Ben Robani Blog

Hari 126: Standar Salah Siapa

Dalam salah satu sesi one on one, saya mendapat pertanyaan yang menarik:

Bagaimana cara cepat menyadari kesalahan?

Kalau pertanyaan ini dicerna pelan-pelan, sebenarnya ada kekhawatiran di baliknya. Ada orang yang sedang bekerja, lalu bertanya-tanya: yang saya lakukan ini benar atau salah ya?

Dan kalau salah, bagaimana caranya supaya bisa cepat disadari?

Menurut saya, pertanyaan ini penting. Karena dalam bekerja, kita memang tidak selalu bisa menghindari kesalahan. Tapi kita bisa membuat cara kerja kita lebih jelas, supaya tidak terus-menerus dihantui rasa takut salah.

Dari obrolan itu, saya melihat ada tiga hal yang perlu diperjelas.

1. Tahu Siapa Penilainya

Hal pertama yang perlu diketahui adalah: definisi salah dan benar itu datang dari siapa?

Ini penting.

Karena sering kali kita takut salah, tapi kita sendiri tidak tahu siapa yang sebenarnya berhak menilai pekerjaan itu salah atau benar.

Kalau penilainya adalah diri sendiri, berarti kemampuan diri kita yang perlu diasah. Kita perlu punya standar, pengalaman, dan kepekaan untuk menilai apakah pekerjaan kita sudah cukup baik atau belum.

Tapi kalau penilainya adalah manajer, atasan, klien, atau orang yang memberi tugas, berarti standar salah-benarnya perlu ditanyakan kepada mereka.

Apa yang dianggap benar?

Apa yang dianggap salah?

Bagian mana yang wajib sesuai?

Bagian mana yang masih bisa fleksibel?

Kadang kita terlalu sibuk menebak standar orang lain, padahal standar itu sebenarnya bisa ditanyakan sejak awal.

Dan sering kali, rasa takut salah muncul bukan karena tugasnya terlalu sulit, tapi karena ekspektasinya terlalu kabur.

2. Bedakan Hasil dan Proses

Hal kedua adalah memahami apakah yang dinilai itu hasil akhir atau prosesnya.

Kalau yang dinilai adalah hasil akhir, maka ukurannya relatif jelas. Apakah hasil yang dicapai sesuai target? Apakah melampaui standar? Apakah output-nya sesuai dengan yang diminta?

Kalau hasil akhirnya tidak sesuai, berarti ada yang perlu diperbaiki.

Tapi tidak semua pekerjaan dinilai hanya dari hasil akhir.

Ada pekerjaan yang kebenarannya justru ada di proses.

Misalnya, yang penting alurnya dijalankan dengan benar, prosedurnya diikuti, komunikasinya dilakukan, datanya dicatat, atau langkah-langkahnya sesuai standar. Hasil akhirnya tetap penting, tapi lebih dipakai sebagai bahan evaluasi, bukan satu-satunya ukuran benar atau salah.

Kalau standar benar-salahnya ada di proses, maka fokus kita harusnya bukan overthinking terus pada hasil akhir.

Fokusnya adalah memastikan delivery prosesnya benar.

Karena kalau kita salah membaca standar, kita bisa stres di tempat yang keliru. Yang diminta prosesnya rapi, kita malah panik hasilnya belum sempurna. Yang diminta hasilnya cepat, kita malah terlalu lama mempercantik prosesnya.

Jadi sebelum takut salah, pahami dulu: yang sedang dinilai ini hasilnya, prosesnya, atau dua-duanya?

3. Tahu Konsekuensinya

Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah memahami konsekuensi dari kesalahan.

Ini sering terlewat.

Kita merasa takut salah, tapi tidak pernah benar-benar bertanya: kalau salah, dampaknya apa?

Apakah kesalahan ini fatal?

Apakah bisa diperbaiki?

Apakah merugikan banyak orang?

Apakah hanya perlu revisi?

Apakah berdampak ke klien, tim, uang, waktu, atau reputasi?

Mengetahui konsekuensi bukan untuk membuat kita santai berlebihan. Tapi supaya rasa takut kita proporsional.

Karena kadang kita menebak-nebak ketakutan sendiri. Merasa tidak percaya diri. Merasa semua kesalahan akan besar. Padahal bisa jadi konsekuensinya tidak seberat yang kita bayangkan.

Sebaliknya, kalau konsekuensinya memang besar, kita juga jadi tahu bahwa pekerjaan itu butuh kehati-hatian ekstra, pengecekan tambahan, atau approval sebelum dijalankan.

Dengan tahu konsekuensinya, kita bisa bekerja lebih sadar.

Bukan sekadar takut salah, tapi paham risiko.

Fokus Bekerja, Bukan Menebak Ketakutan

Menurut saya, tiga hal ini bisa membantu kita lebih cepat menyadari kesalahan.

Pertama, tahu siapa yang menilai. Kedua, tahu apakah yang dinilai adalah hasil atau proses. Ketiga, tahu konsekuensi dari kesalahan itu.

Dengan begitu, kita tidak bekerja sambil terus menebak-nebak.

Karena bekerja dengan rasa takut salah terus-menerus itu melelahkan. Kita jadi ragu untuk bergerak, lambat mengambil keputusan, dan terlalu sibuk menghindari kesalahan yang mungkin tetap akan terjadi juga.

Kesalahan dalam bekerja kadang tidak bisa sepenuhnya dihindari.

Tapi kita bisa membuat batasnya lebih jelas.

Apa standarnya?

Siapa penilainya?

Apa risikonya?

Kalau semua itu jelas, kita bisa lebih fokus untuk bekerja dengan baik.

Bukan karena tidak mungkin salah, tapi karena kita tahu cara membaca, memperbaiki, dan bertanggung jawab atas kesalahan itu.

Exit mobile version