Masih dalam rangkaian one on one.
Salah satu obrolan yang muncul adalah tentang bagaimana cara menyampaikan request atau permintaan besar kepada orang lain, terutama ketika permintaan itu terasa berat dari sudut pandang orang yang kita mintai bantuan.
Ini situasi yang sering terjadi di kerjaan.
Bagi kita, permintaannya sederhana. Bagi kita, ini penting. Bagi kita, ini harusnya bisa dikerjakan sebentar.
Tapi di sisi orang lain, bisa jadi ceritanya berbeda. Ternyata tidak sesederhana itu. Ada antrean kerjaan. Ada risiko. Ada dampak ke tim lain. Ada prioritas yang belum kita lihat.
Kalau situasi seperti ini tidak dikelola dengan baik, akhirnya kita mudah merasa, “Kenapa sih usulan saya tidak pernah diterima?”
Padahal mungkin masalahnya bukan idenya buruk. Bisa jadi cara memperjuangkannya belum cukup kuat.
1. Pahami Beban Orang Lain
Hal pertama yang menurut saya penting adalah berempati kepada orang yang kita request.
Kadang kita terlalu fokus pada kebutuhan kita sendiri, sampai lupa bahwa orang yang kita mintai bantuan juga punya konteksnya sendiri.
Bagi kita, permintaan itu mungkin terlihat cepat. Tapi bagi mereka, bisa jadi permintaan itu menyentuh banyak sistem, banyak orang, banyak risiko, atau banyak pekerjaan lain yang tidak terlihat dari luar.
Di sinilah empati jadi penting.
Bukan berarti kita harus langsung menyerah. Tapi sebelum merasa tidak didengar, kita perlu coba memahami dulu: apa yang membuat mereka belum bisa menerima permintaan kita?
Apakah karena waktunya? Bebannya? Risikonya? Prioritasnya? Atau karena mereka belum melihat urgensi yang sama seperti kita?
Kadang ide kita tidak ditolak. Ia hanya belum diterima karena orang lain belum melihat masalahnya dari sudut yang sama.
2. Jangan Minta Kosong
Hal kedua, jangan datang hanya membawa permintaan.
Kalau request kita besar, maka cara memperjuangkannya juga harus lebih serius.
Kita perlu membawa data. Kita perlu menunjukkan bukti. Kalau bisa, lakukan percobaan kecil dulu dengan hal-hal yang masih ada dalam kendali kita.
Misalnya, sebelum meminta tim lain mengubah sistem, coba buktikan dulu bahwa perubahan itu memang membuat kerja lebih efisien. Sebelum meminta proses baru diterapkan, coba uji di skala kecil. Sebelum meminta orang lain ikut bergerak, tunjukkan dulu bahwa idenya punya dampak.
Dengan begitu, kita tidak datang dengan tangan kosong.
Kita tidak hanya bilang, “Menurut saya ini penting.”
Tapi kita bisa bilang, “Saya sudah coba, hasilnya begini. Ada efisiensi di sini. Ada kemudahan di sini. Ada potensi dampak di sini.”
Permintaan yang besar akan lebih mudah didengar ketika ia tidak hanya berdiri di atas perasaan, tapi juga di atas pembuktian.
3. Atur Cara Menyampaikan
Hal ketiga adalah cara menyampaikan.
Kadang idenya benar, datanya ada, masalahnya nyata, tapi tetap tidak mendapat perhatian karena cara menyampaikannya belum tepat.
Ini bukan berarti kita harus manipulatif. Tapi dalam organisasi, cara pesan dibawa itu penting.
Kalau secara personal kita belum punya cukup power, mungkin kita perlu mengajak orang lain yang bisa membantu menyuarakan. Bisa jadi ide awalnya dari kita, tapi agar lebih didengar, pesan itu perlu dibawa bersama orang yang punya posisi, pengalaman, atau akses yang lebih tepat.
Bukan untuk mengambil kredit. Tapi untuk memperbesar peluang agar hal penting itu benar-benar diperhatikan.
Karena kadang yang membuat pesan bergerak bukan hanya isi pesannya, tapi siapa yang membawa, kapan dibawa, dan dalam forum apa disampaikan.
Jadi kalau satu cara tidak berhasil, bukan berarti idenya selesai. Mungkin pintunya saja yang belum tepat.
Jangan Terlalu Cepat Patah
Menurut saya, kalau kita punya request besar kepada tim lain yang sudah punya to-do list panjang, kita tidak boleh terlalu cepat patah semangat.
Jangan langsung merasa usulan kita pasti ditolak.
Jangan juga langsung mengambil semuanya sendiri hanya karena merasa lebih cepat kalau dikerjakan sendiri. Karena bisa jadi, pekerjaan itu memang di luar batas kemampuan dan kapasitas kita.
Di sisi lain, jangan terlalu gampang baper ketika menghadapi situasi sulit.
Kalau kita percaya sesuatu itu benar, penting, dan berdampak, ya perjuangkan dengan cara yang lebih matang.
Pahami konteks orang lain. Siapkan data. Lakukan percobaan. Cari cara menyampaikan yang tepat. Ajak orang yang bisa membantu. Ketok semua pintu yang mungkin.
Karena tugas kita bukan hanya punya ide baik.
Tugas kita juga membuat ide baik itu bisa dipahami, dipercaya, dan akhirnya dianggap penting oleh lebih banyak pihak.