Masih melanjutkan dokumentasi dari sesi one on one.
Dalam salah satu sesi, saya bertemu dengan salah satu karyawan yang bekerja remote dari luar Jawa. Beliau berada di Sumatera.
Dari obrolan ini, saya jadi kepikiran satu hal. Kalau karyawan betah dan loyal, waktu akan berjalan. Mereka menikah. Mereka punya anak. Mereka bertumbuh dengan fase hidupnya masing-masing.
Dan kalau perusahaan membuka ruang untuk bekerja remote dari berbagai daerah, maka realitanya juga akan makin beragam.
Punya karyawan di luar pulau bukan hanya soal “bisa kerja dari mana saja”. Ada konsekuensi yang ikut datang. Ada kelebihan, ada tantangan, ada hal-hal yang perlu dihitung sejak awal.
Menurut saya, ini beberapa catatannya.
1. Komunikasi Bisa Berbeda
Hal pertama yang perlu disadari adalah adanya perbedaan budaya dalam berkomunikasi.
Apalagi kalau kita beda suku, beda latar belakang, beda daerah, dan beda referensi sosial.
Ini akan terasa ketika kita punya karyawan yang tidak berasal dari lingkungan yang sama. Cara bicara bisa berbeda. Tutur kata bisa berbeda. Nada dan intonasi bisa terasa berbeda. Bahkan cara menyampaikan maksud juga bisa tidak sama.
Kadang sesuatu yang bagi satu orang terdengar biasa, bagi orang lain bisa terasa terlalu tegas. Sebaliknya, sesuatu yang menurut satu orang sudah jelas, bagi orang lain bisa terasa terlalu halus atau tidak langsung.
Ini bukan soal benar atau salah.
Ini soal kesiapan memahami konteks.
Kalau kita terlalu mudah baper, atau menganggap perbedaan komunikasi sebagai penghalang, kerja sama bisa jadi terhambat. Padahal yang dibutuhkan mungkin hanya sedikit adaptasi, sedikit klarifikasi, dan kemauan untuk tidak langsung menilai dari kacamata sendiri.
Remote lintas pulau bukan hanya butuh internet stabil.
Ia juga butuh kesabaran dalam membaca manusia.
2. Keragaman Bisa Jadi Kekuatan
Di sisi lain, punya karyawan dari luar pulau juga membawa kelebihan.
Perusahaan jadi lebih beragam. Tidak hanya berputar di referensi orang-orang dari satu kota, satu daerah, atau satu pulau.
Keragaman ini bisa memperkaya cara berpikir. Kita jadi punya sudut pandang yang lebih luas. Kita bisa memahami konteks daerah lain dengan lebih baik. Kita juga bisa lebih dekat dengan realita yang tidak selalu terlihat dari kantor utama.
Selain itu, secara operasional, ada kemungkinan efisiensi.
Kalau suatu saat ada kebutuhan di kota atau pulau tertentu, kehadiran orang lokal bisa sangat membantu. Tidak semua hal harus dilakukan dengan menerbangkan orang dari Jawa bolak-balik.
Ada kebutuhan yang mungkin bisa diwakili oleh orang yang memang lebih dekat secara lokasi. Dari sisi biaya, ini bisa lebih masuk akal.
Jadi, remote luar pulau bukan hanya tantangan.
Kalau dikelola dengan baik, ia bisa menjadi aset.
Perusahaan tidak hanya punya tenaga kerja, tapi juga punya jembatan ke daerah lain.
3. Tetap Ada Konsekuensi Biaya
Namun, kita juga perlu jujur bahwa ada konsekuensi biaya.
Misalnya ketika perusahaan punya acara offline, gathering, outing, atau agenda yang mengumpulkan semua orang di satu titik.
Pada momen seperti itu, karyawan yang berada di luar pulau tentu membutuhkan biaya perjalanan lebih besar. Bisa jadi biaya mendatangkan satu orang dari luar pulau setara dengan beberapa orang yang masih berada di pulau yang sama.
Ini perlu dihitung.
Tapi menurut saya, hal itu bukan otomatis menjadi beban yang harus dikeluhkan.
Itu adalah konsekuensi logis dari keputusan yang kita ambil.
Kalau sejak awal kita memutuskan membuka sistem kerja remote lintas daerah, maka biaya pertemuan offline juga harus masuk dalam pertimbangan. Tidak bisa hanya menikmati fleksibilitasnya, lalu kaget ketika konsekuensinya muncul.
Setiap model kerja punya harga.
Kerja full onsite punya harga. Remote punya harga. Hybrid punya harga. Remote lintas pulau juga punya harga.
Yang penting adalah kita sadar sebelum memilih, bukan denial setelah menjalaninya.
Siap dengan Pilihan Sendiri
Menurut saya, punya karyawan remote dari luar pulau adalah hal yang menarik sekaligus menantang.
Ada perbedaan komunikasi yang perlu dipahami. Ada keragaman yang bisa menjadi kekuatan. Ada potensi efisiensi di beberapa kondisi. Tapi ada juga konsekuensi biaya ketika perusahaan ingin mengumpulkan semua orang secara offline.
Jadi ini bukan soal remote luar pulau itu baik atau buruk.
Ini soal apakah perusahaan siap dengan konsekuensi dari pilihannya.
Kalau ingin semua orang bisa bekerja dari mana saja, maka kita juga harus siap dengan realita “mana saja” itu benar-benar berbeda-beda.
Beda pulau. Beda budaya. Beda biaya. Beda cara komunikasi.
Tapi kalau kita bisa mengelolanya dengan matang, perbedaan itu tidak harus menjadi masalah. Bisa jadi justru menjadi kekuatan baru.
Karena perusahaan yang ingin tumbuh lebih lama memang perlu belajar menerima bahwa manusia di dalamnya tidak akan selalu seragam.
Dan mungkin justru di situlah nilai remote yang sebenarnya: bukan hanya bekerja dari jauh, tapi belajar dekat dengan perbedaan.