Setelah break tiga hari karena belum selesai membaca satu buku, akhirnya hari ini saya bisa melanjutkan kembali misi satu minggu satu buku.
Ini sebenarnya konten hari Minggu. Tapi karena bukunya cukup tebal dan jadwal membaca saya agak mundur, baru hari ini bisa selesai. Buku ke-16 yang saya baca adalah Your Next Five Moves: Master the Art of Business Strategy karya Patrick Bet-David.
Ini mungkin pengalaman pertama saya membaca buku setebal ini dalam waktu sekitar seminggu, apalagi dalam kondisi yang sedang dikejar deadline dan banyak hal lain yang juga harus diselesaikan.
Tapi justru di situ ada pelajarannya juga.
Kadang misi yang kita buat tidak selalu berjalan rapi sesuai jadwal. Ada yang mundur. Ada yang berat. Ada yang bikin ritme berantakan. Tapi kalau tetap diselesaikan, misinya masih hidup.
Dari buku ini, ada tiga hal yang menurut saya menarik.
1. Buku ini sangat praktis
Hal pertama yang saya rasakan, buku ini sangat praktis.
Mungkin karena ditulis oleh orang yang memang menjalankan bisnis, pembahasannya terasa dekat dengan realita. Bukan terlalu banyak teori, tapi lebih banyak tentang apa saja yang perlu dipikirkan ketika membangun dan menjalankan bisnis.
Mulai dari membangun bisnis dari diri sendiri, membentuk perusahaan, menjual, menjaga bisnis tetap berjalan, sampai membaca lawan dan kompetitor. Banyak bagian terasa seperti tips and trick yang sederhana, tapi bisa langsung dipraktikkan.
Menurut saya, ini yang membuat buku ini menarik.
Kadang kita tidak selalu butuh teori yang terlalu tinggi. Kadang yang dibutuhkan justru kerangka yang bisa langsung dipakai untuk memikirkan langkah berikutnya.
2. Jangan hanya berpikir satu langkah
Hal kedua yang paling membekas tentu saja dari ide utama bukunya: jangan hanya berpikir satu langkah ke depan.
Dalam bisnis, kalau kita hanya memikirkan hal yang paling dekat, paling instan, atau paling mudah dijangkau, kita bisa cepat reaktif. Kita bergerak karena keadaan hari ini, bukan karena arah jangka panjang yang sudah kita bayangkan.
Buku ini mengajak kita untuk berpikir beberapa langkah ke depan. Dalam konteks judulnya, lima langkah berikutnya.
Menurut saya, ini penting. Karena banyak keputusan bisnis tidak bisa dinilai hanya dari hasil langsungnya. Ada keputusan yang hari ini terlihat kecil, tapi menentukan ruang gerak kita beberapa bulan ke depan. Ada juga keputusan yang terlihat menguntungkan sekarang, tapi membuat kita terjebak nanti.
Maka kemampuan membaca langkah berikutnya jadi sangat penting.
Bukan cuma bertanya, “apa yang harus saya lakukan sekarang?” Tapi juga, “kalau saya melakukan ini, langkah kedua, ketiga, keempat, dan kelimanya akan seperti apa?”
3. Buku praktisi punya rasa yang berbeda
Hal ketiga, saya jadi merasa bahwa buku yang ditulis oleh praktisi memang punya rasa yang berbeda.
Buku bisnis itu banyak jenisnya. Ada yang ditulis oleh peneliti. Ada yang ditulis oleh penulis yang mengikuti kehidupan pebisnis. Ada juga yang ditulis langsung oleh pelaku bisnisnya sendiri.
Ketika yang menulis adalah pelakunya langsung, apalagi dengan sudut pandang orang pertama, rasanya memang berbeda. Ada pengalaman yang terasa lebih hidup. Ada kasus yang lebih membumi. Ada pembelajaran yang datang dari benturan langsung, bukan hanya dari pengamatan.
Tentu bukan berarti buku praktisi selalu lebih benar. Tapi buku seperti ini memberi sesuatu yang khas: cerita dari orang yang benar-benar pernah mengambil risiko, membuat keputusan, menghadapi kompetisi, dan melihat konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Buat saya, itu membuat pelajarannya terasa lebih dekat untuk dipikirkan dan dipraktikkan.
Buku tebal butuh komitmen
Buku ini termasuk salah satu buku yang cukup berat untuk ritme membaca mingguan saya.
Halamannya banyak, pembahasannya padat, dan butuh energi lebih untuk menuntaskannya. Tapi setelah selesai, saya justru merasa bahwa buku tebal seperti ini mengajarkan satu hal tambahan: membaca juga butuh strategi.
Kalau bukunya lebih tebal, komitmennya juga harus lebih besar. Waktunya harus lebih rapi. Ritmenya harus lebih dijaga. Tidak bisa hanya mengandalkan sisa waktu.
Dan mungkin itu juga bagian dari misi satu minggu satu buku ini.
Bukan hanya soal berapa banyak buku yang selesai, tapi bagaimana saya belajar mengatur diri agar tetap bisa menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai.