Ben Robani Blog

Hari 118: CV Penuh, Arah Kosong

Hari Selasa sore seperti biasa saya sharing dengan anak-anak magang.

Kemarin ada anak magang baru yang ikut di sesi itu, dan dia mengajukan pertanyaan yang menarik. Kurang lebih pertanyaannya begini: sebagai mahasiswa zaman sekarang, banyak yang berlomba-lomba memperbanyak isi CV. Bagaimana melihat fenomena itu?

Pertanyaan ini menarik karena memang cukup sering terjadi. Banyak mahasiswa ikut banyak kegiatan, organisasi, volunteer, magang, lomba, kepanitiaan, pelatihan, sertifikasi, dan berbagai hal lain. Lalu semuanya dimasukkan ke CV.

Pertanyaannya, apakah semakin banyak isi CV berarti semakin baik?

Menurut saya, belum tentu.

Ada tiga pandangan yang saya sampaikan.

1. Mulai dari pekerjaan yang dicari

Hal pertama yang perlu ditanyakan adalah: sebenarnya kita sedang mencari pekerjaan apa?

Kalau kita sudah tahu posisi yang ingin dituju, langkah berikutnya adalah melihat job requirement-nya. Kualifikasi apa yang dicari? Pengalaman apa yang dibutuhkan? Skill apa yang relevan? Portofolio seperti apa yang akan dianggap kuat?

Dari sana baru kita bisa menilai, isi CV yang kita kumpulkan itu relevan atau tidak.

Kalau aktivitas yang kita banyak-banyakkan ternyata tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang ingin dicari, bisa jadi itu hanya membuat CV ramai, tapi tidak membuat kita lebih kuat. Isinya banyak, tapi tidak menjawab kebutuhan posisi.

Menurut saya, CV yang baik bukan yang paling penuh. CV yang baik adalah yang paling bisa menunjukkan bahwa kita cocok dengan pekerjaan yang sedang kita tuju.

Jadi bukan sekadar memperbanyak isi, tapi memperkuat arah.

2. Kalau belum tahu arah, pakai untuk mengenali diri

Hal kedua, bagaimana kalau kita belum tahu mau jadi apa?

Menurut saya, itu tidak apa-apa. Justru di fase mahasiswa, mencoba banyak hal bisa sangat berguna. Tapi tujuannya jangan hanya untuk mengisi CV. Tujuannya adalah untuk mengenali diri.

Coba banyak kegiatan. Rasakan mana yang membuat kita hidup. Mana yang membuat kita senang. Mana yang membuat kita ingin mengulang. Mana yang bahkan tetap kita nikmati meskipun bayarannya kecil, atau bahkan tidak dibayar sama sekali.

Dari sana kita bisa mulai membaca diri sendiri.

Mungkin kita ternyata suka kerja kreatif. Mungkin suka riset. Mungkin suka ngobrol dengan orang. Mungkin suka mengelola acara. Mungkin suka menulis. Mungkin suka analisis data. Mungkin suka membangun sistem.

Kalau belum tahu ingin bekerja di mana, pengalaman yang banyak bisa menjadi bahan refleksi. Tapi kalau hanya dikumpulkan tanpa dipahami, ia cuma jadi daftar panjang yang tidak banyak membantu.

Pengalaman itu baru bernilai kalau kita belajar sesuatu tentang diri kita dari sana.

3. CV kosong pun masih bisa punya jalan

Hal ketiga, bahkan kalau CV kita belum banyak isinya, bukan berarti semuanya selesai.

Ada tempat-tempat yang tidak hanya menilai orang dari CV. Di beberapa bidang kreatif, misalnya, portofolio bisa jauh lebih penting. Di beberapa organisasi atau perusahaan, yang lebih dicari mungkin adalah etos kerja, kemauan belajar, cara berpikir, atau kecocokan dengan kultur tim.

Artinya, CV kosong pun masih bisa punya peluang kalau diarahkan ke tempat yang tepat.

Sebaliknya, CV yang penuh juga tidak otomatis bernilai kalau diberikan ke tempat yang tidak menganggap hal-hal itu penting. Jadi yang paling penting adalah tahu kita sedang menunjukkan diri kepada siapa.

Karena setiap tempat punya cara menilai yang berbeda.

Ada yang butuh dokumen formal. Ada yang butuh bukti karya. Ada yang butuh pengalaman organisasi. Ada yang butuh portofolio. Ada yang lebih melihat attitude dan learning agility.

Maka tugas kita bukan hanya mengisi CV, tapi memahami arena yang ingin kita masuki.

Jangan hanya membuat CV terlihat ramai

Menurut saya, mahasiswa tidak perlu terlalu terjebak pada lomba memperbanyak isi CV.

Yang lebih penting adalah mengenali diri: kita orang yang ingin jadi seperti apa, pekerjaan seperti apa yang ingin kita jalani, dan pengalaman mana yang benar-benar membentuk kita.

Kalau sudah tahu arah, isi CV bisa dibuat lebih tajam. Kalau belum tahu arah, pengalaman yang banyak bisa dipakai untuk mencari tahu diri. Kalau CV masih kosong, kita masih bisa mulai dari portofolio, karya, etos, dan tempat yang memberi ruang untuk bertumbuh.

Karena pada akhirnya, CV hanyalah alat.

Yang lebih penting adalah orang di balik CV itu sedang dibentuk menjadi siapa.

Exit mobile version