Ben Robani Blog

Hari 130: Jangan Sembunyi di Burnout

Masih menjawab pertanyaan dari sesi one on one.

Kali ini pertanyaannya tentang seorang karyawan yang mengalami burnout. Bagaimana cara mengatasinya?

Saya rasa ini pertanyaan yang penting, karena burnout sering kali tidak datang tiba-tiba dalam bentuk yang dramatis. Kadang ia datang pelan-pelan.

Awalnya hanya merasa capek. Lalu mulai kehilangan energi. Lalu pekerjaan yang biasanya bisa diselesaikan jadi terasa berat. Lalu kualitas turun. Deadline mulai terganggu. Cara berpikir tidak sejernih biasanya.

Kalau tidak disadari, burnout bisa membuat kita makin jauh dari performa yang seharusnya. Bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita tidak cukup cepat membaca kondisi diri sendiri.

Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

1. Sadari Kondisinya

Hal pertama adalah sadar dulu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada diri kita.

Apa target yang seharusnya kita capai?

Apa pekerjaan yang harus kita selesaikan?

Apakah ada penurunan dari biasanya?

Apakah delivery kita mulai turun?

Apakah energi kita berubah?

Apakah cara berpikir kita mulai berat?

Apakah pekerjaan yang dulu biasa saja sekarang terasa sangat melelahkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena burnout tidak bisa dibereskan kalau kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang mengalaminya.

Kalau kita tidak sadar, yang terlihat dari luar hanya performa turun. Deadline molor. Respons melambat. Kualitas kerja berubah.

Padahal di dalamnya mungkin ada kondisi mental, energi, atau tekanan yang sedang tidak baik-baik saja.

Kesadaran ini bukan untuk memberi label ke diri sendiri secara sembarangan. Tapi untuk membaca gejala lebih cepat.

Karena kalau kita tahu lebih awal, kita bisa mencari cara sebelum semuanya makin turun.

2. Sampaikan ke Penanggung Jawab

Hal kedua, kalau kondisi ini sudah berpengaruh ke pekerjaan, sampaikan kepada orang yang bertanggung jawab.

Bisa ke atasan, manajer, atau siapa pun yang memang punya peran untuk membantu mengatur kerja kita.

Ini penting.

Karena ketika burnout mulai memengaruhi deadline, kualitas kerja, atau beban orang lain, masalahnya bukan lagi hanya urusan pribadi. Dampaknya mulai masuk ke sistem kerja.

Kalau kita diam saja, orang lain hanya akan melihat performa kita turun.

Dan ketika atasan hanya melihat performa turun tanpa konteks, solusinya bisa jadi bukan pemulihan, tapi penilaian buruk.

Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Maka kalau kita sadar ada masalah, sampaikan dengan baik.

Bukan untuk minta dimaklumi selamanya. Tapi untuk membuka ruang solusi.

Mungkin target perlu diatur ulang sementara. Mungkin prioritas kerja perlu disesuaikan. Mungkin perlu ada dispensasi tertentu. Mungkin perlu bantuan. Mungkin perlu dipindahkan dulu ke pekerjaan yang lebih realistis.

Kalau tidak dikomunikasikan, burnout bisa berubah dari masalah yang bisa dibantu menjadi masalah performa yang harus dievaluasi.

3. Cari Solusi, Bukan Label

Hal ketiga adalah mencari solusi, baik bersama orang lain maupun dari diri sendiri.

Dari sisi pekerjaan, solusinya bisa macam-macam.

Apakah target perlu disesuaikan sementara?

Apakah perlu istirahat?

Apakah perlu cuti?

Apakah perlu berhenti sejenak dari jenis pekerjaan tertentu?

Apakah perlu dibantu membagi prioritas?

Apakah perlu dibuatkan ruang untuk kembali stabil?

Tapi dari sisi diri sendiri, kita juga perlu ikut bekerja.

Coba ingat lagi motivasi awal.

Kenapa saya ada di sini?

Apa yang dulu membuat saya semangat?

Apa yang masih penting untuk saya perjuangkan?

Apakah ini tentang tanggung jawab?

Apakah ini tentang rasa memiliki?

Apakah ini tentang kebutuhan hidup?

Apakah ini tentang tidak ingin kehilangan kesempatan?

Pertanyaan seperti ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Tapi untuk mencari pegangan.

Karena burnout tidak cukup hanya diakui. Ia juga perlu dihadapi.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan burnout sebagai tempat bersembunyi.

“Aku burnout.”

“Aku burnout.”

“Aku burnout.”

Tapi setelah itu tidak melakukan apa-apa.

Kalau burnout hanya menjadi kalimat yang terus diulang di kepala, ia bisa berubah menjadi alasan untuk tidak bergerak. Padahal yang dibutuhkan justru langkah kecil untuk keluar dari kondisi itu.

Burnout Perlu Diurus

Menurut saya, burnout harus diakui, tapi juga harus diurus.

Kita perlu sadar ketika energi mulai turun. Kita perlu jujur ketika pekerjaan mulai terdampak. Kita perlu menyampaikan kondisi kepada orang yang bisa membantu. Dan kita perlu ikut mencari solusi dari dalam diri sendiri.

Burnout bukan aib.

Tapi burnout juga bukan kartu bebas untuk membiarkan semuanya berantakan tanpa usaha memperbaiki keadaan.

Kalau memang butuh rehat, rehatlah dengan benar.

Kalau memang butuh bantuan, mintalah bantuan.

Kalau memang butuh penyesuaian, bicarakan.

Kalau memang masalahnya ada di kepala yang terus mengulang alasan yang sama, challenge pikiran itu pelan-pelan.

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar memberi nama pada kondisi kita.

Tujuannya adalah kembali bisa bergerak dengan lebih sehat.

Bekerja memang butuh performa. Tapi performa yang baik juga butuh manusia yang sadar, jujur, dan mau mengurus dirinya sendiri.

Exit mobile version