Hari ini saya diskusi tentang penerapan KPI dan perasaan overthinking yang muncul ketika ada ukuran-ukuran kerja.
Saya paham perasaannya. Begitu sesuatu diberi angka, standar, target, atau ukuran, rasanya jadi lebih serius. Ada rasa diawasi. Ada rasa takut tidak cukup. Ada rasa khawatir kalau kontribusi kita ternyata tidak sebesar yang diharapkan.
Tapi di sisi lain, kita juga tahu bahwa ukuran itu penting.
Kalau tidak ada ukuran, kita tidak tahu apakah sedang maju atau diam di tempat. Kalau tidak ada standar, kita sulit tahu mana yang perlu diperbaiki. Kalau tidak ada target, energi kerja bisa tersebar ke mana-mana tanpa arah yang jelas.
Dari diskusi hari ini, ada tiga hal yang saya dapatkan.
1. Overthinking bisa jadi bumerang
Perasaan overthinking bisa menjadi bumerang kalau tidak dikelola dengan baik.
Kadang kita merasa harus bertanggung jawab atas terlalu banyak hal. Kita merasa harus menggerakkan sesuatu yang besar, harus memastikan semua berdampak, harus bisa mengubah keadaan, padahal kapasitas dan mandat yang diberikan ke kita sebenarnya tidak sampai sejauh itu.
Akhirnya kita drop sendiri.
Kita merasa kurang bergerak, merasa pengaruh kita kurang, merasa beban terlalu berat, padahal yang paling penting adalah mengerjakan mandat yang memang dipercayakan kepada kita dengan cukup baik.
Menurut saya, ini penting untuk diingat.
Bertanggung jawab itu baik. Tapi merasa bertanggung jawab atas semua hal yang tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita justru bisa melelahkan.
2. Fokus pada yang bisa dilakukan
Hal kedua, stres sering muncul karena kita belum memahami apa yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk menghasilkan kontribusi yang signifikan.
Ketika kita tidak tahu tindakan mana yang benar-benar berpengaruh, kita jadi mudah cemas. Kita merasa sudah bergerak, tapi tidak yakin apakah gerakan itu berarti. Kita merasa bekerja, tapi belum yakin apakah kerja itu cukup berdampak.
Tapi mungkin memang tugas kita bukan langsung menemukan jawaban yang pasti sejak awal.
Tugas kita adalah terus mencoba, terus berada di jalurnya, dan terus memperbaiki cara kerja. Hasil kadang tidak langsung terlihat. Dampak kadang butuh waktu. Dan tidak semua faktor ada dalam kontrol kita.
Kalau kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal di luar kontrol, tekanan akan terasa makin besar.
Maka yang paling sehat adalah kembali ke pertanyaan sederhana: apa yang bisa saya lakukan hari ini dengan lebih baik?
3. Ukuran itu seperti timbangan
Saya jadi teringat analogi tentang orang diet yang takut melihat timbangan.
Kenapa orang takut menimbang badan? Sering kali bukan karena timbangannya jahat. Tapi karena di dalam hati, dia tahu bahwa perilakunya belum sesuai dengan tujuan dietnya.
Mungkin makannya belum dijaga. Mungkin olahraganya belum konsisten. Mungkin pola tidurnya belum benar. Akhirnya ketika melihat timbangan, yang muncul bukan data, tapi rasa takut.
Menurut saya, target dan KPI juga bisa terasa seperti itu.
Kalau kita takut pada target, takut pada ukuran, atau takut pada standar, mungkin yang perlu dicek bukan hanya angkanya. Tapi juga perilaku kita menuju angka itu.
Kalau perilakunya sudah benar, ukuran akan terasa lebih netral. Ia menjadi alat bantu, bukan ancaman. Ia memberi tahu kita sedang di mana, bukan menghukum kita sebagai manusia.
Timbangan tidak membuat kita gemuk atau kurus. Ia hanya menunjukkan kondisi.
Begitu juga KPI. Ia tidak otomatis membuat kita gagal. Ia hanya membantu memperlihatkan apakah cara kerja kita sudah mendekati tujuan atau belum.
Ukuran harus membantu, bukan menakuti
Refleksi hari ini membuat saya berpikir bahwa yang perlu dibenahi bukan hanya KPI-nya, tapi juga cara kita memandang ukuran.
Ukuran seharusnya membantu kita melihat progres. Membantu kita tahu apa yang kurang. Membantu kita memilih tindakan yang lebih tepat. Bukan membuat kita lumpuh karena takut.
Tentu ukuran harus adil, masuk akal, dan sesuai mandat. Tapi setelah itu, tugas kita bukan memusuhi ukurannya.
Tugas kita adalah menjaga perilakunya.
Kalau kita sudah tahu tanggung jawab kita apa, lalu kita mengerjakan bagian kita dengan sebaik mungkin, ukuran tidak perlu ditakuti berlebihan. Ia cukup dibaca sebagai kompas.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita berkembang bukan cuma angka di dashboard.
Tapi keberanian untuk melihat angka itu, lalu memperbaiki cara berjalan kita setelahnya.