Hari ini sebenarnya tulisan ini sempat kelewat satu hari karena kemarin saya ketiduran. Tapi justru dari ritme yang agak berantakan itu, saya kepikiran satu hal tentang dunia kerja: tidak semua orang yang sudah diterima kerja benar-benar siap jadi karyawan.
Maksud saya bukan soal kemampuan teknis dulu. Bukan cuma soal bisa mengerjakan tugas atau tidak. Tapi soal kesiapan mental untuk masuk ke sebuah sistem, punya atasan, punya tanggung jawab, punya ritme, dan menerima bahwa kerja itu tidak selalu berjalan sesuai maunya kita.
Kadang ada orang yang sudah masuk kerja, tapi masih berharap semuanya mengikuti kenyamanannya sendiri. Padahal statusnya sudah karyawan. Artinya, ada struktur, ada ekspektasi, ada tugas, dan ada realita yang tidak selalu bisa dinegosiasikan.
Dari situ, ada tiga hal yang menurut saya penting.
1. Kenali diri dan tempat kerjanya
Hal pertama, pastikan kita tahu diri kita seperti apa, lalu pahami juga tempat kerja kita seperti apa.
Kadang masalahnya bukan semata-mata orangnya buruk atau perusahaannya buruk. Bisa jadi hanya tidak cocok. Ada orang yang butuh ritme tenang, tapi masuk ke tempat yang serba cepat. Ada orang yang sulit adaptasi mendadak, tapi masuk ke lingkungan yang menuntut perubahan cepat. Ada orang yang butuh arahan detail, tapi masuk ke sistem yang menuntut inisiatif tinggi.
Kalau dari awal kita asal ambil kerja tanpa membaca medan, ujungnya kita kaget sendiri. Hari-hari kerja berubah jadi penuh drama, penuh keluhan, penuh rasa “kok begini sih”, padahal mungkin tempat itu memang dari awal sudah seperti itu.
Karena itu, sebelum terlalu jauh, penting sekali untuk mengenali dua hal: saya orang seperti apa, dan tempat ini bekerja dengan cara seperti apa.
2. Jangan hidup di versi ideal
Hal kedua, kadang kita terlalu sibuk membayangkan kondisi kerja yang ideal.
Kita ingin atasan yang selalu enak. Kita ingin tim yang komunikasinya pas. Kita ingin tugas yang semuanya cocok. Kita ingin ritme kerja yang sesuai mood. Kita ingin lingkungan yang nyamannya tinggi dan gesekannya rendah.
Padahal namanya jadi karyawan ya ada realita yang memang harus diterima.
Kita akan disuruh. Kita akan dimintai tolong. Kita akan diminta bertanggung jawab. Kita akan ketemu orang dengan gaya komunikasi berbeda. Kita akan menjalani hal-hal yang tidak semuanya kita suka. Dan itu normal.
Bukan berarti semua keadaan harus ditoleransi tanpa batas. Tapi ada perbedaan antara kondisi yang memang toxic dan kondisi yang hanya tidak seideal bayangan kita. Kadang orang belum siap kerja karena terlalu sibuk mengejar dunia ideal, sampai lupa bahwa dunia kerja memang selalu punya sisi yang tidak nyaman.
3. Ingat nilai besar kita
Hal ketiga, saat jadi karyawan kita perlu ingat lagi: sebenarnya kita bekerja untuk apa?
Kalau yang dicari adalah uang, ya sadar bahwa itu tujuan utamanya. Kalau yang dicari adalah pengalaman, ya lihat itu sebagai nilai besarnya. Kalau yang dicari adalah pijakan karier, ya ukur dari sana. Kalau yang dicari adalah belajar, ya fokus ke proses belajarnya.
Karena kalau tujuan besarnya tidak jelas, kita akan gampang kehabisan tenaga hanya karena gangguan-gangguan kecil. Hal minor jadi terasa besar. Hal teknis jadi terasa personal. Ketidaknyamanan kecil terasa seperti alasan untuk menyerah.
Padahal kalau kita ingat nilai besar yang sedang kita kejar, banyak hal lain bisa diletakkan di proporsinya. Bukan diabaikan, tapi tidak dibesarkan melebihi tujuan utamanya.
Menurut saya, ini penting. Karena kalau kita ingin semua hal serba nyaman, serba cocok, serba menyenangkan, bisa-bisa kita lupa bahwa bekerja itu memang bagian dari pilihan hidup yang menuntut konsekuensi.
Siap bekerja, bukan cuma siap diterima
Buat saya, mencari kerja dan siap bekerja itu dua hal yang berbeda.
Banyak orang siap melamar. Banyak orang siap interview. Banyak orang siap diterima. Tapi belum tentu siap menjalani realita setelah resmi bekerja.
Karena itu, buat teman-teman yang sedang atau akan bekerja, pahami kondisi diri kalian. Pahami juga tempat kerja kalian. Supaya yang dibangun bukan cuma harapan masuk kerja, tapi kesiapan menjalaninya.
Karena kadang masalah terbesar bukan pekerjaan itu sendiri.
Tapi benturan antara bayangan kita dan kenyataan yang ada.