikenang.

Karena dalam rutinitas kerja, apalagi WFA atau WFH dari rumah, sering kali hari-hari lewat begitu saja. Semua terasa mirip. Tidak banyak yang benar-benar menempel sebagai kenangan.

Tapi sekali kita pergi ke tempat tertentu, biasanya ada cerita yang tertinggal.

Ada tempat yang diingat.

Ada makanan yang dikenang.

Ada perjalanan yang lucu.

Ada foto yang suatu hari bisa dilihat lagi.

Ada pengalaman yang membuat kita merasa pernah hadir di bagian dunia yang berbeda.

Jadi, walaupun di rumah semua terasa cukup, sesekali pergi tetap penting.

Bukan untuk kabur dari hidup.

Tapi untuk membawa pulang lebih banyak cerita ke dalam hidup.

Exit mobile version