Masih dari sesi one on one.
Kali ini pertanyaannya cukup klasik, tapi juga cukup berat untuk orang-orang yang punya rasa ownership tinggi:
Kalau pekerjaan kita belum berhasil dan dampaknya terasa ke perusahaan, padahal kita sudah melakukan effort terbaik, apakah itu masih salah kita?
Saya rasa pertanyaan ini sering muncul pada orang-orang yang peduli. Orang yang tidak peduli biasanya tidak sempat bertanya sejauh itu. Tapi justru karena peduli, kadang pikirannya bergerak terlalu jauh.
Merasa semua harus berhasil.
Merasa semua dampak buruk adalah tanggung jawab pribadi.
Merasa kalau hasil belum sesuai, berarti dirinya gagal.
Padahal dalam pekerjaan, terutama dalam organisasi, tidak semua hal bisa dilihat sesederhana itu.
1. Jangan Tenggelam Overthinking
Hal pertama yang perlu dijaga adalah jangan sampai overthinking membuat kita berhenti melakukan hal yang seharusnya kita lakukan.
Berpikir itu penting. Refleksi itu penting. Evaluasi itu penting.
Tapi kalau terlalu banyak berpikir sampai akhirnya kita tidak bergerak, itu menjadi masalah baru.
Karena dalam pekerjaan, ada banyak hal yang memang tidak bisa kita kontrol. Ada faktor waktu, faktor tim, faktor market, faktor keputusan orang lain, faktor momentum, faktor kondisi perusahaan, dan banyak faktor lain yang tidak selalu ada di tangan kita.
Maka yang paling sehat adalah kembali ke hal yang bisa kita kendalikan.
Apa yang bisa saya lakukan?
Apa yang bisa saya perbaiki?
Apa yang bisa saya komunikasikan?
Apa yang bisa saya evaluasi?
Apa langkah berikutnya?
Kalau fokus kita ada di sana, energi kita dipakai untuk bergerak. Bukan habis untuk menyalahkan diri sendiri tanpa arah.
2. Pastikan Prosesnya Benar
Hal kedua, lihat lagi prosesnya.
Apakah checklist sudah dikerjakan?
Apakah SOP sudah dijalankan?
Apakah komunikasi sudah dilakukan?
Apakah usaha untuk mencapai hasil sudah dievaluasi?
Apakah sudah mencoba beberapa cara yang masuk akal?
Kalau proses yang seharusnya dijalankan ternyata tidak dilakukan, ya itu memang perlu menjadi catatan. Karena tidak fair juga kalau kita merasa sudah berusaha, tapi hal-hal dasar yang harusnya dikerjakan justru terlewat.
Namun kalau checklist sudah dilakukan, SOP sudah dijalankan, evaluasi sudah dicoba, dan berbagai cara sudah diusahakan, maka kita perlu lebih jernih melihat situasinya.
Hasil yang belum tercapai tidak otomatis berarti satu orang salah.
Kadang hasil belum tercapai karena pendekatannya perlu diubah. Kadang waktunya belum tepat. Kadang ada faktor eksternal. Kadang strategi perlu diperbaiki. Kadang memang butuh lebih banyak iterasi.
Yang penting bukan hanya berkata, “Saya sudah berusaha.”
Tapi bisa menunjukkan bahwa proses yang benar memang sudah dijalankan.
3. Tim Harus Berdiri Bersama
Hal ketiga, sebagai satu tim, satu organisasi, satu perusahaan, kita harus berdiri di sisi yang sama.
Kalau sebuah target tidak tercapai, kita tidak bisa langsung menumpuk semua kesalahan ke satu orang.
Kecuali memang orang itu jelas tidak menjalankan prosedur, mengabaikan tanggung jawab, atau tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan.
Tapi kalau proses sudah dijalankan dengan benar, maka respons yang lebih sehat adalah berdiri bersama.
Saling support.
Saling memahami.
Saling mencari solusi.
Saling melihat bagian mana yang perlu diperbaiki.
Karena dalam tim, hasil jarang benar-benar berdiri di atas satu orang saja. Semua punya peran. Semua punya andil. Semua punya bagian.
Kalau berhasil, biasanya banyak orang ikut merasa punya kontribusi.
Maka ketika belum berhasil, jangan buru-buru mencari satu orang untuk dijadikan tempat menaruh semua beban.
Tim yang sehat bukan tim yang tidak pernah gagal. Tim yang sehat adalah tim yang ketika ada masalah, tidak langsung saling menunjuk, tapi sama-sama mencari jalan keluar.
Fokus ke Perubahan
Catatan ini mungkin penting untuk orang-orang yang sering merasa semua hal yang terjadi adalah salahnya sendiri.
Rasa tanggung jawab itu baik.
Ownership itu baik.
Peduli pada dampak pekerjaan juga baik.
Tapi kalau semua itu berubah menjadi rasa bersalah yang tidak menghasilkan perubahan, akhirnya malah melelahkan.
Karena kalau kita benar-benar fokus pada perubahan yang bisa kita lakukan, kita biasanya tidak punya terlalu banyak waktu untuk tenggelam dalam rasa bersalah.
Kita akan sibuk memperbaiki.
Sibuk mengevaluasi.
Sibuk mencoba cara baru.
Sibuk mengomunikasikan hal yang perlu dibereskan.
Sebaliknya, kalau kita hanya overthinking dan mulai tidak melakukan apa-apa, pikiran tentang “ini salah saya” akan makin sering muncul.
Jadi menurut saya, pertanyaannya bukan hanya: apakah ini salah saya?
Pertanyaannya adalah: bagian mana yang memang menjadi tanggung jawab saya, dan apa perubahan yang bisa saya lakukan setelah ini?
Kalau proses sudah benar, effort sudah maksimal, dan tim sudah berdiri bersama, maka kegagalan bukan alasan untuk menyalahkan satu orang.
Kegagalan adalah bahan untuk memperbaiki cara kerja bersama.