Hari ini dipenuhi diskusi internal di tim. Banyak obrolan yang “ngegas” ke berbagai arah, tapi ada beberapa pelajaran yang rasanya layak saya simpan dalam tulisan—biar nanti kalau saya lupa, saya bisa balik baca dan ingat: oh, ini yang saya pelajari hari itu.
Ada tiga hal yang paling menonjol hari ini.
1) Template keputusan: batasi jadi A atau B (lama atau baru), lalu kunci kriterianya
Siang tadi ada situasi yang menuntut keputusan. Dan seperti biasa, ketika ada masalah, pemimpin pada akhirnya harus mengarahkan—kadang sampai mengambil sendiri.
Yang saya sadari: keputusan sering jadi melelahkan bukan karena opsinya rumit, tapi karena opsi dibuat kebanyakan. Begitu ada A, muncul B, lalu “gimana kalau C?”, terus nyabang lagi jadi D dan E. Ujungnya bukan makin bijak, malah makin kabur.
Hari ini saya merasa menemukan template yang sederhana:
- Opsi A: tetap dengan pilihan lama, tapi adjust syarat dan kondisinya
- Opsi B: ambil pilihan baru, tapi kunci juga syarat dan kriterianya
Yang penting di sini: kriterianya harus adil.
Kita nggak bisa memperlakukan dua hal yang serupa dengan standar yang berbeda, karena itu jadi nggak fair dan bikin kebijakan nggak konsisten.
Jadi game-nya bukan “bikin opsi sebanyak mungkin”, tapi:
- batasi opsi jadi A/B,
- jelaskan konsekuensi masing-masing,
- kunci kriteria,
- putuskan,
- dan kalau ternyata salah… ya diperbaiki.
Keputusan itu bukan dewa. Keputusan itu alat.
2) Kalau diskusi mulai liar, tarik balik ke asal mula: “tujuannya apa?”
Hal kedua: saya melihat lagi betapa mudahnya diskusi itu lari ke mana-mana.
Diskusi bisa jadi liar karena:
- “kan udah keburu begini…”
- “kan kemarin nggak apa-apa…”
- “kan sayang kalau diubah…”
- “kan udah terlanjur…”
Semua pertimbangan itu ada benarnya, tapi kalau dibiarkan, diskusi jadi nggak pernah selesai. Karena akan selalu ada alasan baru, selalu ada cabang baru, selalu ada pembenaran baru.
Yang menurut saya menyelamatkan diskusi hari ini adalah pertanyaan mundur:
“Asal mulanya ini dibuat untuk apa?”
“Tujuan awalnya apa?”
Karena kalau tujuannya jelas, kita bisa cek ulang:
- apakah cara yang dipakai selama ini benar-benar mendekatkan ke tujuan?
- apakah cara itu menghasilkan tujuan?
- apakah bentuk dan mekanismenya masih relevan?
Kadang jawaban paling jernih bukan datang dari proyeksi ke depan, tapi dari menoleh ke belakang: kita mulai dari mana, dan kenapa kita mulai?
Buat saya, ini juga pelajaran untuk memberi feedback: sebelum ikut berdebat detail, kunci dulu tujuannya. Kalau tujuannya sama, detail bisa diselaraskan. Kalau tujuannya beda, debat detail akan sia-sia.
3) Support system: saya bikin “klub buku” (dan saya masih bisa baca cepat)
Hal ketiga hari ini lebih personal, tapi saya senang menuliskannya: saya memutuskan bikin klub buku untuk mendukung resolusi 2026 saya—seminggu tamat satu buku.
Saya sadar: banyak resolusi gagal bukan karena idenya buruk, tapi karena kita jalan sendirian. Saya butuh support system. Minimal ada orang yang bisa saya kasih update: “saya sudah sampai sini.” Biar komitmennya punya jejak sosial.
Dan sore tadi saya dapat pembuktian kecil yang bikin saya lega: saya masih mampu.
Dalam 2 jam, saya selesai 131 halaman.
Kalau dirata-rata, sekitar 1 menit 1 halaman (atau sekitar 50–70 halaman per jam). Artinya kalau saya bisa luangin 1 jam per hari, buku 300 halaman itu realistis untuk ditamatkan dalam seminggu.
Kuncinya satu: jangan ada distraksi.
Saya tahu hitung-hitungan ini bukan untuk pamer. Ini untuk mengunci keyakinan: target itu masuk akal. Tinggal konsistensi.
Kalau hari ini saya rangkum dalam satu kalimat:
Keputusan dibatasi (A atau B), diskusi diarahkan (balik ke tujuan), dan kebiasaan dibantu sistem (support system).
Tiga hal yang beda, tapi rasanya satu benang merah:
biar kerjaan nggak ngambang, dan hidup nggak cuma jalan “seingatnya”.
Besok lanjut lagi.