Ben Robani Blog

Hari 125: Fokus ke Yes

Dalam salah satu sesi one on one, muncul pertanyaan yang cukup sering juga saya dengar dalam bentuk berbeda-beda:

“Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah tepat?”

Pertanyaannya bisa macam-macam konteksnya. Bisa soal kerjaan, karier, relasi, biaya, keluarga, mimpi, atau pilihan hidup yang kelihatannya sederhana tapi ternyata berat di kepala.

Untuk pertanyaan seperti ini, saya biasanya menjawab dengan metodologi yang kurang lebih sama.

Mungkin ini terinspirasi dari kuliah Sistem Pendukung Keputusan dulu waktu saya masih kuliah IT. Tapi kalau disederhanakan, prinsipnya cukup mudah: sebelum terlalu gelisah dengan keputusan, coba bedah dulu alasan di balik keputusan itu.

Karena sering kali kita merasa bingung bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena semua suara di kepala kita masuk bersamaan.

1. Cari Parameternya

Langkah pertama adalah mencari dulu parameter dari keputusan yang sedang kita ambil.

Apa saja alasan yang membuat kita mempertimbangkan keputusan itu?

Apakah karena biaya? Karena kebutuhan? Karena keinginan? Karena peluang? Karena keluarga? Karena mimpi? Karena rasa penasaran? Karena dendam pribadi yang entah kenapa masih menyala?

Tulis saja sebanyak-banyaknya.

Di tahap ini, jangan buru-buru menilai apakah alasannya benar atau salah. Kumpulkan dulu semua hal yang membuat keputusan itu muncul di kepala.

Kalau sulit menemukannya, cara paling mudah adalah refleksi: kenapa saya sampai kepikiran keputusan ini?

Biasanya dari sana mulai terlihat. Oh, ternyata saya mempertimbangkan ini karena ingin berkembang. Atau karena ingin membuktikan sesuatu. Atau karena ingin lebih tenang. Atau karena ingin keluar dari situasi yang sudah terlalu melelahkan.

Sebelum menilai keputusan, kita perlu tahu dulu bahan-bahan yang sedang kita nilai.

2. Kasih Nilai

Langkah kedua adalah memberi nilai pada setiap parameter tadi.

Bentuknya bisa sederhana. Bisa yes or no. Bisa juga pakai skor 1 sampai 5.

Misalnya, kalau keputusannya dilihat dari sisi biaya, apakah masuk akal? Yes atau no.

Kalau dilihat dari kebutuhan, apakah memang penting? Skornya berapa?

Kalau dilihat dari keinginan pribadi, seberapa kuat dorongannya?

Kalau dilihat dari keluarga, apakah ini mendukung atau malah mengganggu?

Dengan memberi nilai, pikiran kita jadi tidak terlalu abstrak.

Karena selama masih di kepala, semua alasan terasa sama kerasnya. Biaya terasa penting. Keinginan terasa penting. Omongan orang terasa penting. Ketakutan terasa penting.

Tapi begitu ditaruh dalam parameter dan diberi nilai, kita mulai bisa melihat mana yang benar-benar kuat dan mana yang hanya berisik.

Kadang yang bikin kita ragu bukan karena alasannya banyak, tapi karena kita belum memisahkan mana alasan utama dan mana alasan tambahan.

3. Pegang yang Yes

Langkah ketiga, fokus pada alasan-alasan yang jawabannya yes atau nilainya tinggi.

Abaikan dulu yang no.

Misalnya, ada salah satu parameter yang bilang: biayanya mahal.

Oke, itu mungkin benar.

Tapi kalau di sisi lain keputusan itu punya nilai tinggi untuk mimpi, cita-cita, kebutuhan jangka panjang, atau bahkan dendam pribadi yang sehat untuk membuktikan sesuatu, ya tidak apa-apa. Pegang alasan yang memang kuat.

Tidak semua parameter harus menang.

Kadang keputusan yang tepat bukan keputusan yang semua sisinya sempurna. Tapi keputusan yang alasan terkuatnya memang cukup layak untuk diperjuangkan.

Bahkan kalau parameter itu datang dari orang lain juga tidak selalu salah.

Misalnya, ada keputusan yang dipengaruhi oleh orang tua, pasangan, keluarga, atau orang yang kita sayangi. Selama kita sadar bahwa itu memang parameter yang ingin kita masukkan, ya tidak apa-apa.

Yang penting kita tahu: alasan mana yang benar-benar kita pilih untuk dipegang.

Bukan sekadar ikut terbawa suara paling keras.

Biar Tidak Goyah

Bagi saya, metode ini membantu kita lebih tenang dalam mengambil keputusan.

Bukan karena hasilnya pasti benar seratus persen. Tapi karena setidaknya kita tahu kenapa kita memilih sesuatu.

Kita tahu parameter apa yang kita pakai. Kita tahu mana yang nilainya kuat. Kita tahu alasan mana yang ingin kita pegang.

Itu membuat kita tidak mudah goyah ke kanan dan kiri setiap ada pendapat baru.

Karena dalam hidup, hampir semua keputusan bisa diperdebatkan. Akan selalu ada sisi kurangnya. Akan selalu ada orang yang punya pandangan berbeda. Akan selalu ada kemungkinan lain yang kelihatannya lebih aman setelah kita memilih.

Tapi kalau kita sudah tahu alasan utama kita, keputusan itu jadi lebih mudah dijalani.

Jadi sebelum bertanya apakah keputusan ini tepat, mungkin pertanyaan pertamanya adalah:

“Parameter apa yang saya pakai untuk menilai keputusan ini?”

Lalu setelah itu:

“Dari semua alasan yang ada, mana yang benar-benar saya pilih untuk pegang?”

Karena kadang keputusan yang tepat bukan yang paling sempurna.

Tapi yang paling bisa kita pertanggungjawabkan dengan sadar.

Exit mobile version