Ben Robani Blog

Hari 107: Belajar dari Cara Petani

Hari ini saya bertemu dengan orang tua saya yang seorang petani. Dari obrolan itu, saya jadi mendengar lagi bagaimana cara beliau melihat tanaman, memilih apa yang ditanam, dan mempertimbangkan untung-ruginya.

Yang menarik, cara berpikirnya ternyata sangat praktis, sangat nyata, dan sangat bisa direfleksikan ke kehidupan lain. Bahkan buat saya yang bukan petani, banyak pelajaran yang terasa relevan sekali.

Ada tiga hal yang paling membekas dari obrolan itu.

1. Selalu hitung effort-nya

Hal pertama yang saya tangkap adalah bahwa petani tidak hanya berpikir soal menanam apa yang terlihat bagus. Yang dihitung justru effort-nya.

Apakah tanaman ini butuh tenaga besar?
Apakah butuh biaya lebih banyak?
Apakah perlu persiapan lahan yang rumit?
Apakah nanti harus sering dipupuk, dibersihkan, atau dirawat secara intens?

Kalau effort-nya terlalu besar, sementara hasilnya belum tentu sebanding, tentu itu jadi pertimbangan besar. Makanya yang sering dipilih justru tanaman yang secara perawatan lebih masuk akal, tidak terlalu menguras tenaga, dan tidak terlalu berat dijaga setiap saat.

Menurut saya ini menarik. Karena dalam hidup juga sering begitu. Kadang kita tertarik pada sesuatu hanya karena terlihat keren, terlihat besar, atau terdengar menjanjikan. Padahal kalau dihitung effort-nya, belum tentu itu pilihan yang paling sehat.

Jadi kadang keputusan yang bijak bukan soal memilih yang paling wah, tapi memilih yang paling sustain untuk dijalani.

2. Jangan cuma lihat hasil, lihat juga pasarnya

Hal kedua adalah soal penjualan.

Dalam bertani, ternyata tidak cukup hanya berpikir “ini bisa ditanam” atau “ini bisa dipanen”. Tetap harus dipikirkan: nanti ini laku atau tidak? Pasarnya bagaimana? Orang sekitar tanam apa? Harga sedang bagaimana? Biaya yang keluar sudah berapa?

Karena bisa saja tanamannya berhasil. Panennya jadi. Tapi kalau semua orang panen hal yang sama di waktu yang sama, harganya turun. Kalau biaya yang sudah keluar terlalu besar, hasilnya tetap rugi. Bahkan sampai ada cerita petani yang memilih membuang hasil panennya karena dijual pun sudah tidak masuk hitungan.

Buat saya ini juga sangat relevan. Kadang kita terlalu fokus pada kemampuan membuat sesuatu, tapi kurang memikirkan apakah sesuatu itu benar-benar punya ruang di pasar. Padahal kerja keras saja tidak cukup. Tetap harus ada akal sehat untuk melihat apakah ini menghasilkan, apakah ini worth it, dan apakah waktunya tepat.

3. Petani mengajarkan sabar

Hal ketiga yang paling terasa adalah soal waktu.

Bekerja di banyak bidang sering membuat kita ingin hasil cepat. Hari ini kerja, hari ini ada hasilnya. Hari ini usaha, besok sudah ingin terlihat dampaknya. Tapi bertani mengajarkan sudut pandang yang lain.

Apa yang ditanam hari ini belum tentu bisa langsung dipanen besok.

Ada proses menunggu. Ada masa tumbuh. Ada ketidakpastian. Ada kemungkinan hasilnya baik, ada juga kemungkinan hasilnya kurang dari harapan. Semua itu tetap harus diterima sebagai bagian dari proses.

Menurut saya, mungkin di situlah letak pelajaran besar dari petani. Pekerjaan ini bukan untuk semua orang, karena butuh kesabaran yang tidak kecil. Tapi justru karena itu, ada wisdom yang bisa kita ambil.

Kadang dalam hidup, kita juga sedang menanam. Dan tidak semua yang kita tanam akan langsung menunjukkan hasil.

Yang bisa dibawa ke hidup kita

Saya merasa obrolan hari ini jadi pengingat pribadi buat saya.

Sebagai anak petani yang tidak menjadi petani, saya tetap merasa cara berpikirnya sangat berguna. Bahwa dalam banyak hal, kita memang perlu menghitung effort. Kita perlu menilai apakah sesuatu itu benar-benar bisa menghasilkan. Dan kita juga perlu sabar menjalani proses, meskipun hasilnya belum langsung kelihatan.

Karena ternyata, konsep bertani bukan cuma soal sawah atau kebun.

Tapi juga soal cara melihat hidup.

Exit mobile version